Ditulis oleh 1:56 pm KALAM

Membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah (Dalam Prspektif al-Qur’an)

Konsep yang ada dalam surat Al-Fatihah dapat diaplikasikan dalam kehidupan membangun sebuah keluarga sakinah.

Pernikahan yang merupakan pintu masuk mengarungi kehidupan berkeluarga dalam konsepsi agama Islam merupakan rangkaian ibadah yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab kita sebagai hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya. Ketika berbicara tentang membina maghligai keluarga, maka akan terbayang dalam benak kita bagaimana Allah swt memberikan contoh-contoh keluarga ideal yang akan senantiasa menginspirasi keluarga Islami sepanjang zaman. Salah satunya adalah contoh bagaimana keluarga Habibullah Nabi Ibrahim as berusaha mempertahankan aqidah Islamiah berhadapan dengan berbagai bujukan dan rayuan iblis laknatullah. Keluarga Ibrahim telah lulus dalam usaha itu dan kita dituntut untuk meneladani bagaimana Nabiyullah Ibrahim mendidik keluarganya dalam hal pendidikan karakter generasi mendatang. Keluarga sakinah mawaddah wa rahmah merupakan dambaan setiap orang demi mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Keluarga sakinah (tenang) sedikitnya dengan tiga indikator; anggota keluarga betah tinggal di rumah, saling pengertian, dan cepat mencari solusi ketika muncul suatu permasalahan. Mawaddah (penuh cinta) juga dengan tiga indikator; masing-masing pasangan siap mengalah, kerelaan berkorban, dan masing-masing berusaha merahasiakan kelemahan pasangannya. Rahmah (penuh sayang) sedikitnya juga ada tiga indikator; penuh perhatian, selalu ada perasaan was was atas kondisi pasangan, dan masing-masing berusaha melupakan kejelekan anggota keluarga yang lain serta berusaha mengingat berbagai kebaikan yang telah dilakukannya.

Nabi Ibrahim as sebagaimana orangtua yang lain, pastilah mencintai istri dan anak-anaknya dan menginginkan agar kelak menjadi orang yang bahagia dalam hidupnya serta senantiasa menemukan pilihan-pilihan hidup yang terbaik. Ibrahimlah yang berjuang dan bekerja keras membangun negeri yang tandus dari lembah yang tiada tumbuhan, menjadi negeri yang subur, aman, makmur dan sejahtera. Ada beberapa keteladanan yang dapat diambil dari pendidikan Nabiyullah Ibrahim as dalam kaitannya dengan pembentukan karakter anak, yaitu:

Pertama, Ibrahim melatih dan mendidik anaknya untuk memberikan pandangan dan pendapatnya tentang suatu masalah yang dihadapi bersama dalam keluarga. Kedua, Ibrahim mendidik anaknya Ismail, anak kesayangannya itu dengan cara yang sangat demokratis penuh dialogis. Ketiga, Ibrahim AS mendidik keterbukaan kepada anaknya. Keempat, Ibrahim mendidik anaknya agar memiliki keberanian. Kelima, Ibrahim mendidik anaknya untuk memiliki kerelaan berkorban, sekalipun yang dikorbankan adalah jiwanya sendiri. Keenam, Ibrahim mendidik anaknya agar taat kepada Allah SWT dengan cara hanya menyembah kepada-Nya saja. Ketujuh, Ibrahim mendidik anaknya di samping taat dan patuh kepada Allah juga kepada kedua orangtua. Kedelapan, Ibrahim mendidik anaknya menjadi anak yang memiliki kepercayaan diri (self confidence). Kesembilan, Ibrahim mendidik anaknya agar menjadi anak yang sabar. Sedikitnya ada enam situasi di mana seseorang harus sabar; yaitu (1) sabar terhadap petaka dunia, (2) sabar terhadap gejolak nafsu, (3) sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT, (4) sabar dalam kesulitan berdakwah di jalan Allah, (5) sabar di medan perang, dan (6) sabar dalam pergaulan dengan manusia. Sifat sabar inilah yang dapat menjadikan seseorang tetap tabah menghadapi berbagai problematika kehidupan, dari yang sifatnya ringan sampai kepada problematika yang sangat berat dan pelik.

Ketika ingin membangun sebuah keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (Keluarga SAMARA) dapat juga kita melihat dari sudut pandang al-Qur’an surat Al-Fatihah. Konsep yang ada dalam surat ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan membangun sebuah keluarga sakinah. Mulai dari bacaan Basmalah hingga penutup dengan bacaan pengabulan harapan, semuanya penuh makna yang Subhanallah sangat luar bisa. Marilah kita coba untuk merenungi makna yang ada secara sederhana dan aplikatif bagi kehidupan berkeluarga.

  •  Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Ketika memulai sesuatu aktifitas, kita diwajibkan memulai dengan mengawalinya atas nama Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Secara universal, agama manapun mengajarkan ketika akan melakukan sesuatu, pasti memulai dengan izin kepada yang memiliki dirinya atau pemilik alam ini, dalam hal ini tidak lain adalah Sang Pencipta, Allah SWT. Bahkan secara syariat Islam, bila tidak memulai dengan bacaan basmalah maka amalnya tertolak alias tidak bernilai di sisi Allah.

