Ditulis oleh 9:57 am COVID-19

Membantu Kesehatan Mental Anak Era Covid-19

Persoalan mental dan emosional anak selama Covid-19, dapat didekati dengan pendekatan psikologis dan religius.

Oleh: Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA

“Orangtua yang efektif berpotensi membantu dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental anak”

Rochmat Wahab

Covid-19 secara nyata tidak hanya menimbulkan persoalan gangguan yang bersifa fisik, melainkan juga gangguan psikologis, terutama aspek mental dan emosi. Khususnya bagi anak-anak sekarang yang tidak bisa menghindari gangguan emosi, sangatlah membutuhkan bantuan para ahli kesehatan mental hingga ahli psikologi klinis. Mengapa, karena anak-anak secara mendadak harus menghadapi penutupan kegiatan belajar di sekolah dan pembatalan agenda lain serta pemisahan aktivitas anak dengan teman sebayanya. Untuk menjaga kondisi mental yang sehat, anak-anak sangat membutuhkan bantuan.

Dr. Lisa Damour (2020), menyarankan ada enam cara untuk membantu anak-anak-anak menciptakan rasa aman di rumah, baik saat ini maupun selanjutnya. Pertama, bersikap tenang dan proaktif. Orangtua seharusnya memiliki percakapan yang tenang (calm) dan proaktif dengan anak-anaknya tentang Covid-19 dan peran penting anak-anak yang dapat dimainkan dalam menjaga kesehatannya sendiri. Karena itu anak-anak harus dijauhkan dari intervensi orangtua yang berlebihan. Anak-anak dikenalkan gejala-gejala Covid-19 yang secara signifikan menonjol dan beberapa gejala relatif sama dengan gejala flue biasa. Orangtua mendorong anak untuk mengetahui gejala sendiri dan jika merasa tidak nyaman, maka segera meminta untuk diperiksa.

Kedua, melekatkan kepada sesuatu yang rutin. Anak-anak itu membutuhkan struktur. Apa yang seharusnya kita lakukan secara cepat adalah membuat struktur baru yang bisa menyebabkan setiap individu berada pada posisi sesuai agenda. Karena itu membikin jadwal harian menjadi penting. Yang jadwal itu dapat mengatur, kapan untuk belajar, waktu bermain, waktu nonton TV, istirahat, refreshing dsb. Pembuatan jadwal pada prakteknya ada yang sudah dibuat sejak dari awal, ada yang peralahan-lahan membuat karena harus menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada. Dengan adanya jadwal diharapkan bisa mengurangi kecemasan.

Ketiga, Biarkan anak-anak merasakan emosinya. Dengan penutupan sekolah yang menyebabkan pembatalan sekolah, aktivitas bermain di sekolah, pagelaran seni, pertandingan olahraga dsb yang semuanya disebabkan oleh mewabahnya Covid-19. Dengan kehilangan agenda-agenda tersebut tidak bisa dihindari mereka merasa sedih, kecewa, bahkan bisa jadi mereka frustasi karena mereka tidak bisa mendapatkan kesempatan satu-satunya selama belajar di sekolah terebut. Katakanlah kesempatan satu-satunya mau tampil pada acara perpisahan atau pelepasan dari sekolah yang sangat dicintai. Untuk itu kita harus tunjukkan rasa empati kepada semua yang benar-benar terganggu agendanya.

Keempat, Periksa apa yang mereka dengarkan. Sering kali dalam situasi kejadian besar yang mendadak, kita menghadapi misinformasi. Perintah yang diberikan tidak ditangkap dengan benar, akibatnya mengambil barang salah. Kejadian ini tidak bisa lepas dari kondisi emosi yang bergejolak. Karena itu harus dapat dipastikan bahwa anak telah mendapatkan perintah secara akurat sehingga pekerjaan atau tugas dikerjakan sesuai dengan instruksinya. Jika kita ditanyai oleh para siswa, dan kita tidak bisa menjawab dengan benar, usahakan tidak menjawab dengan menebak yang ada kemungkinan bisa salah. Karena itu usahakan untuk menjawabnya dengan membahas bersama-sama siswa, sehingga pemahaman masalahnya sama dan dapat menjawab seperti yang diinginkan siswa. Seandainya anak-anak dalam masa Covid -19 menghadapi bullying, maka Jangan anak-anak dibiarkan untuk menghadapi sendiri. Namun usahakan mencari orang dewasa yang mampu membantu penyelaaian bullying.

Kelima, Ciptakan selingan yang menyenangkan. Ketika datang menemukan kesulitan, maka carilah tanda-tanda yang ada pada anak untuk keseimbangan antara apa yang dibicaraksn dengan selingan yang menyenangkan sehingga bisa menyelesaikan kekecewaam yang dirasakan oleh anak. Untuk itu orangtua perlu bikin selingan dengan main game berberapa hari sekali dalam seminggu dan masak bersama-sama dalam event-event tertentu.

Keenam, Monitor perilaku kita sendiri. Orangtua yang nampak terlalu cemas menghadapi Covid-19, dapat berdampak terhadap emosi anak. Orangtua yang dapat memanaj kecemasan sendiri dengan waktu yang ada tidak perlu harus disebarkan kepada anak. Karena yang demikian tidak memberikan manfaat bagi anak, justru anak menjadi tahu bagaimana kondisi orangtuanya. Apapun kondisinya bahwa orangtua harus berusaha keras memberikan rasa aman dan membikin iklim emosional yang menyenangkan. Jangan membuat anak ikut stres. Analog dengan seorang sopir yang dalam keadaan sulit, jangan kesulitannya itu diobral ke penumpang. Karena itu belum tentu menjadi solusi yang terbaik. Boleh jadi dapat mempengaruhi emosi penumpang yang pada akhirnya bisa mengganggu ketenangan sopir. Yang itu lebih baik bagi keselamatan semua.

Memperhatikan keenam cara yang ditawarkan di atas dapat dikesankan bahwa semua bernuansa duniawiyah. Kondisi mental dan emosi anak hanya diukur dengan parameter duniawiyah. Padahal dampak Covid-19 terhadap kondisi paikologis, baik mental maupun emosional tidak bisa dihindari. Akan lebih efektif jika persoalan mental dan emosional, disamping dapat didekati dengan pendekatan psikologis juga dengan pendekatan religius. Orangtua perlu menciptakan iklim yang kondusif untuk terciptanya aktivitas keagamaan yang menyenangkan. Dalam konteks ini spiritual healing bisa menjadi alternatif solusi untuk mendukungnya. Dengan harapan bahwa persoalan dan kebutuhan pembinaan mental dan emosi anak bisa ditangani lebih tuntas. (Yogyakarta, 17/04/2020, Jum’at, pk 09.30)

Penulis: Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

(Visited 81 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 19 April 2020
Close