Ditulis oleh 12:20 pm KALAM

Membentuk Karakter Anak dengan Konsep Sederhana

Membangun karakter adalah proses pembelajaran seumur hidup yang melibatkan pengalaman, kepemimpinan, dan dedikasi.

Karakter berasal dari bahasa Yunani kharakter, yang bermakna kurang lebih “mengukir dengan tongkat.” Bayangkan karakter seperti sebuah cap yang Anda gunakan untuk menghasilkan kesan pada lilin yaitu diri Anda. Berapa pun usia atau pengalaman Anda, membangun karakter adalah proses pembelajaran seumur hidup yang melibatkan pengalaman, kepemimpinan, dan dedikasi terus menerus untuk tumbuh dan dewasa. Mulailah membangun karakter saat ini juga. 

Semua orang tua pasti ingin anak-anaknya bisa bersikap baik. Hal ini tentunya perlu dilatih, Bun, salah satunya dengan membangun karakter baik pada anak yang baiknya dilakukan sejak dini. Kata psikolog anak Novita tandry, orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Terutama seorang ibu yang jadi contoh pertama yang dilihat anak. Kata Novita, ibu adalah role model, bukan super model.

Memiliki anak dengan karakter baik merupakan idaman semua orang tua. Namun, membentuk karakter baik pada anak tidak semudah memasak sebuah resep masakan yang bisa diprediksi waktu, bahan, dan caranya. Membentuk karakter anak adalah proses yang membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa instan.

1. Berikan teladan

Teladan memiliki kekuatan berkali-kali lipat daripada kata-kata. Banyak orang tua yang terlalu fokus pada memberikan nasihat ketika anak tidak memiliki karakter yang baik, padahal anak adalah peniru ulung. Jika kita menginginkan anak kita memiliki karakter yang baik, maka hal tersebut berlaku sebaliknya, yakni orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu. Pembentukan karakter baik anak dimulai dengan pembentukan karakter baik orang tua. Meskipun kata-kata dibutuhkan, namun teladan tetap nomor satu dalam pembentukan karakter.

Baca juga: Penanggulangan Kenakalan Remaja Pada Era Milenial

2. Kompak dengan pasangan

Tidak jarang anak memiliki kebingungan akan nilai karena orang tuanya tidak kompak. Menurut Ayah A adalah benar namun menurut Bunda A itu salah. Ketika sebuah nilai diterapkan, maka kesatuan frekuensi dari Ayah dan Bunda adalah sebuah keharusan. Karakter anak dibentuk dari kebiasaannya merespon sesuatu. Jika anak melihat nilai yang diterapkan di dalam keluarganya tidak konsisten, maka dia pun cenderung tidak memiliki keteguhan di dalam karakternya. Saat Ayah dan bunda tidak memiliki kekompakan, anak menjadi bingung dan tertekan. Dia tidak tahu harus mengikuti siapa.

3. Terapkan Mindset: “Tidak ada anak yang dilahirkan nakal”

Sebelum kita melakukan yang lain, maka ubahlah persepsi bahwa anak kita adalah kertas kosong. Milikilah mindset bahwa anak adalah sebuah benih yang memiliki kecenderungan untuk tumbuh berbuat baik. Tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah orangtua yang memiliki pola asuh yang tidak tepat, sehingga menyimpangkan fitrah anak untuk berbuat baik. Misalnya, di saat anak memiliki adik (sedangkan pada saat itu sang adik masih bayi dan belum saatnya digendong), dia memiliki kecenderungan untuk menolong adiknya yang menangis dengan cara menggendongnya. Di saat demikian, seringkali orang tua memarahi anak untuk tidak menggendong, tanpa bertanya terlebih dahulu mengapa anak melakukan hal tersebut. Sehingga ketika adik sudah besar, sang kakak tidak pernah mau lagi dekat atau bahkan membantu adiknya karena hal itu dianggap akan mengundang kemarahan orang tua.

4. Memuji perbuatan baik

Sebagai manusia adalah hal yang wajar jika kita merasa senang mendapat pujian dan bersedih ketika mendapat cacian. Walaupun pujian bukanlah tujuan dari berbuat atau berkarakter baik, namun anak yang sering dipuji perbuatan baiknya akan memiliki persepsi yang baik tentang membiasakan karakter yang baik di rumah. Anak yang terbiasa mendapat pujian akan perbuatan baiknya cenderung akan mempertahankan karakter baik dan tidak menjadi pemaki-maki. Anak akan terbiasa mengapresiasi temannya atau siapapun yang berbuat atau berkarakter baik karena telah mendapat pembiasaan di rumahnya.

5. Bangun Kedekatan

Apa yang orang tua katakan atau ajarkan tidak akan pernah berbekas di dalam diri anak jika mereka tidak pernah menginvestasikan waktu mereka untuk menjalin kedekatan dengan anak. Banyak anak yang membalas perlakuan orang tua dengan mengabaikan karena saat kecil pun mereka sering diabaikan. Misalnya, di saat anak ingin bermain dengan kita, kita sibuk dengan gadget dan selalu mengatakan “nanti”. Jangan heran anak menjadi semakin menjauh karena kita sebagai orang tua tidak rajin menjalin kedekatan yang tidak bisa terjadi dengan tiba-tiba.

6. Banyak Mendoakan

Anak dilahirkan dari kita, namun kita tidak pernah bisa benar-benar memilikinya. Dia dibesarkan oleh kita, namun pemikiran dan tindakannya, dialah yang pada akhirnya menentukan. Usaha yang optimal wajib dilakukan, namun sebagai orang tua adakalanya kita merasa yang kita lakukan belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Maka perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi anak, sehingga kita selalu memiliki optimisme bahwa anak yang terlanjur membiasakan karakter buruk dapat mengubah karakternya menjadi positif sesuai doa kita. Jika perlu, doakan anak di saat ia berada di sisi kita dan kita kencangkan suara kita di depannya. Doa yang baik akan menjadi impian dan berkesan bagi anak saat diucapkan.

(Visited 86 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 13 Mei 2020
Close