Ditulis oleh 2:02 pm KALAM

Membangun Resiliensi Pendidikan Keluarga Melalui Pemberdayaan Ekonomi Ummat

Dalam teori sistem Bronfenbrenner (1994), teori ekologi perkembangan merupakan salah satu teori yang mencoba menguraikan pengembangkan pendidikan karakter anak dengan pendekatan ekologi.

A. Muqadimah

Mencermati kondisi dan situasi yang terjadi saat ini di tengah wabah Covid-19, pada umumnya setiap individu berjuang untuk melindungi diri dan anggota keluarganya agar tidak terinfeksi. Perubahan secara tidak wajar yang selama kurun waktu Januari-hingga saat ini 2020 menjadikan kondisi keluarga mulai terganggu di seluruh penjuru dunia tak terkecuali Indonesia.

Perubahan situasi dan kondisi yang seperti ini menjadi tidak nyaman. Mulai dari sisi pendidikan, perekonomian, perdagangan, transportasi, kesehatan, tak terkecuali terkena dampak Covid-19 ini. Bahkan ada sebagian anggota keluarga di antara kita yang terpaksa dirumahkan dari tempat kerja dengan berbagai alas an. Mulai pengurangan karyawan, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), transportasi yang terbatas, besar pengaruhnya terhadap roda perekonomian masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.

Dalam teori sistem Bronfenbrenner (1994), teori ekologi perkembangan merupakan salah satu teori yang mencoba menguraikan pengembangkan pendidikan karakter anak dengan pendekatan ekologi. Pendekatan tersebut dilakukan dalam tiga subsistem, yaitu: 1). Mikrosistem, yang mengkaji peran keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan dalam pendidikan karakter, 2). Eksosistem, mengkaji pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain di mana anak tidak memiliki peran yang aktif tetapi berperan dalam pengembangan karakter, 3). Makrosistem, kajian tentang peran kebudayaan dalam pendidikan karakter yang mengemukakan tentang ecological models yang menjelaskan mengenai adanya sistem-sistem yang memengaruhi interaksi individu dengan orang lain dan lingkungannya. Keluarga yang merupakan sistem terkecil yang disebut microsystem memiliki sebuah pola aktivitas, tanggung jawab sosial dan relasi interpersonal yang dialami individu didalam keluarga.

Pola ini terbentuk interaksi, baik fisik maupun sosial dengan anggota keluarga lain secara konsisten dan akan membentuk perilaku serta kebiasaan pada diri individu. Perilaku dan kebiasaan ini akan memengaruhi perkembangan individu dan interaksinya dengan orang lain maupun lingkungan yang lebih luas. Individu akan mengalami ketidaknyamanan bila suatu keadaan tertentu memaksanya dalam waktu singkat untuk melakukan perubahan pada pola interaksi yang mempengaruhi perilaku dan kebiasaan mereka.

Wabah Covid-19 ini dalam tingkatan tertentu, sangat mempengaruhi sistem terbesar yaitu chronosystem yang membentuk perilaku dan karakter lingkungan sosial yang lebih luas. Perubahan perilaku dan karakter lingkungan dalam skala besar akan berimbas pada microsystem, tempat keluarga dan lingkungan terdekat lain berada. Seperti yang dilakukan saat ini, semua aktivitas dilakukan di rumah. Mulai anak-anak belajar via online, tugas kerjaan kantor dikerjakan di rumah, sehingga anak-anakpun merasa bosan tinggal di rumah. Kalau dilakukan sampai berbulan-bulan, anak-anak dan anggota keluarga merasa jenuh di rumah, maunya ingin cari suasana baru di luar rumah.

