31.8 C
Yogyakarta
25 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Memanfaatkan Momentum Belajar Dari Rumah Untuk Membangun Persahabatan Dengan Anak

Oleh: Dra. Anis Farikhatin, M.Pd.

Pandemi COVID-19 yang menyebar hampir di seluruh dunia telah melahirkan berbagai kebijakan di masing-masing negara untuk mengambil langkah antisipasi agar wabah tidak semakin meluas. Kebijakan social distancing yang mulai berlaku di Indonesia sebulan yang lalu,  menuntut dukungan seluruh lapisan masyarakat untuk meminimalkan aktivitas keluar rumah, menjaga jarak dan bekerja dari rumah (work from home).

Sekolah dan kampuspun menyesuaikan dengan menerapkan  pembelajaran dari rumah melalui online.  Bagi para guru dan orang tua yang putra-putrinya berada dilevel pra-sekolah maupun pendidikan dasar, tentu membutuhkan kesiapan ekstra karena diantara mereka harus ada sinergitas dalam melakukan pendampingan proses belajar putra putrinya. Kesiapan itu dibutuhkan agar pembelajaran di rumah tidak terjebak pada rutinitas tugas yang kognitif oriented sehingga dirasakan berat dan membosankan. Pembelajaran dari rumah yang berlangsung cukup lama ini, idealnya memang harus dikemas sedemikian rupa sehingga variatif kreatif dengan mengkombinasikan dimensi afektif dan psychomotoris. Dengan demikian pembelajaran di rumah menjadi asyik,  menyenangkan dan bermakna.

Berbagai keluhan yang muncul dari para orang tua yang merasa terbebani oleh tugas sekolah anaknya tidak seharusnya muncul, jika saja para orang tua sadar bahwa ditangannyalah tanggung jawab mendidik anaknya yang utama. Dengan demikian orang tua bisa bersikap lebih positif dan proaktif dengan melengkapi dimensi lain yang dibutuhkan si anak yang belum sepenuhnya diberikan oleh gurunya di sekolah.  Salah satu aspek penting yang dibutuhkan anak dalam proses tumbuh-kembangnya adalah pemenuhan kecerdasan sosial emosional.  

Pengembangan kecerdasan sosial emosional bagi anak menjadi penting karena dua hal. Pertama, kecerdasan sosial emosional tidak dimiliki anak secara alami sehingga harus ditumbuhkan dan dikembangkan oleh orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya di rumah. Kedua, ia tidak bisa diperoleh secara instan. Butuh proses yang terus menerus dan berkelanjutan melalui berbagai cara dan media. Proses ini dibutuhkan agar kepekaannya terasah untuk bisa memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, mampu berlatih mengendalikan emosinya serta memahami batas etika yang ada di tengah masyarakat dimana ia hidup di dalamnya.

Kecerdasan sosial emosional tidak dimiliki anak secara alami sehingga harus ditumbuhkan dan dikembangkan oleh orang-orang di sekitarnya, terutama orang tuanya di rumah.

Perkembangan sosial anak terkait dengan proses dimana anak mengembangkan ketrampilan interpersonalnya, belajar menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya tentang orang di luar dirinya, juga penalaran moral dan perilaku. Perkembangan emosional terkait dengan kemampuan anak dalam memahami, mengekspresikan dan mengendalikan emosinya. Dengan demikian mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak berarti mengantarkan anak agar kelak mereka mampu menjalani kehidupan sosialnya sesuai dengan norma dan etika yang berlaku.

Membangun persahabatan dengan anak merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kecerdasan sosial emosional. Barangkali selama ini orang tua sibuk dengan rutinitas kerja sehingga anak- anak hanya mendapat waktu sisa. Anak-anak lebih akrab dengan televisi, gaget atau video game-nya daripada dengan orang tuannya. Tidak sedikit juga orang tua yang lebih mementingkan kecukupan materi sehingga abai terhadap pemenuhan kebutuhan mental dan sosial emosionalnya. Atau mungkin merasa sudah cukup memberikan pendidikan anaknya dengan mengirimkan mereka ke sekolah. Momentum belajar dari rumah ini kiranya bisa menjadi kesempatan berharga bagi para orang tua untuk membangun kedekatan dan persahabatan dengan anak.

Membangun persahabatan dengan anak merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kecerdasan sosial emosional.

Ada banyak tips dari para pakar pendidikan anak yang bisa diterapkan oleh para orang tua untuk membangun persahabatan dengan anak yang terangkum dalam 6 (enam) hal:

1. Mulai dari orangtua sebagai figur teladan.

Anak belajar dari kehidupannya. Ia belajar dari apa yang ia lihat dan alami dalam proses interaksi dan komunikasinya bersama orang- orang di sekelilingnya. Ia adalah pemerhati dan peniru yang ulung. Itulah sebabnya langkah awal yang harus dilakukan oleh orang tua adalah meunjukkan kepada anak melalui praktek kehidupan sehari-hari bahwa ayah dan ibunya adalah teamwork yang kuat dan saling mendukung. Anak-anak menyaksikan sekaligus merasakan bahwa orang tuanya adalah sepasang sahabat yang hangat dan kompak. Bukankah keteladanan lebih berharga dari seribu nasehat?

2. Gunakan bahasa cinta.

Menurut Gary Chapman lewat teorinya The 5 Love Language for Children mengungkapkan salah satu cara berkomunikasi agar anak merasa dicintai yaitu, melalui kata-kata affirmatif. Orang tua bisa memulai dengan pujian yang ikhlas untuk sebuah perbaikan bagaimanapun kecilnya. Jika perlu  berikan sentuhan fisik seperti menepuk pundak, mengelus kepala. Perlu juga orang tua memberikan reputasi atau nama baik si anak, supaya ia mempertahankannya. Misalnya, Rio, si abang penyayang, atau Rusti, sang pemberani. Sebaliknya, hindari stereotypy yang negative, karena akan membuatnya terluka dan nelangsa serta menurunkan kepercayaan dirinya. Kalaupun harus menunjukan kesalahan-kesalahannya, lakukanlah dengan cara tidak langsung. Bicaralah kesalahan-kesalahan sendiri dulu sebelum mengecam anak dan usahakan jangan menyinggung perasaanya. Dorong dan berilah semangat seolah-olah kesalahan mudah diperbaiki.

3. Jadilah Pendengar yang Baik.

Berhenti beraktifitas ketika sedang mendengarkan anak kita bicara merupakan cara terbaik untuk menunjukkan betapa ia sangat penting dan berharga. Selain itu, mendekat dan menatap matanya membuat si anak merasa bahwa orang tuanya tertarik dengan apa yang diceritakannya. melibatkan diri ke dalam pembicaraan dengan menggunakan bahasa tubuh juga membuat anak merasa dihargai. Misalnya dengan manggut- manggut, terbelalak, atau berkata: owh begitu…, dengan suara lirih. Usahakan tidak memotong pembicaraan ketika anak sedang asyik bercerita serta tidak perlu memberi nasehat kecuali jika diminta. Beri kesempatan dia untuk menyimpulkan, menilai atau mengajukan solusi menurut pikirannya sendiri dengan cara menanyakan hal hal terkait dengan ceritanya.

4. Pahami kesukaan/ ketidak sukaannya

Cara terbaik untuk memahami kesukaan dan ketidak sekaan anak adalah dengan ikut terlibat ke dalam dunianya. Mendampingi dan menemaninya ketika bermain, menonton, membereskan mainannya atau saat bermain dengan teman temannya.  Memberi surprise kecil berupa sesuatu yang disukainya (meskipun kadang orang tua kurang menyukinya) akan membuat si kecil merasa diperhatikan serta membuatnya bahagia. Sebaliknya, untuk mengurangi hal-hal yang tidak disukainya orang tua bisa meminimalkan  perilaku, benda, makanan, film atau apapun yang tiak disukainya. Jika terpaksa harus ada, misalnya dia tidak suka badut yang ada dalam pesta ulang tahun temannya. Orang tua bisa mengatakan:” Ayah/ ibu tahu kamu tidak menyukai badut itu ya? Tapi tidak ada pilihan lain karena kita ini tamu, kita agak sedikit menjauh saja … tidak apa ya?. Atau, ibu tahu kamu tidak suka memakan obat pahit ini, tapi obat inilah yang menolongmu agar cepat sembuh. Ibu dulu waktu kecil juga tidak suka minum obat pahit, tapi ibu berusaha dengan sedikit memaksa… toh cuma sebentar. Yuk dicoba minum, ibu bantu.

5. Berbagi rahasia dengannya

Menceritakan rahasia kecil yangmungkin sedikit konyol, memalukan dapat  memberikan kesan bahwa dia adalah seseorang yang penting/ special baginya. Misalnya cerita tentang pengalaman waktu kecil di sekolah yang berlari ketakutan ketika ketemu/ melihat ondel-ondel sampai mengompol di celana dan tidak bilang kepada ibu karena malu. atau cerita bekas luka bekas jahitan di kaki ibu yang sewaku kecil lari dan terjatuh karena menghindari kecoa. Mengungkapkan sisi sisi unik kepada si anak akan membantu membangun ikatan dan membuat si anak merasa terhubung dengan orang tuanya.

6. Memberikan kepercayaan kepada anak.

Memberikan kepercayaan kepada anak adalah dengan cara memberinya kesempatan untuk mencoba hal-hal yang ingin dilakukannya sepanjang tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Seperti makan sendiri, mandi sendiri, atau menggoreng telur sendiri. Penting juga memberinya kesempatan berbuat salah agar dia tahu cara memperbaikinya dan paham bahwa semua keberhasilan itu butuh proses, butuh usaha yang sungguh sungguh. Hal ini akan membuat anak tumbuh rasa percaya dirinya, merasa dihargai dan bisa mandiri. 

Menjadi sahabat bagi anak kita sesungguhnya tidak hanya memberi pengaruh positif  terhadap pertumbuhan sosial emosional anak ke depannya, namun orang tua juga mendapatkan banyak hal yang memudahkannya dalam mendidik, membimbing, mengarahkan anaknya. Dengan menjadi sahabat anak akan menumbuhkan pengertian, rasa saling percaya, serta memperkuat hubungan batin yang kuat antara orangtua dan anak. Selamat bersahabat dan selamat menjalankan ibadah puasa dengan tetap stay at home bersama keluarga.

Penulis adalah Staf pengajar STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA