Ditulis oleh 6:32 pm KABAR

Membangun Solidaritas Di Masa Pandemi Covid-19

Kita menyaksikan masyarakat bahu membahu untuk saling membantu.

Hari ini kita dihadapkan pada pandemi global Covid-19 yang tidak disangka sebelumnya. Semua negara melakukan segala daya upaya agar virus ini tidak berkembang. Di negara maju pun catatan penderita dan angka kematian tidak sedikit. Di Italia dan Amerika Serikat –dua negara hebat– yang ternyata persentase korbannya paling tinggi. Belum lagi ekses yang ditimbulkan dari upaya-upaya pencegahan berkembangnya virus ini. Akibat pembatasan mobilitas –apapun namanya– lockdown, PSBB, karantina wilayah, dan lain-lain, banyak terkena dampaknya. Banyak pekerja kehilangan pekerjaan, harga produk pertanian dan peternakan anjlok, kelangkaan bahan pangan di mana-mana dan lain-lain.

Kemudian, secara mental banyak yang mengalami sikap paranoid, ketakutan yang berlebihan terhadap virus ini. Ada daerah yang menolak dikuburkannya korban Covid-19, tidak berempati pada korban, dan hal-hal lainnya yang merupakan ekspresi kecemasan psikologis. Permasalahan ini lebih diperparah lagi dengan ketidakjelasan waktu kapan virus ini akan berakhir. Ada yang menyatakan Juli, Agustus atau malah akhir tahun. Penanganan pemerintah pun terkesan lamban, miskomunikasi dan miskoordinasi. Tapi….ya sudahlah..kita hanya bisa berharap mereka yang di atas dimudahkan dan dimampukan untuk menyelesaikan tugasnya dalam mengelola negara keluar dari pandemi ini.

Bagaimanaupun kehidupan akan terus berjalan dengan ataupun tanpa pandemi Covid-19. Sehingga, di tengah kondisi yang serba tidak menentu seperti ini kita mesti yakin bahwa semua ini akan berakhir. Namun, karena kepastian waktu berakhirnya tidak jelas, maka ada baiknya kita mulai untuk berdamai dengan keadaan, atau istilah yang muncul adalah ‘new normal’. Melakukan semua urusan pekerjaan dari rumah. Jika memang harus keluar rumah maka harus mematuhi segala protokol-dan aturan yang dicanangkan oleh WHO: memakai masker, jaga jarak, mencuci tangan dan lain-lain.

Kembali ke urusan dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini, sesungguhnya pemerintah tidak mungkin sendirian menghadapi persoalan yang berat ini. Di tengah banyaknya korban dan besarnya dampak ekonomi yang timbul, masyakarat juga aktif terlibat. Masyarakat bahu membahu untuk saling membantu. Meski semua kita menjadi korban, namun masih bersedia menyisihkannya untuk orang lain. Ada satu nilai yang perlu kita syukuri sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat, yaitu gotong royong, empati dan solidaritas yang tinggi.

Foto di atas adalah contoh dinding berbagi di RW 06 Kelurahan Warungboto sebagai bentuk solidaritas ibu-ibu PKK dalam upaya saling meringankan beban ekonomi terutama di saat ramadhan ini. Setiap pagi siapapun boleh meletakkan barang kebutuhan sehari-hari di dinding ini, lalu yang merasa perlu dan membutuhkan bisa mengambilnya. Kegiatan yang dikoordinis oleh PKK RW 06 ini merupakan bentuk sikap peduli sebagian ibu-ibu yang mengeluh sulit untuk belanja kebutuhan sehari-hari karena tidak punya uang.

Solidaritas ini diharapkan akan menjadi habbit baru dan memberikan hikmah bagi kita semua tentang makna berbagi. Dan selepas ini kita akan menjadi insan yang terus peduli dengan penderitaan orang lain. Covid-19 adalah nasehat untuk kita agar terpupuk rasa solidaritas berbagi antar sesama. Semoga bangsa Indonesia segera terlepas dari pandemi ini dan bangkit menjadi bangsa yang memiliki jiwa solidaritas yang kuat, dan menjadi bangsa yang hebat Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

(Visited 196 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 22 Mei 2020
Close