Membangun Keharmonisan Keluarga di Tengah Wabah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Oleh: Amri Khoiriyah, M.Pd

Guru dapat mengetahui banyak fenomena keluarga dari keadaan yang dialami oleh anak-anak didiknya. Tidak sedikit anak didik memiliki keluarga yang kurang harmonis, seperti ada anak yang kedua orangtuanya sering bertengkar bahkan ada yang sampai bercerai. Dampak dari keluarga yang demikian berimbas pada diri anak seperti anak mengalami kesulitan belajar, prestasi belajar yang menurun, dan kepercayaan diri yang rendah. Dengan kata lain, ketidakharmonisan keluarga tersebut mempengaruhi perkembangan diri anak. Dampak lain yang muncul adalah anak cenderung mencari perhatian di luar rumah dengan berbagai cara yang bisa memunculkan masalah baru. Untuk itu, sangat penting untuk terciptanya keharmonisan keluarga. 

Apa yang dialami anak-anak tersebut tidak lepas dari pengaruh modernitas. Modernitas telah menciptakan masyarakat yang mengarah pada gaya hidup yang pragmatis, mekanistis, dan konsumtif. Di sisi lain modernitas juga melahirkan sikap yang individualistik. Gaya hidup dan sikap tersebut apabila terbawa dalam keluarga maka berpotensi menyebabkan konflik atau disharmoni.

Keluarga pada dasarnya adalah suatu unit terkecil dalam masyarakat. Sebagai unit terkecil, di dalamnya juga terjadi proses sosial antar anggota keluarga. Proses ini akan saling mempengaruhi satu sama lain yang kemudian bisa berimbas ke luar rumah. Pun, perilaku anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam terwujudnya keharmonisan keluarga. Keharmonisan yang terbentuk ini akan tampak juga di masyarakat.

Perilaku anggota keluarga akan saling mempengaruhi dalam terwujudnya keharmonisan keluarga.

Dengan mewabahnya virus Corona, terjadi perubahan irama dalam berbagai aktivitas manusia. Misalnya, anak-anak belajar di rumah dan banyak orangtua bekerja dari rumah.  Situasi yang demikian mengintensifkan kebersamaan dalam satu keluarga. Kebersamaan yang tinggi itu sebenarnya dapat dijadikan kesempatan untuk membangun kembali keharmonisan keluarga. Wujudnya bisa berupa membangun komunikasi yang baik, membudayakan musyawarah, dan menjunjung tinggi nilai-nilai hidup dalam keluarga.

Komunikasi antar-anggota keluarga

Komunikasi adalah salah satu kunci membangun keharmonisan keluarga. Momen pandemi dapat digunakan untuk membenahi komunikasi di antara anggota keluarga. Situasi ini perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk membangun ikatan emosi yang lebih baik di dalam satu keluarga inti. Dalam komunikasi ini perlu dibangun dialog yang bertujuan untuk mereduksi sikap semaunya sendiri. Sebagai contoh, seorang anak perlu dibiasakan mendengarkan orang tua sebagaimana orang tua menyediakan waktunya untuk mendengarkan dan mendampingi anak-anak. Dengan ini akan terjadi sikap saling memahami mengenai peran para anggota keluarga.

Dialog memang mutlak diperlukan dalam keluarga. Dialog ini memiliki peran yang penting dalam berlangsungnya musyawarah. Pentingnya musyawarah ini ditekankan dalam al-Quran, surat Ali ‘Imran ayat 159, yaitu: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (tertentu). Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Keharmonisan keluarga tidak dilihat dari banyaknya kesamaan anggota keluarga saja, melainkan juga dilihat dari bagaimana keluarga itu mengelola konflik yang disebabkan oleh perselisihan dan perbedaan antar-anggota keluarga. Perselisihan dan perbedaan ini dapat dikomunikasikan secara konstruktif dalam musyawarah dengan melibatkan berbagai perspektif anggota keluarga. Proses yang baik dalam musyawarah itu turut berkontribusi dalam terciptanya penyelesaian persoalan. Dengan begitu, keharmonisan keluarga dapat terwujud.

Menghidupkan nilai-nilai positif dalam keluarga

Secara umum, nilai-nilai positif dalam kehidupan bisa diidentifikasi oleh setiap anggota keluarga. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana memposisikan nilai-nilai itu tidak semata-mata sebagai pengetahuan belaka, melainkan sebagai bagian dari praktek perilaku sehari-hari. Beberapa nilai yang bisa dipraktekkan untuk terwujudnya keharmonisan keluarga, diantaranya adalah kejujuran, kepedulian, tepo seliro, rasa hormat, lapang dada, dan welas asih.

Kejujuran menumbuhkan kepercayaan satu sama lain. Dengan kepedulian, ikatan emosi di dalam keluarga akan semakin erat. Tepo seliro adalah bentuk sikap tenggang rasa yang kerap terabaikan. Dengan tepo seliro menumbuhkan penerimaan bahwa masing-masing anggota keluarga tidak sama dalam banyak hal. Menghidupkan tepo seliro dapat memunculkan rasa hormat dan lapang dada. Semua itu dapat menumbuhkan sikap welas asih dalam keluarga.

Kejujuran menumbuhkan kepercayaan satu sama lain.

Sikap demi sikap di atas berimplikasi positif bagi keharmonisan dalam suatu keluarga. Sangat penting dalam keluarga untuk melakukan refleksi secara rutin. Melalui refleksi ini akan memungkinkan terjadi perbaikan atau peningkatan kualitas pada tindakan yang diambil oleh keluarga. Untuk bisa merefleksikan itu dengan baik, diperlukan keterbukaan dan kejujuran terhadap diri serta kelapangan hati untuk menerima masukan dari pihak lain. Adanya wabah Corona yang sedang dihadapi saat ini adalah suatu kesempatan untuk melakukan refleksi diri bersama keluarga di tengah kebersamaan yang makin intens untuk menghadirkan keharmonisan dalam keluarga.

Amri Khoiriyah, M.Pd

Amri Khoiriyah, M.Pd

Praktisi pendidikan dan mahasiswa Program Doktoral Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta