Ditulis oleh 8:40 am COVID-19

Membangun Sifat Syaja’ah di Era Pandemi Covid-19

Kita harus dapat mengendalikan rasa takut yang tidak perlu, karena kita memiliki sandaran dan pelindung yang kokoh yaitu Allah SWT.

Syaja’ah artinya berani atau keberanian. Syaja’ah merupakan kondisi bathiniah seseorang yang diwujudkan dalam setiap lahiriahnya untuk berbuat atau tidak berbuat dengan menerima segala resiko. Berani berbuat itu karena didasarkan pada kebenaran dan keyakinan diri. Tidak berani berbuat andaikata sesuatu itu memang harus kita jauhi dan kita tinggalkan, karena bertentangan dengan norma-norma agama, adat ataupun susila.

Sebagai seorang muslim, kita seharusnya memiliki keberanian. Kita harus dapat mengendalikan rasa takut yang tidak perlu, karena kita memiliki sandaran dan pelindung yang kokoh yaitu Allah SWT. Sepanjang persoalan yang kita hadapi itu kita yakini kebenarannya, maka tidak perlu takut. Pandemi Covid-19 merupakan sesuatu yang harus dihadapi dengan penuh keberanian dan kesabaran, dan yakin bahwa ujian yang datangnya dari Allah itu akan segera sirna dari muka bumi ini. 

Ada beberapa macam bentuk asy-syaja’ah (keberanian) bagi seorang muslim, yakni: Pertama, memiliki daya tahan besar dan kuat. Seseorang dapat dikatakan memiliki sifat berani jika ia memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah, termasuk ujian pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir ini. Tetap semangat dan semangat menghadapi ujian hidup ini dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.  Kedua, berterus terang dalam kebenaran. “Qulil haq walau kaana muuran” (katakan yang benar meskipun itu pahit). Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala resiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran. 

Ketiga, kemampuan menyimpan rahasia. Orang yang berani adalah orang yang bekerja dengan baik, cermat dan penuh perhitungan terutama dalam persiapan kesungguhan  menghadapi perjuangan hidup. Kemampuan merencanakan dan mengatur strategi termasuk di dalamnya mampu menyimpan rahasia adalah merupakan bentuk keberanian yang bertanggung jawab. Keempat, siap mengakui kesalahan. Seseorang yang memiliki sifat pengecut adalah tidak mau mengakui kesalahan, mencari kambing hitam dan bersikap “lempar batu, sembunyi tangan”. Sebaliknya orang yang memiliki sifat syaja’ah berani mengakui kesalahan, mau meminta maaf, bersedia mengoreksi kesalahan dan bertanggung jawab. 

Kelima, bersikap obyektif terhadap diri sendiri. Ada orang yang cenderung bersikap over estimate terhadap dirinya, menganggap dirinya baik, hebat, mumpuni dan tidak memiliki kelemahan serta kekurangan. Sebaliknya ada yang bersikap under estimate terhadap dirinya yakni menganggap dirinya bodoh, tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak memiliki kelebihan apapun. Kedua sikap tersebut jelas tidak proporsional dan tidak obyektif. Orang yang berani akan bersikap obyektif, dalam mengenali dirinya yang memiliki sisi baik dan buruk.

Keenam, dapat menahan nafsu di saat marah. Seseorang dikatakan berani bila ia tetap mampu ber-mujahadah li nafsi, melawan nafsu dan amarah. Kemudian ia tetap dapat mengendalikan diri dan menahan tangannya padahal ia punya kemampuan dan peluang untuk melampiaskan amarahnya. Pandemi Covid-19 sekarang ini merupakan kesempatan yang paling baik untuk membangun sikap saja’ah bagi setiap muslim, untuk secara bertahap dapat mengatasi ujian hidup yang sedang melanda saat ini.

(Visited 18.091 times, 158 visits today)
Tag: , , Last modified: 26 Juni 2020
Close