Ditulis oleh 9:15 am KALAM

Membentuk Anak Yang Bahagia

Orangtua memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anak serta agar tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bahagia.

Pernahkah Anda merasa bahwa anak-anak Anda jarang berada di rumah? Pernahkah Anda merasa bahwa anak-anak Anda merasa tidak betah untuk berada di rumah? Pernahkah Anda merasa bahwa waktu anak-anak Anda lebih banyak dihabiskan di luar? Mungkin bersama teman-temannya? Berhati-hatilah Bapak….Ibu…. mungkin saja anak Anda merasa tidak bahagia jika berada di rumah.

Mengapa tidak bahagia? Kan saya sudah selalu memberikan apa yang anak saya mau? Mengapa tidak bahagia? Walaupun saya tidak punya banyak uang, tapi saya kan sudah mencukupi segala kebutuhannya?

Bapak dan Ibu…. Kebahagiaan anak tidak hanya dapat dibentuk dan dibangun dengan pemberian materi (uang) saja, tapi ada banyak hal selain materi yang dapat mempengaruhi kebahagiaan anak, yakni melalui unsur psikologis atau perkembangan kejiwaan. Salah satunya adalah dengan cara mendidik dari orangtua kepada anak. Cara mendidik anak yang seperti apa? Tentunya adalah cara mendidik dari orangtua yang dapat membangun kebersamaan dan kedekatan dalam keluarga sehingga anak merasa bahagia berada di rumah, cara mendidik dari orangtua yang dapat membangun dan membentuk kepribadian anak menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, dan berhasil dalam lingkungannya.

Orangtua dapat membangun kebersamaan dan kedekatan dalam keluarga sehingga anak merasa bahagia berada di rumah.

Pernahkah kita berpikir, bahwa segala ucapan yang kita sampaikan pada anak kita turut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak kita di kemudian hari? Pernahkah kita berpikir, bahwa segala yang kita ucapkan pada anak kita turut mempengaruhi kebahagian anak?

Perlu untuk diketahui, bahwa bila di masa dewasa seseorang menjadi sosok yang merasa kurang bahagia, sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap orangtuanya di saat masih dalam pengasuhan mereka. Nah, ini yang kadang perlu diwaspadai, seringkali (meskipun tidak bermaksud demikian), orangtua sudah menanamkan benih-benih ketidakbahagiaan pada anak (Etty, 2003). Orangtua seringkali telah menghipnotis anak melalui ucapan mereka sehingga anak jati tidak menyukai diri mereka sendiri (Bidulph dalam Etty, 2003). Jika sejak kecil, anak sudah seolah-olah diprogram untuk tidak bahagia oleh orangtuanya, maka hal tersebut dapat mengakibatkan anak memiliki masalah (entah kepribadian, sosial, maupun lainnya) dalam hidupnya.

Turut menjadi catatan adalah terkadang tanpa sadar orangtua sering memaki anaknya. Menurut Etty (2003), “program-program” seperti inilah yang kemudian dibawa oleh anak dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka. Kata-kata bernada negatif (“kau memang selalu menyusahkan”, “nakal”, “ngeyel”, dan lain-lain) sering diucapkan oleh orang tua terutama saat meeka geram pada anak. Sayangnya (karena mungkin terlalu sering diucapkan), kalimat-kalimat yang diucapkan tersebut dapat berubah menjadi kenyataan pada anak. Na’udzubillahimmindzalik…

Penelitian dari Gottman dan DeClaire (2003) membuktikan, bahwa penghinaan semacam itu merusak komunikasi orangtua dan anak serta merusak harga diri anak. Akibatnya dapat dilihat, anak akan merasa tidak bahagia untuk berada di rumah. Anak menjadi tidak suka berlama-lama di rumah bersama orangtuanya. Bahkan hal tersebut dapat membentuk kepribadian anak menjadi anak yang tidak percaya diri, dan pribadi anak menjadi tidak jauh berbeda dari kalimat-kalimat negatif yang sudah disampaikan oleh orangtuanya. Menurut Bidulph (Ety, 2003), komentar-komentar menyakitkan yang dilontarkan orangtua tidak hanya membuat anak merasa bersalah pada saat dimarahi saja, tapi mempunyai efek hipnotis dan bekerja tanpa disadari. Bila orangtua menggunakan cara berbicara tertentu, maka orangtua bisa memasuki alam tidak sadar dari anak dan menanamkan suatu program pada diri anak. Sehingga pada akhirnya, benih dalam pikiran tersebut tumbuh dan menjadi kepribadian anak itu.

Hingga batas tertentu, anak-anak cenderung meniru orangtua. Jika orangtua suka memaki atau menyumpah, kelak mereka dapat memiliki kebiasaan seperti itu. Jika orangtua kasar pada anaknya, kelak anak pun bisa demikian. Sebaliknya, jika orangtua memberi teladan tentang kebajikan dan perhatian, anak pun akan meniru hal itu.

Menurut Bidulph (Etty, 2003), ada 3 tipe orangtua, yakni :

  1. Tipe Agresif: Hampir selalu marah pada anak.
  2. Tipe Pasif: Orangtua yang lemah, yang akan segera merasakan bahwa dirinya mudah dipermainkan oleh anak. Orangtua akan kesal juga karena kesulitan yang muncul akibat ulah anak.
  3. Tipe Tegas: Orang tua yang terbuka, namun mantap tindakannya, mendidik dengan optimis dan tenang. Anak akan sadar, bahwa apa yang dikatakan oleh orangtua harus dilaksanakan tanpa harus merasa ditekan atau dihina. Tipe yang dapat membuat anak menjadi stabil dan bahagia.

Agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bahagia, orangtua perlu waspada terhadap komentar-komentar yang dilontarkan. Anak pun perlu tahu sejak dini bahwa mereka dicintai dan dihargai. Hal ini bisa sungguh-sungguh anak sadari bila diutarakan kepada mereka, sehingga mereka tidak pernah merasa diabaikan orangtua. Orangtua juga harus berhati-hati terhadap kebiasaan-kebiasaan tersembunyi seperti mengecam, kasar, dan menghina. Waspadalah jangan sampai Anda mengolok-olok anak Anda, karena anak cenderung mempercayai apa saja yang dikatakan oleh orangtua mengenai diri mereka sendiri.

Anak pun perlu tahu sejak dini bahwa mereka dicintai dan dihargai.

Selain itu, sangat disarankan agar orangtua kerap memberi pujian pada anak untuk mengembangkan harga dirinya, dan tentunya untuk menumbuhkan rasa percaya pada dirinya. Menurut Etty (2003), pujian dapat menjadi tanda bagi anak bahwa orangtua menilai dan menghargai perbuatan dan usaha mereka. Dengan pujian, anak akan merasa bahwa orangtua sungguh-sungguh memperhatikan mereka. Sama seperti yang dikatakan oleh Dewey (Etty, 2003), bahwa pujian akan memberikan anak perasaan berharga yang diperlukan, perasaan mampu, dan percaya terhadap diri sendiri. Tentunya hal tersebut dapat membuat anak menjadi lebih bahagia juga.

Oleh karena itu, sebagai orangtua, berhati-hatilah dalam bertutur kata…. Bukankah anak adalah denyut jantung rumah tangga….


Referensi:
Etty, M. 2003. Menyiapkan masa depan anak. Jakarta: Penerbit Grasindo.
Gottman, J., & DeClaire, J. 2003. Kiat-kiat membesarkan anak yang memiliki kecerdasan emosional. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

(Visited 238 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 10 Mei 2020
Close