Ditulis oleh 9:53 am COVID-19

Memaknai Pandemi Covid-19 Sebagai Tonggak Mewujudkan Pendidikan yang Mengasah Kepekaan Sosial

Selama pandemi Covid-19 tersedia ruang tehadap pola pendidkan interaktif yang dapat merangsang kepekaan sosial peserta didik.

Indonesia yang merupakan salah satu bagian dari negara  Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dapat dikatakan sebagai negara yang tidak lagi muda. Indonesia yang memasuki usia ke-75 tahun pada tahun 2020 masih menyimpan persoalan yang belum terselesaikan sampai sekarang. Salah satu persoalannya yakni tentang dunia pendidikan di negeri ini. Persoalan bangsa Indonesia yakni bagaimana masyarakat Indonesia dapat memperoleh pendidikan yang layak serta dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia sesuai dengan amanat UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini menjadi salah satu hal tanggung jawab pemerintah Indonesia supaya mewujudkan sistem pendidikan di negeri ini lebih maju dan dapat dinikmati untuk semua lapisan masyarakat Indonesia.

Pada tahun 2019, UNESCO merilis Indeks Pendidikan di seluruh dunia termasuk untuk negara ASEAN. Dari 10 Negara ASEAN, negara Indonesia menduduki peringkat 5. Posisi pertama Singapura dengan skors 0,768, Brunei Darussalam dengan nilai indeks pendidikan 0,692, Malaysia dengan skors 0,671, Thailand skors 0.60, Indonesia dengan skors 0,603, Filipina dengan skors 0,610, Vietnam dengan skors 0,513, Kamboja dengan skors 0,495, Laos dan Myanmar memiliki skors rendah hanya sekitar 0,371.

Berdasarkan data di atas tentunya Indonesia harus segera mengevaluasi tentang pola serta sistem pendidikan yang lebih efiesen serta dapat berjalan dengan tuntutan zaman. Selama ini pola pendidikan Indonesia masih dapat dikatakan berorientasi pada nilai akhir dengan segudang materi pelajaran yang harus dihapal dan latihan soal yang harus diselesaikan. Belum lagi bagaimana peserta didik harus menguasai berbagai materi pelajaran di setiap semesternya. Tentu saja peserta didik dituntut untuk mampu mendapatkan nilai dari berbagai materi pelajaran itu dengan berbagai target yang sangat tinggi, tak peduli melalui proses yang baik maupun dengan berbagai cara untuk mendapatkan nilai itu. Dapat dikatakan proses pendidikan di negeri ini cenderung berorientasi nilai kauntitatif dengan melihat hasil belajar berdasarkan nilai rapot, nilai ujian akhir semata tanpa menggali kemampuan peserta didik berproses menjadi sosok yang memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial saat belajar baik di sekolah maupun di masyarakat.

Pola pendidikan Indonesia masih dapat dikatakan berorientasi pada nilai akhir dengan segudang materi pelajaran yang harus dihapal dan latihan soal.

Pendidikan Indonesia harus segera melaju dan bergegas mengatasi persoalan ini, termasuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi sebagai media pembelajaran. Terlebih lagi menghadapi era revolusi industri 4.0. Pada bidang pendidikan perlu memiliki revolusi serta pembaharuan sistem untuk dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menghadapi era globalisasi. Tentu saja hal ini harus segera dipelajari serta dipahami oleh pemangku kebijakan supaya mampu menyesuaikan diri menghadapi era globalisasi dalam dunia pendidikan. Apalagi peserta didik yang notabene generasi muda dengan sebutan populernya sebagai generasi milenial atau anak Generasi Z yang sangat cepat mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi, internet, sosial media, dan tentu saja berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran. Hal ini dulunya tidak terpikirkan oleh sebagian orang, apalagi sebagian guru masih cenderung memilih untuk mencari aman dengan menggunakan pola pengajaran dengan metode konvensionalnya. 

Dengan demikian proses belajar atau pembelajaran akan memasuki tingkat paling luar biasa apabila mampu mengaktualisasikan learn to life together bukan hanya sekedar how to know to, to do atau to be saja. sepertinya dengan adanya kemajuan teknologi ini semua proses pembelajaran itu dapat dibuat dengan berbagai cara metode implementasi yang dapat diterapkan serta menggali potensi para peserta didik dalam memperoleh atau melaksanakan proses pembelajaran menuju dunia industri era 4.0.

Proses belajar atau pembelajaran akan memasuki tingkat paling luar biasa apabila mampu mengaktualisasikan learn to life together bukan hanya sekedar how to know to, to do atau to be saja.

Seperti yang di kemukakan oleh sosiolog yang menulis esai yang berjudul “The Problem of Generation” dengan mengenalkan teori tentang generasi. Teori ini membagi berbagai kelompok generasi sesuai dengan kelahiran serta zamannya, terdapat beberapa generasi yakni Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias generasi Milenial dan Generasi Z. Generasi Z ini merupakan generasi yang lahir pada tahun 1995 hingga tahun 2014 keatas, Hal ini menjadi salah satu alasan bahwa anak-anak atau sering disebut sebagai generasi Z merupakan generasi yang sangat siap untuk menghadapai industri era 4.0 yang dapat memahami kemajuan zaman dengan teknologi serta kemajuan internet.

