Ditulis oleh 4:53 am KALAM

Membaca Fakta Historis Islam Jawa, Kajian atas buku Islamisasi Jawa karya MC. Riklefs

Oleh: Mu’arif

Merle Calvin Riklefs (1943-2019), biasa saya tulis di daftar pustaka atau catatan kaki ketika menulis buku, paper, atau esai dengan singkatan: MC. Riklefs—dilanjutkan dengan penulisan judul buku-buku karangannya yang sangat populer. Bagi saya, dua buku Riklefs yang paling sering menjadi rujukan ketika menulis buku, paper, atau esai adalah Sejarah Indonesia Modern dan Mengislamkan Jawa. Untuk buku pertama, saya berinteraksi dengan pemikiran Riklefs sejak 2008 ketika mulai gandrung dengan ragam dokumentasi sejarah Muhammadiyah. Puncaknya, ketika menulis biografi Haji Fachrodin, selain merujuk buku Zaman Bergerak karya Takashi Shiraishi, saya lebih banyak menggali data dari buku karya Riklefs ini. Rampung biografi Haji Fachrodin yang kemudian diterbitkan dengan judul Benteng Muhammadiyah, saya menempatkan karya Riklefs ini layaknya “ensiklopedi” untuk pembahasan sejarah Indonesia—dengan selalu memelototi daftar indeks untuk melacak kata kunci berupa istilah atau nama tokoh. Sedangkan buku kedua Riklefs, Mengislamkan Jawa, jujur saja saya memang belum lama berinteraksi dengan karya ini. Sekira tahun 2017 saya baru tertarik dengan karya ini sekalipun belum tuntas membacanya. Baru dipaksa membaca sampai tuntas setelah Yayasan AR. Baswedan mengundang saya untuk membedah buku ini.

Pada 29 Desember lalu (2019), Riklefs meninggal dunia di Melbourne, Australia, mengagetkan jagad intelektual Indonesia. Ia seorang Indonesianis yang konsisten mengkaji dan menulis seputar sejarah Indonesia, khususnya dinamika sosial, budaya, politik, dan keagamaan di Jawa. Namanya sejajar dengan Indonesianis lain, seperti Denys Lombard, Peter Carey, dan lain-lain. Dalam konteks  Muhammadiyah Studies, memang ada sosok peneliti dari luar negeri yang konsisten mengkaji dan menulis seputar dinamika sosial, budaya, politik, dan keagamaan di Muhammadiyah, yaitu Mitsuo Nakamura. Konsistensi Nakamura yang menjadikan Muhammadiyah sebagai objek kajian dan penulisan di sepanjang hidupnya telah memposisikan dirinya setara dengan Riklefs yang juga konsisten menjadikan Indonesia atau Jawa sebagai objek kajian sepanjang hidupnya.

Lewat tulisan ini, saya ingin melihat secara sekilas proses di balik buku Mengislamkan Jawa karya Riklefs dari sudut pandang filosofi keilmuan untuk memahami pendekatan, konsep-konsep kunci temuan, dan catatan-catatan krusial. Kajian Riklefs termasuk kajian sejarah (historiografi), tetapi menggunakan teori-teori sosial kontemporer sebagaimana Clifford Geertz, Peter Carey, Denys Lombard, Mark Woordward, dan lain-lain. Inilah yang membedakan karya historiografi dengan pendekatan keilmuan Barat dengan karya historiografi bangsa timur yang cenderung mendekati fiksi, diungkapkan dengan Bahasa sastra, kadang melalui karya seni seperti tembang atau mocopat, pantun, dan lain-lain.          

Kajian yang dimulai sejak 1930-an, proses islamisasi Jawa paling tidak dengan melihat empat latar belakang penting meliputi: sistem politik kolonial, gerakan Kristenisasi, eksistensi budaya Jawa, dan Islam itu sendiri. Sebenarnya, terdapat tahapan krusial dalam sejarah Jawa yang sangat menentukan dalam proses Islamisasi di Jawa. Yaitu, fase Perang Diponegoro dan pecah kongsi antara kelompok Islamis (Kiai Mojo) dengan kelompok Jawa (keraton). Dalam amatan Peter Carey, pecah kongsi antara Kiai Mojo dengan Pangeran Diponegoro menjadi bukti kegagalan moderasi Islam dan budaya keraton. Tetapi memang budaya keraton dengan segenap nilai-nilai filosofis-spiritual warisan Mataram Hindu tidak dapat dihilangkan begitu saja. Bahkan jauh sebelum Hindu menjadi agama resmi negara, orang Jawa sudah memiliki sistem keyakinan dan pandangan hidup tersendiri seperti yang dikaji Mark Woordward disebut sebagai “Agama Jawa.”    

Dalam proses politik, dinamika sosial-ekonomi, dan percampuran antara budaya sejak 1930 sampai sekarang, Riklefs menemukan fakta menarik bahwa spiritualitas Islam di Jawa merupakan persilangan antara Hindu-Jawa-Islam. Identitas orang Jawa, selain sebagai muslim, juga mempercayai pandangan hidup dan keyakinan Jawa seperti percaya kepada Nyai Roro Kidul. Spiritualitas hybrid inilah yang membingungkan Riklefs karena fenomena semacam ini tidak ditemukan di negara-negara muslim di Timur Tengah. Saya sendiri belum menemukan karya terbaru Riklefs yang mengacu pada kerangka teori spiritualitas hybrid di kalangan orang Jawa ketika dipakai untuk membaca gejala menguatnya konservatisme (conservative turn) pasca Aksi 212.    

