Memakmurkan Masjid Lewat Peduli Dampak Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Masjid sebagai pusat ibadah sosial dapat tetap beraktivitas dan berpartisipasi dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19.

Di saat situasi pandemik Covid-19 banyak masjid yang menghentikan aktivitasnya, seperti shalat Jumat diganti shalat zuhur, pengajian – TPA – TPQ ditiadakan. Demikian juga kultum menjelang buka, shalat tarwih berjamaah, kegiatan tilawah/tadarus Al Qur’an, kuliah subuh, peringatan Nuzulul Qur’an dan takbir serta shalat Idul Fitri ditiadakan. Bahkan shalat wajib lima waktu pun banyak juga yang meniadakan berjamaah di masjid.

Saking takutnya, entah dengan covid-19 atau maklumat/himbauan ada sejumlah masjid yang mengunci rapat-rapat. Itupun belum cukup masih ditambahi tulisan macam-macam yang terkesan menakutkan. Saking takutnya, ada masjid yang mengumandangkan adzan di luar masjid, kemudian setelah selesai adzan pulang. Katanya sebagai penanda masuk waktu shalat, sedang ibadah salat diserahkan kepada masing-masing jamaah. Tentu tidak di masjid. Sampai kapan? Belum ada kabar sampai kapan berakhir. Yang jelas Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mempertanyakan sikap pemerintah yang melarang penduduk berkumpul di masjid, tetapi tidak tegas melarang orang-orang yang berkumpul di bandara, tempat perbelanjaan hingga perkantoran saat pandemi virus corona (Covid-19). Kondisi seperti ini terkesan tidak maksimal dalam usaha memutus mata rantai penyebaran virus corona.

Kalau kita cermati terkait larangan berkumpulnya di masjid atau tempat ibadah (habluminallah) dan longgarnya di tempat lain yaitu tempat non ibadah (habluminannas), maka ada yang sangat penting yang perlu kita bangun dalam memfungsikan masjid, adalah memakmurkan masjid secara ritual (habluminallah) dan aktual (habluminannas). Dengan cara seperti ini maka masjid tetap aktif meski kegiatan ibadah ritual dikurangi atau bahkan ditiadakan saat pandemi Covid-19, sehingga masjid tidak perlu digembok rapat apalagi ada tulisan yang isinya menakutkan. Kalau biasanya kita memakmurkan masjid dengan ramai ke masjid, buka bersama, sholat tarawih, tadarus, i’tikaf, kultum subuh dan ini adalah kegiatan ritual, ibadah individual. Maka kali ini kita memakmurkan masjidnya dalam bentuk menfungsikan masjid dalam bentuk fungsi sosial seperti sedekah, menyalurkan bantuan sosial berupa sembako pada terdampak covid-19 dan ini adalah bentuk kegiatan aktual, ibadah sosial. Bukankah keutamaan dalam Ramadhan diantaranya berbagi atau sedekah. Dan berbagi/sedekah yang paling utama adalah di bulan Ramadhan. Apalagi bersedekah adalah salah satu penyelesaian langit dalam menolak balak. Diriwayatkan dari Asma’ radhiyallahu ‘anha ia berkata,

Aku bertanya,” Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai harta selain yang diberikan Zubair kepadaku,  apakah aku boleh menshodaqohkannya? “Beliau menjawab : “Bershodaqohlah dan janganlah engkau terlalu memperhatikannya,  niscaya Allah akan memperhatikan dirimu” (diriwayatkan oleh Bukhari)

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan “Sesungguhnya shodaqoh bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa),  dholim,  atau bahkan orang kafir, Karena Allah subhaanahu wa ta’ala Akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shodaqoh tersebut. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi umat manusia, baik yang berpendidikan maupun orang yang masih awam. Seluruh penduduk muka bumi sepakat tentang hal ini karena mereka telah mencobanya. (lihat al-Wabilu  sh -shoyib,  karya Ibnul Qoyyim (1/49).

Berbagi/bersedekah bisa dilakukan oleh takmir dengan mengumpulkan sejumlah donatur bisa uang bisa barang/sembako, kemudian diujudkan dalam bentuk sembako, syukur bisa ditambah dengan sejumlah uang diberikan kepada mereka yang betul-betul terdampak Covid-19. Jadi masjid sebagai pusat ibadah sosial tetap beraktivitas dan berpartisipasi dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19. Contoh, Masjid Masyfa Simpang Lima Karangnongko Wates melaksanakan program bantuan sosial kemanusiaan atau berbagi guna mendukung upaya pencegahan dan penanganan dampak pandemi Covid-19 pada hari Sabtu,  23 Ramadhan 1441 H bertepatan dengan 16 Mei 2020 M, jam 15.30 WIB dan berpusat di Masjid Masyfa.

Bantuan ini dilaksanakan melalui gerakan kepedulian sosial untuk keluarga sekitar masjid Masyfa yang terdampak pandemik Covid-19. Gerakan kepedulian sosial ini digiatkan oleh Kelompok Pengajian Ibu-Ibu Masjid Masyfa dengan koordinator Ibu Giyati, Gerakan Shadaqah Jumat Siang yang dikomandani dr. Moerlani Dahlan, dan dilaksanakan oleh Remaja Masjid Masyfa dengan dimotori sdr Wildan. Wujud bantuan adalah berupa sembako.

Sistem berbagi dilakukan dengan mengunjungi keluarga terdampak dari rumah ke rumah. Ini dilakukan untuk menghindari berkumpulnya masa dalam jumlah banyak, dan sesuai dengan protokol kesehatan dari pemerintah dalam menanggulangi pendemi Covid-19. Di samping itu, cara berbagi dengan mengunjungi keluarga di rumah-rumah adalah cara yang dituntunkan dalam ajaran Islam.

Manfaat dan pembelajaran yang diperoleh adalah antara lain dapat silaturahmi ke tetangga, melihat kondisi keseharian, tilik/ngaruhke tonggo, menjalin komunikasi kesetaraan, menambah banyak teman dan relasi, dan menumbuhkan jiwa persatuan dan semangat tolong menolong.  Memang cara demikian lebih lama dan membutuhkan tenaga yang lebih, karena itu pelaksanaan diserahkan kepada remaja Masjid, agar remaja masjid mendapatkan pembelajaran dan pendidikan di samping tentu saja mendapatkan amal ibadah yang akan diganjar oleh Allah SWT. Bukankah begitu?!

Dr. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si.

Dr. R. Wakhid Akhdinirwanto, M.Si.

Dosen Pendidikan Fisika, FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo. Ketua takmir Masjid Masyfa Simpang Lima Wates (Proliman) Kulon Progo.

Terbaru

Ikuti