Membangun Keselarasan Hubungan Sosial Melalui Makanan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Suatu tradisi dimana jika sebuah rumah membuat satu masakan, maka satu piring dari masakan itu diberikan ke tetangga.

Akademi Al Hikmah Yayasan Abdurrahman Baswedan menyelenggarakan forum Ruang Budaya sebagai wadah dialog dan apresiasi kebudayaan. Pada edisi perdana penyelenggaraan Ruang Budaya, mengangkat tema Menghimpun Kearifan Komunitas Nusantara. Menghadirkan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi, Pelestari dan Pemerhati Budaya Sunda, Selasa, 7 Juli 2020, melalui aplikasi meeting online Zoom.

Dalam paparannya Evi Silviandi mengatakan bahwa perubahan sosial budaya telah terjadi di Indonesia. Hal ini menyebabkan kita harus mencari cara bagaimana sikap hidup yang selaras antara tatanan agama, kepentingan negara, ekonomi dan lainnya.

Perubahan itu dapat kita lihat misalnya, dahulu di desa kerja bakti, gotong royong sangat mudah dilakukan. Saat seorang warga sedang ada hajatan, seluruh warga bergotong royong kerja bakti untuk membantu. Namun kini, terkadang orang dengan tetangga saja tidak saling menganal. “Saya jadi bertanya-tanya ini saya hidup di zaman apa,” ujar Evi.

Kondisi yang seperti ini, bagi Evi bukanlah kehidupan yang normal. “Negara mendengungkan bagaimana membangun persatuan, membangun SDM unggul, membangun tatanan yang bisa diikuti semua pihak. Namun saya tidak menemukan cara yang dilakukan negara untuk menyelaraskan antara kepentingan negara, masyarakat dan kepentingan sosial kemasyarakatan lain agar dapat berjalan dengan baik,” jelas Evi.

Setelah melakukan refleksi tersebut, Evi kemudian menemukan tradisi Sunda yang disebut tradisi “nganteuran”. Suatu tradisi dimana jika sebuah rumah membuat satu masakan, maka satu piring dari masakan itu diberikan ke tetangga.

“Saya coba mengembalikan tradisi itu. Saya bicara kepada masyarakat adat aturan pertama yang saya katakan, kalau memasak di rumah berikan satu piring kepada tetangga, secara bergantian,” jelas Evi.

Dampak dari tradisi tersebut, semua orang dapat saling merasakan apa yang dimakan oleh sesama tetangga. “Dari situ mulai rasa ini mulai selaras, antara saya dengan tetangga, dengan orang yang datang,” ujar Evi.

Akhirnya tradisi sederhana ini mampu memperkuat ikatan antara masyarakat. “Budaya gotong royong kembali tumbuh. Mau kita mulai dari mana gotong royong apabila kita tidak mengenal tetangga. Kalau kita tidak pernah merasakan satu rasa. Dampaknya juga terasa dari sistem keamanan lingkungan,” tandas Evi Silviandi.

Dalam forum Ruang Budaya tersebut, juga dilakukan pembacaan geguritan oleh KRT Akhir Lussono, SSn., MM, Praktisi Budaya/Mahasiswa Doktoral MSMD, UII yang memandu diskusi tersebut. Secara spontan peserta juga melakukan pembacaan puisi, yakni Dr. Mustari, M.Si dari Kepulauan Seribu yang berjudul Melayu serta Dr. Andi Baetal Mukaddas., S.Pd.,M.Sn dari Makasar yang membacakan puisi berjudul Sukmaku di Tanah Makassar karya Asia Ramli Prapanca.

Simak Ruang Budaya Akademi Al Hikmah Yayasan Abdurrahman Baswedan, tersebut melalui Channel Youtube berikut:

Erik T.

Erik T.

Terbaru

Ikuti