Seperti yang terjadi saat ini, dimana seluruh dunia sedang mengalami persoalan pandemi Corona Virus Diseases (COVID-19) yang hampir menggantikan pola sistem pendidikan yang biasanya luar jaringan menjadi dalam jaringan. Tentunya di era globalisasi ini kita sadar betul bahwa pola pendidikan yang selama ini ada harus segera berubah karena tuntutan zaman yang semakin maju dan semakin pesat. Pandemi ini membawa hikmah dengan memberikan aksi nyata insan pendidikan mengasah kepekaan sosial dengan bekal ilmu yang dimilikinya. Bagi dunia pendidikan, khususnya para peserta didik untuk dapat memahami bahwa interaksi sosial, rasa empati, dan apresiasi perlu ditingkatkan. 

Sebagai contoh pemberian donasi dari berbagai masyarakat dari lapisan golongan masyarakat dengan berbagai latar belakang sosialnya rela memberikan donasi untuk saling membantu masyarakat menghadapi pandemi ini. Bahkan tidak sedikit mereka membuat kampanye sosial yang memberikan edukasi tentang mencegah dan melawan covid-19, mengajak masyarakat untuk saling memberikan bantuan, dan penggalangan dana. Kampanye ini mereka lalukan lewat media sosial seperti instagram, twitter, whatsapp, tiktok, youtube. Tentunya hal ini sebagai bukti bahwa pola pendidikan yang dinamis serta mampu beradaptasi kemajuan zaman dapat menjadi peluang bagi generasi Z untuk mampu show up di depan publik dengan kemampuan dan minatnya masing-masing sesuai kebutuhan yang kontekstual.

Beberapa contoh lain seperti yang dilakukan oleh para siswa SMKN 3 dan SMKN 1 Kudus dengan mengasah rasa simpati dan empatinya dengan membuat Alat Pelindung Diri (APD) yang dibuat sendiri dari hasil praktek dari Jurusan Tata Busana denagn bimbingan guru sekolahnya. Proses belajar ini mampu memadukan praktek kejuruan sekaligus mempu berpartisipasi sebagai bentuk kepedulian dalam kemanusiaan. Contoh lain seperti disinfektan karya anak sekolah, wastafel otomatis, dan lain sebagainya. Selain itu, sebagai bagian tanggung jawab dalam lingkungan sekitar pemuda yang sebagian besar masih berstatus sebagai pelajar giat melakukan ronda, menjadi relawan penyemprotan desinfektan ke berbagai rumah penduduk sebagai wujud tanggung jawab sosial dan semangat gotong royong. Proses inilah yang selama ini tidak dapat dipelajari dan didapatkan di dalam ruangan kelas. Mestinya, proses pendidikan melahirkan aksi-aksi nyata, produk nyata generasi yang peduli dan bermanfaat bagi kemanusiaan. 

Dari berbagai hikmah yang dapat diambil dari pandemi Covid-19 bagaimana sistem pendidikan memberikan ruang yang lebih luas pada pola pendidkan interaktif dan merangsang kepekaan sosial peserta didik dalam memahami proses pendidikan. Proses belajar di luar kelas merupakan inovasi serta terobosan baru dengan mengadopsi konsep service learning dalam proses pembelajarannya. Metode ini dapat merangsang potensi serta skill peserta didik yang selama ini belum terfasilitasi karena konsen pada beban tugas akademis dan terkungkung dalam proses pembelajaran yang berorientasi nilai kuantitafif semata. 

Proses belajar di luar kelas merupakan inovasi serta terobosan baru dengan mengadopsi konsep service learning dalam proses pembelajarannya.

Tentu sangat mendukung kebijakan pendidikan yang berorientasi pada proses dan kebermanfaatn kepada kemanusian. Termasuk salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah lewat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan menghapus Ujian Nasional (UN) yang selama ini bagaikan momok menakutkan. Hal ini mampu memberikan warna baru pada sistem pendidikan, bahwa tolak ukur keberhasilan sistem pendidikan Indonesia tidak lagi diukur berdasarkan nilai kuantitatif semata. Melalui slogan “Merdeka Belajar” bagaikan angin segar bagi para civitas akademika untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, dan semoga potensi tersebut mampu memberikan kemanfaatan bagi kehidupan manusia yang lebih baik. Mengutip istilah Jacoby (2009) proses ini biasa disebut dengan civic engagement yangmerupakan suatu partisipasi warga negara secara individual ataupun kolektif di kehidupan bermasyarakat berdasarkan keterampilan, keahlian, pengetahuan, yang berkombinasi dengan nilai-nilai, motivasi dan komitmen untuk melakukan perubahan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik. 

(Visited 350 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 19 Mei 2020
Close