Tentu dalam kehidupan seharian di rumah mempunyai efek positif dan negatif. Tinggal bagaimana kita dalam memenej anggota keluarga agar tidak bosan, tetap betah di rumah dan tetap belajar yang dapat dilakukan di rumah masing-masing. Nah di sini diperlukan kecerdasan dari masing-masing anggota keluarga agar keluar dari rasa bosan tinggal di rumah. Bisa dengan melakukan aktivitas positif, menyenangkan dan menghasilkan kualitas iman, Islam dan juga menghasilkan karya maupun dari sisi ekonominya, sehingga bisa berimbas positif/produktif walaupun hanya di rumah. Secara ekonomi, virus Covid-19 ini dapat meluluhlantakkan jaringan ekonomi, bisnis mulai dari hulu hingga hilir. Tidak terkecuali jaringan pendidikan formal, non formal, sampai in formal. Untuk menghadapi hal tersebut, perlu ketahanan yang harus dikedepankan yakni: Membangun Resiliensi pendidikan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi umat: Telaah atas wabah Covid-19.

B. Pembahasan

Atasi masalah tanpa masalah, itulah slogan pegadaian. Memang setiap keluarga tidak ada yang terbebas dari masalah. Tinggal bagaimana seseorang mampu ntidaknya mengemasnya dengan baik. Setiap keluarga memiliki tantangan masing-masing untuk dapat menyelesaikan masalahnya tersebut. Masalah keluarga yang timbul seringkali berakhir tidak menyenangkan dengan terjadinya perpecahan dan keterpurukan dari masing-masing anggota keluarga. Suatu proses yang mendukung dibutuhkan dalam keluarga untuk dapat mengatasi tantangan dan bangkit dari keterpurukan sehingga menjadi keluarga yang resilien. Walsh (2003, 2016) menyatakan bahwa resiliensi keluarga merupakan kemampuan keluarga sebagai sebuah sistem proteksi untuk dapat mempertahankan keluarga tersebut untuk bangkit dari keterpurukan dan merupakan proses yang dijalani sepanjang kehidupan keluarga.

Resiliensi keluarga saat ini menjadi hal yang sangat penting dan relevan, khususnya dalam kondisi ketika menghadapi wabah Covid-19 seperti saat ini. Resiliensi keluarga merupakan hal yang perlu diupayakan maksimal oleh seluruh anggota keluarga. Walsh (2016) juga mengemukakan proses atau komponen kunci yang menjadi dasar untuk mengembangkan resiliensi keluarga. Kepala keluarga harus dapat menjaga keutuhan keluarga, dari sisi ekonomi, sosial, pendidikan dan kualitas hidupnya jangan sampai menjadikan keretakan keluarga gara-gara merosotnya tinglat pendapatan keluarga.

Pentingnya Pendidikan Keluarga dalam Islam

Sebelum melangkah tentang makna keluarga, terlebih dahulu diperkenalkan tanggung jawab keluarga. Karena keluarga sebagai tulang punggung sekaligus orang yang paling bertanggungjawab terhadap seluruh isinya, yakni istri beserta anak-anak beserta kebutuhan fisik dan psikisnya. Begitulah ajaran Islam disematkan bagi setiap kepala keluarga untuk bertanggung jawab dunia sampai akherat.

Proses pendidikan keluarga menuntut setiap orang tua untuk bertanggung jawab secara penuh (all in), yang dimulai dari tata cara mau tidur, aktivitas keseharian, selama 24 jam. Ini menandakan bahwa, pendidikan keluarga merupakan tanggung jawab secara penuh bagi orang tuanya, sementara pendidikan anak-anak di sekolah relatif terbatas waktunya. Akan tetapi secara keseluruhan tanggung jawab itu tetap kembali menjadi kewajiban selaku orang tua. Sehingga orang tua selalu dituntut untuk mengerti akan tugas dan tanggung jawab sebagai ayah dan ibu sebelum anak menginjak usia baligh dengan memperhatikan potensi yang dimiliki masing-masing anak. (Yusron Masduki, 2020: 9)

Pendidikan keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama dalam Islam, sehingga peran utama keluarga sangat besar dalam mendidik putra putrinya sepanjang hari dimulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. (Yusron Masduki, 2020:  Keluarga). Oleh karenanya begitu pentingnya membina keutuhan keluarga yang dengan gamblang diungkapkan dalam al-Qur’an surah At-Tahrim: 6 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya.kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. at-Tahrim [66]: 6).

Makna pendidikan menurut Abdurrahman an-Nahlawi mengutarakan, bahwa pendidikan berasal dari lafal al-Tarbiyyah. Secara etimologis lafal al-Tarbiyyah berasal dari kata, pertama, raba yarbu yang berarti: bertambah dan tumbuh; kedua, rabiya yarba dengan wazn (bentuk) khafiya yakhfa, berarti: menjadi besar; dan ketiga, rabba yarubbu dengan wazn (bentuk) madda yamuddu, berarti: memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara. (Abdurrahman an-Nahlawi, 2001: 42)

Untuk mengarahkan pada pola pendidikan keluarga Muslim, Abdurrahman al-Bani dalam an-Nahlawi, menegaskan bahwa, fungsi keluarga ada empat, yaitu: Pertama, menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh; kedua, mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam; ketiga, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi ini menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layak baginya; keempat, proses ini dilaksanakan secara bertahap, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Baidlawi dan ar-Raghib dengan sedikit demi sedikit”. (Abdurrahman An-Nahlawi, 2001: 42)

Dalam pelaksanaan pendidikan keluarga yang diutarakan an-Nahlawi, tidak bisa terlepas dalam menjaga dan memelihara fitrah hingga akhil baligh, mengarahkan fitrah, dan potensi untuk kebaikan, dan kesempurnaan, serta proses pendidikan dilakukan secara bertahap, dimaksudkan untuk memaknai arti kehidupan dalam proses pendidikan bagi keluarga Muslim.

Sedangkan esposito membentangkan makna pendidikan keluarga Muslim seperti berikut ini. Keluarga berarti hal-hal yang berbeda di masyarakat-masyarakat yang berlainan dan dalam konteks yang berbeda-beda. Di dunia Barat, abad ke 20 keluarga sering dipahami sebagai “keluarga inti”, satu atau dua orang tua dan anak-anak mereka.(Esposito, 2002: 154)

Kata Arab untuk keluarga, ahl, atau ahila, merupakan istilah yang lebih komprehensif dan dapat mencakup kakek-nenek, paman, bibi, dan sepupu dari dua belah ikatan pernikahan. Dalam arti terluasnya, keluarga dapat dipandang sebagai unit yang bahkan lebih besar, yang sama dengan umat, atau kelompok mukmin, umat Islam, atau keluarga itu sendiri. (John L. Esposito, 2002: 154)

Di sini terdapat penbedaan menurut Esposito antara keluarga yang ada di Barat sebagai keluarga inti dengan satu atau dua anak. Sedangkan dalam keluarga Muslim, keluarga mencakup kakek-nenek, paman, bibi, dan sepupu dari dua belah ikatan pernikahan, sehingga dalam arti luas, keluarga dipandang sebagai unit lebih besar, sama dengan umat atau kelompok mukmin, umat Islam, atau keluarga itu sendiri atas dasar aqidah Islamiyah.

Untuk penyebutan suatu keluarga, Mufidah mengemukakan, bahwa: Keluarga dalam bahasa arab disebut ahlun. Di samping kata ahlun bisa memiliki pengertian keluarga adalah ali dan asyir. Kata ahlun berasal dari kata ahila yang berarti senang, suka, atau ramah. Menurut pendapat lain, kata ahlun berasal dari kata ahala yang berarti menikah. Secara lebih luas, ahlun adalah sekelompok orang yang disatukan oleh hubungan-hubungan tertentu, seperti hubungan darah (keluarga), agama, pekerjaan, rumah atau negara. (Mufidah Ch., 2008: 40)

Menurut Ramayulis, (Ramayulis, 2001: 8) ahlun adalah sekelompok orang disatukan oleh hubungan tertentu, seperti hubungan darah, agama, pekerjaan, rumah atau negara, namun ahlun juga diartikan ali atau asyir, tinggal bagaimana mau memaknai keluarga, tentunya keluarga yang telah ada ikatan pernikahan, satu agama Islam dan satu komunitas masyarakat di suatu kawasan atau negara.

Dalam al-Qurān, kata ahlun disebut sebanyak 227 kali. Kata ahlun memiliki pengertian (1) menunjuk pada manusia yang memiliki pertalian darah atau perkawinan, seperti ungkapan ahlu al-bait atau seperti dalam ayat yang dibahas ini. Pengertian dalam bahasa Indonesia disebut keluarga; (2) menunjuk pada suatu penduduk yang mempunyai wilayah-geografis atau tempat tinggal, seperti ucapan ahlu al-qur’ān, ahli yarib, ahlu al-balad dan lain-lain. Dalam bahasa sehari-hari disebut warga atau penduduk; (3) menunjukkan pada status manusia secara teologis seperti ahlu al- Żikr, ahlu al-kitab, ahlu al-nar, ahlu al-jannah dan sebagainya. (Ramayulis, 2001: 8)

Dalam lingkungan keluarga menurut Ulwan, orang tua bertanggung jawab menciptakan lingkungan kondusif dan islami bagi anak, orang tua dituntut untuk menyiapkan anak shaleh di dalam hatinya tertanam iman dan Islam. Penciptaan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak ini akan membawa nikmat dan kesejukan bagi keluarga. (Abdullah Nashih ‘Ulwan, 1990: 7) Perbuatan orang tua dalam kehidupan sehari-hari pada lingkungan keluarga Muslim merupakan metode yang efektif bagi pembinaan kepribadian, apa yang disaksikan anak akan langsung diserap maknanya oleh anak sebagai suatu yang seyogyanya ditiru.

Kewajiban orang tua harus bisa memberikan pendidikan, pengajaran dan pengalaman yang baik bagi anak. Nabi SAW bersabda: Tiada seorang manusia dilahirkan kecuali dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi. (H.R. Muslim).

Anak memulai mengenal agama dengan mengikuti agama orang tua. Mendidik anak dalam keluarga Muslim, merupakan pekerjaan yang harus dilakukan oleh orang tua. Di sini anak mulai bersosialisasi dan mulai mentransfer segala informasi, kata dan perbuatan serta menginternalisasikan ke dalam dirinya untuk dijadikan rujukan utama dalam perjalanan hidup hingga tumbuh dewasa.

Indikator pendidikan keluarga Muslim, mengilustrasikan perilaku keberagamaan orang tua dalam menampilkan perilaku sebagai keluarga: (a) memiliki ketahanan/kekuatan aqidah penanaman kepada Allah SWT; (b) orang tua memiliki ketaatan beribadah kepada Allah SWT, dipraktekan orang tua bersama anak-anaknya dalam kehidupan keluarga sehari-hari; (c) orang tua secara konsisten menampilkan perilaku/akhlak yang mulia kepada Allah SWT, orang tua bersama anak-anak konsisten beribadah kepada Allah, orang tua mendidik bagaimana anak berakhlak terhadap orang tua, saudara, segenap famili dan tetangganya, termasuk di dalamnya menghormati tamu, bertetangga yang baik dengan sesama Muslim maupun non Muslim.(Yusron Masduki, 2020: 12-13)

Perbuatan orang tua dalam kehidupan sehari-hari pada lingkungan keluarga merupakan metode yang efektif bagi pembinaan kepribadian. Apa yang disaksikan anak akan langsung diserap maknanya oleh anak sebagai suatu yang seyogyanya ditiru. Di sini orang tua dituntut aktif dalam melakukan hal-hal yang sifatnya meningkatkan usaha produktif dalam situasi Covid-19 ini. Dengan melakukan pemberdayaan potensi keluarga beserta anggota keluarganya untuk melatih keterampilan seperti mencocok tanaman sayuran, berbagai tanaman hias, tanaman apotik hidup, membuat kerajinan tangan, dan sejenisnya.

Pemberdayaan Ekonomi Umat

Untuk menghadapi fenomena alam yang akhir-akhir ini mengguncangkan dunia ( Covid-19), sebagian orang menjadikan momok dengan kasus ini, yang sebelumnya tidak bisa diprediksi makhluk corona yang notabenenya berasal dari Wuhan Cina. Lantas, bagaimana seyogyanya apa yang harus dilakukan oleh keluarga, karena fenomena alam itu terjadi di seluruh dunia, dan hanya beberapa negara yang terlewat dengan virus mini.

Secara ekonomi, virus ini dapat meluluhlantakkan jaringan ekonomi, bisnis mulai dari hulu hingga hilir, tidak terkecuali jaringan pendidikan formal, non formal, sampai in formal. Untuk menghadapi hal tersebut, perlu ketahanan yang harus dikedepankan yakni dari membangun resiliensi pendidikan keluarga dalam pemberdayaan ekonomi umat.

Di sini, mengacu pada pengertian FAO mengenai ketahanan pangan, untuk mencapai kondisi ketahanan pangan, harus memenuhi empat komponen yang harus dipenuhi. Yaitu: pertama, kecukupan ketersediaan bahan pangan; kedua, stabilitas ketersediaan bahan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun; ketiga, aksesibilitas/keterjangkauan terhadap bahan pangan; serta keempat, kualitas/keamanan bahan pangan yang digunakan.

Sejalan dengan Peraturan Pemerintah No 68 tahun 2002 tentang ketahanan pangan, ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah, maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan pada dasarnya bicara soal ketersediaan pangan (food avaibilitas), stabilitas harga pangan (food price stability), dan keterjangkauan pangan (food accessibility).

Kemampuan keluarga untuk saling mendukung dan saling bekerjasama dalam situasi seperti Covid-19 sangat dibutuhkan. Tantangan terbesar adalah membuat keluarga tetap dapat memikirkan dan mengerjakan sesuatu untuk diberdayakan dalam situasi yang tidak kondusif. Idealnya semua yang dibutuhkan oleh satu anggota keluarga perlu diupayakan oleh anggota keluarga yang lain. Seperti ketika menghadapi penurunan dalam tingkat ekonomi atau ada anggota keluarga yang sakit, maka hal-hal tersebut perlu dipikirkan atau menjadi bahan muhasabah, apa hikmah di balik fenomena alam ini?

Sebagai contoh saat perekonomian masyarakat sedang menurun, maka seluruh anggota keluarga diharapkan untuk dapat melakukan penghematan terhadap biaya konsumtif. Serta melakukan penghematan di berbagai hal di dalam rumah tangga seperti lebih memperhatikan penggunaan listrik, air, pulsa, dan sebagainya.

Sumber pangan tidak melulu berasal dari tanaman yang ada di sawah maupun ladang saja. Melainkan juga bisa disediakan di pekarangan rumah, atau lingkungan sekitar rumah. Salah satunya adalah dengan pemanfaatan pekarangan. Pemanfatan pekarangan dalam konteks ini tentunya pekarangan yang dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, sayuran harian, ternak, ikan, sampai tanaman hias (seperti anggrek, anggur, melon) sehingga mempunyai nilai ekonomis akan akan ketersediaan bahan pangan yang beranekaragaman secara berkelanjutan secara terus menerus, guna pemenuhan asupan gizi keluarga atau usaha peningkatan gisi keluarga (UPGK). Untuk dapat memaksimalkan fungsi pekarangan rumah masing-masing, maka peran keluarga beserta anggota keluarga saling asah asih asuk untuk memberdayakan potensi di lingkungan pekarangan rumahnya dalam rangka ketahanan pangan keluarga.

Diperlukan Pelatihan Usaha Rumahan.

Untuk meningkat ketahanan pangan di level keluarga, maka diperlukan pelatihan usaha rumahan, yang bisa diikuti kelompok kecil 5-10 keluarga, sehingga saling memberi dan menerima kreativitas dalam usaha rumahan di tempat tinggalnya. Di sinilah peran keluarga sangat penting dilakukan, dalam hal ini untuk menjaga ketahanan pangan terbagi dalam tiga hal: pertama, kemampuan untuk mengatur ekonomi keluarga sehingga untuk membeli kebutuhan pangan bisa diminimalkan; kedua, kreativitas anggota keluarga dalam melakukan diversifikasi pangan; dan ketiga, kreativitas untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat menanam tanaman pangan. Peran-peran nyata dari anggota keluarag dalam menopang ketahanan pangan keluarga menjadi konstribusi nyata untuk menunjang ketahanan pangan, sehingga bisa untuk menghemat biaya yang sifatnya komsumtif.

Namun untuk dapat menjalankan dengan baik peran keluarga tersebut di atas, kreativitas untuk dapat memanfaatkan lahan kosong tersebut, diperlukan pengelompokan semacam dasa wisma. Kalau di Aisyiyah ada program qaryah thayyibah dengan mengelompokkan klaster sesuai dengan bidangnya masing-masing anggota kelompok. Maka diperlukan pembinaan dengan diadakan pendampingan sampai mereka berhasil.

Hasil yang diharapkan dari pelatihan tersebut adalah meningkatnya keterampilan anggota kelompok usaha perempuan untuk memanfaatkan pekarangan. Tujuan dari kegiatan ini adalah pertama, untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro keluarga secara berkesinambungan melalui kegiatan pemanfaatan pekarangan. Kedua, meningkatkan keterampilan anggota kelompok dalam budidaya tanaman, sekaligus pengolahannya dengan teknologi tepat guna. Selain untuk konsumsi keluarga, tanaman tersebut tentu bisa mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Jika dilakukan secara intensif pekarangan mampu memberikan sumbangan pendapatan 7 hingga 45%. Dengan demikian, apakah kita masih berfikir dua kali untuk mengelola pekarangan kita?

Resiliensi Keluarga Tangguh

Keluarga memiliki peran yang sama besarnya dengan individu dalam membentuk resiliensi keluarga. Namun, faktor protektif yang menumbuhkan resiliensi dalam keluarga berbeda dengan individu. Faktor protektif dalam keluarga meliputi: struktur keluarga, stabilitas hubungan dengan pasangan, interaksi antara orang tua dan anak, dukungan sosial, kestabilan dalam penghasilan, dan sebagainya (Benzies dan Mychasiuk, 2008)

Tumbuh dan berkembangnya resiliensi keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik individu di dalam keluarga tetapi juga dipengaruhi oleh komunitas atau masyarakat dan lingkungan di sekitar individu tersebut. Faktor protektif dalam komunitas meliputi: keterlibatan dalam komunitas, penerimaan teman sebaya, lingkungan yang aman, dan sebagainya (Benzies dan Mychasiuk, 2008).

Kemampuan keluarga untuk saling mendukung dan saling bekerja sama dalam situasi seperti saat bencana seperti Covid-19 ini sangat dibutuhkan. Tantangan terbesar adalah membuat keluarga tetap tegap, tegar, tangguh, tidak patah arang, dapat memikirkan dan mengerjakan sesuatu secara cerdas, serqa dapat menciptakan inovasi-inovasi selama masa pandemic, seperti yang lakukan oleh program kerja Majlis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Magelang 2015-2020.yang telah mencanangkan pemberdayaan dalam berbagai setor, salah satu diantaranya pemberdayaan ekonomi uamat seperti ikan (Lele, Patin, Gurameh, Nila dll) pemberdayaan tanaman hias yang punyai nilai ekonomi cukup tinggi, seperti anggrek. Saat ini MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah Magelang punya komunitas anggrek dalam rangka pemberdayaan lingkungan pekarangan rumah warga masyarakat secara berkelanjutan.