Karya Riklefs ketika mengkaji Islamisasi Jawa sebagai fakta historis masa lalu hingga sekarang ini sebenarnya ingin menjelaskan aspek-aspek kontinuitas dan diskontinuitas dalam sejarah proses masuknya Islam di pulau Jawa. Mana aspek yang masih berlanjut dan berkembang dinamis dan mana aspek yang berhenti atau tidak berkembang sehingga digantikan dengan aspek baru. Satu catatan untuk Riklefs, bahwa sejarah manusia yang di dalamnya melibatkan aspek politik, sosial, psikologi, budaya, kepercayaan, dan agama tidak dapat dilhat sebagai gejala umum (general). Untuk aspek politik, sosial, dan budaya memang sangat mungkin dilihat sebagai gejalan umum, tetapi aspek kepercayaan dan agama harus dilihat sebagai gejala particular. Khusus dalam pengalaman keagamaan, sekalipun berada dalam sebuah sistem transcendental, tetapi proses historis lebih banyak melibatkan aktor dalam kapasitas sebagai individu. Pengalaman keagamaan seseorang berbeda dengan orang lain. Begitu juga ketika melihat sistem keyakinan dan ajaran Islam yang mampu bersinergi dengan ajaran lokal (Jawa) adalah suatu proses spiritual yang dialami oleh masing-masing individu yang satu dengan yang lain pasti berbeda.

Dalam konteks penelitian sejarah sosial Jawa, Riklefs memang seorang outsider yang konsisten mengkaji dinamika sosial, budaya, politik, dan keagamaan di Jawa sejak 1930 hingga sekarang. Dengan pendekatan teori-teori sosial kontemporer yang positivistik, perkembangan sejarah Islamisasi di Jawa memang dapat dijelaskan dengan mudah. Tetapi dalam konteks penelitian agama-agama, Riklefs dapat ditempatkan sebagai peneliti di luar objek yang ia kaji sehingga terdapat jarak yang amat krusial dalam memahami dinamika “di dalam” sistem keyakinan dan ajaran Islam. Meminjam istilah Kim Knot, keheranan Riklefs ketika melihat Islam mampu bersinergi dengan sistem kepercayaan Jawa disebut sebagai bagian dari problem penelitian etik yang dilakukan para outsider.

Bagi para peneliti insider, spiritualitas hybrid seperti temuan Riklefs ini suatu keniscayaan. Seorang insider yang meneliti dengan pendekatan teori-teori sosial kontemporer ia akan menjumpai gejala seperti yang diherankan oleh Riklefs. Tetapi dengan meletakkan gejala semacam itu sebagai objek kajian agama-agama secara umum dengan pendekatan filosofis akan sampai pada satu titik temu.

Dalam studi agama-agama, problem utama penelitian terletak pada objektivitas dan   subjektivitas. Objektivitas terkait dengan objek penelitian yang berupa (1) sistem dogma, (2) ritual, (3)institusi/komunitas, (4) teks kitab suci, (5) moralitas, dan (6) perangkat keagamaan yang bersifat objektif dihadapkan pada aspek perilaku keagamaan (antropologi agama), sejarah, sosiologi, bahasa, budaya, dan lain-lain. Jika penelitian agama diletakkan pada enam unsur di atas (dogma, ritual, institusi, teks kitab suci, moralitas, dan perangkat keagamaan), maka hasil penelitian akan lebih objektif. Tetapi jika penelitian agama sudah bersentuhan dengan dimensi perilaku keagamaan, sejarah, sosiologi, bahasa, budaya, dan lain-lain, maka hasil penelitian akan berubah sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, terutama kesalahpahaman yang datang dari insider. Seperti hasil penelitian para ilmuwan Barat yang meneliti tentang agama Sikh yang menggunakan paradigma positivistik—dengan pendekatan keilmuan saintis—justru menghasilkan kesalahpahaman yang parah sehingga tokoh-tokoh Sikh justru menentang atau menolak hasil penelitian para ilmuwan Barat tersebut.

Sedangkan subjektivitas adalah sikap dan pandangan para peneliti yang terikat oleh sistem keyakinan dan paradigma keilmuan tertentu ketika melakukan proses pengamatan, interpretasi, mendeskripsikan, dan menyimpulkan berdasarkan prosedur keilmuan tertentu sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak sesuai dengan objek penelitian (objektivitas).

Problem objektivitas dan subjektivitas dalam penelitian agama ini kemudian bergulir menjadi diskusi hangat pada wilayah epistemologis sehingga menghasilkan suatu pendekatan yang disebut rapproachment (persesuaian/penggabungan—melalui metode perenungan mendalam). Dengan penggabungan pendekatan ini, maka pendekatan dalam penelitian dan kajian agama-agama menemukan satu model pendekatan baru yang disebut inter-subjektif. Karena subjektivitas dalam penelitian agama-agama sangat sulit dicapai, maka lahir paradigma baru bahwa setiap penelitian agama yang selalu berhadapan dengan problem subjektivitas dapat diselesaikan dengan paradigma inter-subjektif. Yaitu, subjektivitas yang saling bersesuaian antara satu penelitian dengan penelitian lain sehingga ditemukan benang merah yang dapat menyatukan antara subjektivitas-subjektivitas dari para peneliti.


[*] Disampaikan dalam Diskusi Buku Yayasan Abdurrahman Baswedan dengan tema Mengislamkan Jawa, pada Jum’at, 3 Januari 2020, di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan.

(Visited 171 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 24 Februari 2020
Close