Membangun Ketangguhan Pribadi dan Ketangguhan Sosial

mahlani
ketangguhan pribadi dan sosial adalah dua hal seperti dua sayap saling memperkuat.

Hidup di dunia ini dapat diibaratkan seperti pendakian menuju ke puncak gunung yang tidak berbatas. Artinya bahwa, puncak “gunung kehidupan”  ini sebenarnya tidak ada, tetapi kematian itulah puncak dari kehidupan setiap orang.  Cepat atau lambat setiap diri pasti akan menuju ke puncak gunung kehidupan yang sebenarnya, yaitu  kematian. Namun demikian, dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Tetapi, kematian itu justru permulaan dari kehidupan baru, yaitu permulaan  kehidupan di alam akhirat.  Ini berarti bahwa puncak kehidupan bagi manusia  yang sebenarnya adalah alam akhirat. 

Dalam kehidupan di alam dunia fana ini, diwarnai dengan aneka ragam dinamika kehidupan. Ada sebagian orang yang dapat hidup sukses, bahagia, sejahtera, berkedudukan tinggi dan tercukupi semua kebutuhan hidupnya. Mereka dapat berbuat apa saja dengan kemampuan ilmu, kedudukan ataupun ekonomi yang dimilikinya. Namun demikian, ada juga sebagian lain yang hidupnya terlunta-lunta, dijerat kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. Pendek kata, orang semacam ini, tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan hidupnya justru menjadi beban orang lain.  Kenyataan semacam ini, telah disinggung Allah dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ لاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ. (الانعام: 165)

“Dan Dia ialah Yang membuat kamu penguasa di bumi  dan meninggikan derajat sebagian kamu, melebihi sebagian yang lain, agar ia menguji kamu dengan apa yang Ia berikan kepada kamu. Sesungguhnya Tuhan dikau itu Yang Maha-cepat dalam menghukum (kejahatan); dan sesungguhnya Dia itu Yang Maha-pengampun, Yang Maha Pengasih. (QS. Al An’am: 165)

Dalam benak kita mungkin muncul pertanyaan, faktor apa sebenarnya yang paling berperan dalam menjadikan seseorang itu dapat hidup sukses dan gagal?  Apakah faktor nasib atau karena itu semuanya sebagai bagian dari proses kehidupan yang memang banyak berkaitan dengan persoalan kapasitas pribadi setiap orang?  Apa sebenarnya  yang menyebabkan sebagian orang dapat hidup sukses- dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing?  Apakah karena faktor nasib atau  keberuntungan yang berpihak kepada mereka atau karena mereka memang secara pribadi memiliki kelebihan (keunggulan) yang tidak dimiliki oleh orang lain?  Bukankah setiap diri manusia  diciptakan Allah dari bahan yang sama, struktur tubuh yang sama, makanan baik jenis dan porsi yang relatif sama,  dan sebagainya. Tetapi, mengapa dalam perjalanan hidupnya ada sebagian yang sukses, namun ada sebagian lain yang gagal?

Ketangguhan pribadi

Secara umum, kesuksesan hidup seseorang itu karena dalam dirinya memiliki dua ketangguhan, yaitu ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial. Ketangguhan pribadi adalah ketika seseorang berada pada posisi atau dalam keadaan telah memiliki pegangan prinsip hidup yang kokoh dan jelas.  Seseorang dikatakan tangguh ketika ia memiliki prinsip yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Ini berarti bahwa orang yang memiliki ketangguhan pribadi itu  mampu untuk mengambil keputusan yang bijaksana dengan menyelaraskan antara prinsip yang dianut dengan kondisi lingkungannya, tanpa harus kehilangan pegangan hidup.

Secara sistematis, ketangguhan pribadi adalah seseorang yang memiliki prinsip berpikir sebagai berikut (Ary Gunanjar, 2001: 178) :

  1. Prinsip landasan dan prinsip dasar  (prinsip bintang), yaitu beriman kepada Allah.
  2. Prinsip kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
  3. Prinsip kepemimpinan, yaitu beriman kepada Nabi dan Rasul.
  4. Prinsip pembelajaran, yaitu berprinsip kepada Al Qur’an.
  5. Prinsip masa depan, yaitu beriman kepada “Hari Kemudian”.
  6. Prinsip keteraturan, yaitu beriman kepada “Ketentuan Allah” (qadha dan qadar).

Pribadi yang tangguh bukanlah terjadi secara tiba-tiba, tetapi perlu tindakan nyata dan proses panjang. Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menuju ketangguhan pribadi, yaitu :

Pertama, menetapkan misi hidup, yaitu dengan pernyataan dua kalimat syahadat. Beberapa penjabaran dari penetapan misi hidup, antara lain:

  1. Membangun misi kehidupan (QS. Ali Imran: 9).
  2. Membulatkan tekad (QS. Fushilat: 30).
  3. Membangun visi (QS. Al An’am:
  4. Menciptakan wawasan (QS. Al Insyiqaq: 6)
  5. Transformasi fisi (QS. Al Ahzab: 21)
  6. Komitmen total (QS. Ali Imran: 18)

Kedua, membangun karakter, yaitu dilakukan dengan beberapa langkah strategis berikut :

  1. Relaksasi (QS. Al Maa’un: 4-7)
  2. Membangun kesadaran diri (QS. Hud: 5)
  3. Membangun kekuatan afirmasi (QS. Thaha: 50)
  4. Mengembangkan pengalaman positif (QS. An Nisa: 103)
  5. Membangkitkan dan menyeimbangkan energi batiniah (QS. Al Baqarah: 238).
  6. Mengasah prinsip  (pelatihan penjernihan emosi, wudhu, do’a iftitah, ruku’ dan sujud,

Ketiga, pengendalian diri (self cotrolling), yaitu kemampuan mengelola kondisi kemauan, kebutuhan, desakan (impuls),  dorongan (drive) dan sumberdaya diri sendiri. Beberapa aspek, yang berkaitan dengan kemampuan pengendalian diri, antara lain :

  1. Kendali diri (self control): mengelola emosi-emosi dan desakan   (impuls) hati-hati yang merusak.
  2. Sifat dapat dipercaya (trustworthiness): memelihara dan internalisasi norma kejujuran dan integritas pribadi.
  3. Kehati-hatian (conscientiousness) : Bertanggungjawab atas kinerja pribadi.
  4. Inovasi (innovation) : mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru

Ketangguhan sosial

Ketangguhan sosial adalah kecakapan untuk menentukan bagaimana kita menangani hubungan sosial atau bagaimana kita menyikapi interaksi sosial antara kita. Dalam membangun ketangguhan sosial ini, maka ada dua aspek yang paling menentukan, yaitu empati dan keterampilan sosial.

Empati adalah kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain. Beberapa indikator mengenai empati, antara lain:

  1. Memahami orang lain (understanding others): Mengindra perasaan dan persfektif  orang lain dan menunjukkan minat akatif terhadap kepnetingan orang lain,
  2. Mengembangkan orang lain (developing others): Merasakan kebutuhan pengembangnan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan orang lain.
  3. Orientasi Pelayanan (service orientation): Mengantisipasi, mengenali, dan beupaya memenuhi kebutuhan para pelanggan.
  4. Memanfaatkan Keragaman (leveraging diversity) : menumbuhakna peluang dengan melalui pergaulan.
  5. Kesadaran Politis (political awareness): mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

Sedangkan keterampilan sosial, adalah kemampuan dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Beberapa indikator mengenai keterampilan sosial, antara lain :

  1. Pengaruh (influence) : Memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi.
  2. Komunikasi  (communicatuion): mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan.
  3. Manajemen Konflik (conflict management) : Penanganan masalah-masalah yang berkembang di dalam masyarakat.
  4. Kepemimpinan (leadership): Memandu orang lain dengan membangkitkan inspirasi
  5. Katalisator perubahan (change catalyst):  Memulai dan mengelola perubahan.
  6. Membangun hubungan (building bonds) : menumbuhkan hubungan yang bermanfaat.
  7. Kolaborasi dan Kooperasi (collaboration and cooperation) : kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.
  8. Kemampuan tim (team capabilities): menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Penerimaan diri dan orang lain

Proses untuk memulai membangun ketangguhan diri dan ketangguhan sosial, perlu diawali dengan penerimaan diri dan orang lain tanpa bersyarat.  Penerimaan diri adalah kemampuan untuk memahami dan merima kenyataan diri apa adanya. Demikian juga, penerimaan orang lain adalah kemampuan menerima orang lain apa adanya secara sadar. Menurut Carl Rogers, perubahan diri secara mendasar itu bisa terjadi hanya dimulai  dengan penerimaan diri dan orang lain, bukannya dengan penolakan diri/orang lain.

Menerima diri sepertinya adalah sesuatu yang sangat mudah, tetapi bagi sebagian orang ternyata menjadi persoalan tersendiri. Kita sering dihadapkan pada kenyataan adanya orang yang menerima diri tetapi dengan bersyarat, seperti yang tersirat pada beberapa pernyataan berikut: “Kalau kamu tidak jadi juara kelas, kamu tidak jadi anak yang baik!”, “Kalau kamu tidak jadi orang kaya, tidak ada yang mau menikah denganmu”, “Tubuhmu gembrot, tak ada orang yang mau menikah dengan orang berpenampilan seperti itu”, “Wajahmu jerawatan, kamu tak akan disegani oleh teman-teman”, dan sebagainya.

Penerimaan bersyarat, akan menyebabkan seseorang berjalan terus-menerus mengejar syarat-syarat tertentu agar dapat diterima. Lama-kelamaan, kenyataan ini akan menjadikan diri kita letih dan pada akhirnya bukan tidak mungkin  akan menimbulkan  rasa putus asa. Karena ternyata syarat-syarat yang dikerjar itu tidak pernah tercapai.

Cara melatih penerimaan diri, antara lain: Pertama,  membiasakan dengan kata-kata positif, misalnya: “Saya merasa senang”, “Saya merasa dihargai kehadirannya”, “Saya bermanfaat”, dan sebagainya. Kedua, menggunakan cermin sebagai alat bantu.

Akhirnya, ketangguhan pribadi dan sosial adalah dua hal seperti dua sayap saling memperkuat. Untuk dapat terbang, maka burung mutlak perlu dua sayap. Demikian juga, untuk mampu menjalani kehidupan ini secara bermakna, maka perlu ketangguhan pribadi dan sosial. Dengan dua ketangguhan itu, niscaya kita dapat mamaknai setiap langkah aktivitas, sekecil apapun. Demikian juga, dalam arena sosial, kita dapat melakukan peran-peran sosial yang bermanfaat bagi sesamanya. Inilah yang disebut dengan pribadi berkelimpahan, artinya, kita tidak sekedar merasa cukup dan puas dengan segala sesuatu yang kita miliki, tetapi, kita dapat berbagi bahkan dapat memberikan sesuatu untuk kebaikan atau kemaslahatan bersama.


Referensi:

Ary Ginanjar Agustian (2001), Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual Berdasarkan Rukun Iman dan Rukun Islam, Jakarta: Arga

Anthoni Dio Martin (2003), Emotional Quality Management, Jakarta: Arga

Daniel Goleman (1996), Kecerdasan Emosional: Mengapa EI lebih penting daripada IQ, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close