Seperti pada saat ini perekonomian sedang mengalami kelesuna, menurun maka seluruh anggota keluarga mengupayakan penghematan terhadap barang-barang kebutuhan makanan, dan sebagainya, yang biasanya ingin makanan tertentu dengan menggunakan pesan antar online dapat dijadikan latihan anggota keluarga untuk tetap mengajari anggota keluarga untuk memasak di rumah, yang mungkin selama ini sering makan di lua rumah, dan ini bisa sharing ide dalam hal menentukan pilihan makanan yang akan dibuatnya, termasuk dalam upaya penghematan dalam penggunaan listrik, air, telpon, biaya transportasi dan sejenisnya.

C. Penutup

Membangun relisiensi sudah seyogyanya dilakukan sejak dini, anak-anak sudah harus dilatih, baik dalam keadaan lapang maupun dalam menghadapi kesulitan, termasuk kesulitan ekonomi yang sangat krusisal ini. Kartena musibah ini tidak hanya lepndan salah satu negara, namun hamper merata seluruh dunia, maka sejak diperlukan daya juang, daya lenting atau resiliensi dalam membangkitkan semangat juang dalam segalla bidang, termasuk pemberdayaan ekonomi umat melalui usaha rumahan, karena secara langsung maupun tidak langsung peristiwa alam virus Covid-19 ini akan menurunkan daya juang sebagian warga masyarakat.

Untuk itu pemberdayaan ekonomi umat sangat diprioritaskan, dan idealnya semua yang dibutuhkan oleh satu anggota keluarga perlu diupayakan oleh anggota keluarga yang lain, seperti ketika menghadapi penurunan dalam tingkat ekonomi atau ada anggota keluarga yang sakit, maka hal-hal tersebut perlu dipikirkan atau menjadi bahan muhasabah, apa makna dibalik peristiwa yang sangat mengemparkan dunia saat ini.

Semua kondisi yang dialami oleh keluarga sangatlah berat dalam menghadapi epidemi ini. Kejadian ini merupakan sebuah proses pematangan jiwa, kesabaran dan tetap istiqamah, tidak pustus asa, waktunyapun belum tahu sampai kapan epidemi ini berakhir, anggota keluarga dituntut untuk tunduk, patuh dan tawakal kepada Allah dengan menggiatkan shalat malam, membaca al-qur’an, bersedekah, membantu fakir miskin, serta saling mengingatkan dalam kesabaran, karena semua ini adalah cobaan dari Allah dan akan kembali kepada Allah SWT, kita tetap semangat, punya ghirah yang kuat/resiliensi/daya lenting yang kuat, umat Islam tidak boleh putus asa dalam menjalani roda kehidupan, dan kita dituntut tetap harus bersyukur kepada Allah SWT dalam menghadapi kenyataan, dan jangan lari dari kenyataan, sehingga hati akan menjadi tenang, tentram, dengan penuh keikhlasan. Wallahua’lam bishawab.

Al-Qur’an dan Terjemah. 1995. Jakarta: Departemen Agama RI,

Bronfenbrenner. 1986. “Ecology of the Family As A Context for Human Development Research Perspectives”, Developmental Psychology, 22, 6,1986.

Ch, Mufidah. 2008. Psikologi Keluarga Islam, Malang: UIN Malang.

Esposito, John L. 2010. Masa Depan Islam: antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, terj. Eva Y. Nukman dan Edi Wahyu SM, Bandung: Mizan.

Masduki, Yusron. 2020. Tantangan Keluarga di tengah komunitas non Muslim di Yogyakarta, (Palembang: Tuans Gemilang Press, 2020)

Nahlawi an-, Abdurrahman. 2001. Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, terj. Herry Noer Ali, dari judul asli Ushulut Tarbiyyatil Islamiyah Wa Asalibuha, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, Jakarta: PP RI

Ramayulis. 2001. Pendidikan Islam dalam Rumah Tangga, Jakarta: Kalam Mulia.

Benzies & Mychasiuk. 2009. Primary contexts in the socio-ecological model, resiliency is enhanced

Walsh. F. 2006. Stengthening family resilience, New York: Guildord Press

(Visited 164 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 22 Mei 2020

Selanjutnya »

Close