Apalagi ketika akan membangun sebuah bangunan keluarga yang diikat dengan nama-Nya, yang bernama pernikahan, maka sudah seharusnyalah mengawali dengan izin dari Sang Pencipta, Allah SWT. Bukan dengan yang lainnya untuk meluruskan segala sesuatu yang menyertainya. Pilihan calon pasangan hidup kriteria yang dipilih terwarnai dengan nilai-nilai ilahiah. Diketahui, kriteria pasangan hidup ada empat menurut Rasulullah Muhammad SAW, yaitu karena kekayaannya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Bila yang dipilih yang terakhir atau dengan nilai ilahiah maka tiga yang awal akan terwarnai. Kekayaannya bukan dalam bentuk materi semata melainkan kekayaan hati dan kekayaan ilmu yang lebih melanggengkan pernikahan, kalaupun mendapat kekayaan materi itu merupakan nilai tambah saja. Nasab keturunannya bukan dalam hal nasab kebangsawanan atau kedudukan yang dimiliki oleh orangtuanya melainkan nasab keturunan orang-orang shaleh menjadi prioritas pilihan. Kecantikan yang didapat bukan semata-mata kecantikan fisik, melainkan kecantikan yang terpancar dari akhlak pribadinya (inner beauty).

Awalan basmalah merupakan pembuka dari segala pilihan dan pijakan sehingga seseorang ketika hendak membangun bahtera rumah tangganya terpagari oleh rambu-rambu ilahiah sekaligus kontrol bagi diri dan pasangan hidupnya dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Konsep bacaan Basmalah adalah konsep kunci pembuka keberkahan dan keridhoan yang memiliki alam semesta ini.

  • Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Konsep bacaan Hamdalah adalah konsep syukur. Dalam kehidupan rumah tangga bila tidak ada konsep syukur yang dikembangkan maka yang ada adalah kesia-siaan kehidupan dan kekufuran terhadap nikmat. Hal yang wajar ketika berkeluarga harus terjamin sandang, pangan dan papan (aman, nyaman dan nyam-nyam), ditambah lagi sesuatu pelengkap lainnya seperti fasilitas untuk mobilitas usaha, dan harta investasi. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang terjebak ke dalam konsep materialistik buta tanpa landasan, yang mengabaikan konsep ilahiah.

Janji Allah jelas, bahwa ketika bersyukur maka nikmat akan bertambah (QS. Ibrahim ayat 7) tapi diimbangi juga dengan konsep berbagi karena banyaknya nikmat yang diberikan (QS. Al Kautsar ayat 1-2). Suami bila memiliki konsep syukur akan memudahkannya mencari rizki. Istri bila memiliki konsep syukur akan melanggengkan rasa cinta kasih dari suami, dan anak apabila memiliki konsep syukur akan mendapatkan keridhoan dari kedua orangtuanya. Lihat betapa banyaknya contoh, ketika suami tidak memiliki konsep syukur, terjebak ke dalam kesulitan kehalalan rizki dan menjadi hamba harta sekaligus hamba istri. Ketika istri tidak memiliki konsep syukur, terjebak ke dalam hawa nafsu materialistik dan tidak amanah terhadap amanah suami. Dan anak, ketika tidak memiliki konsep syukur, akan merongrong wibawa dan harta orangtua walaupun orangtuanya masih hidup terlebih lagi bila sudah tiada.

  • Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Konsep bacaan Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah konsep kasih dan sayang. Dengan mengagungkan asma Allah Yang Maha Kasih dan Yang Maha Sayang, sebagai aplikasi kehidupan berkeluarga juga harus menumbuhsuburkan konsep turunan asma ul husna tersebut. Kehidupan berkeluarga akan menjadi gersang apabila tidak ada nilai-nilai kasih dan sayang, yang ada dan tumbuh adalah kehidupan dalam hasad, hasud, iri, dengki, curiga dan kebencian.

Kata Rasulullah bahwa rumah yang bahagia adalah rumah yang tercipta seperti syurga di dunia, Baitii Jannatii, rumahku syurgaku. Saling percaya, saling terbuka, saling memberi, saling berbagi menjadi bagian kehidupan keluarga dengan sinar surgawi.

  • Yang menguasai hari pembalasan

Konsep Maaliki Yaumiddin adalah konsep manajemen keluarga yang berorientasi akhirat. Suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, istri merupakan pemimpin bagi amanah yang diberikan suaminya, dan anak merupakan pemimpin bagi fungsi dan kedudukannya. Kesemuanya itu pasti akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Setiap langkah yang dilakukan dalam menjalankan bahtera keluarga sebagai fungsi manajemen selalu berorientasi akhirat, agar mendatangkan keselamatan dan kenyamanan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

  • Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan

Konsep bacaan ini adalah konsep pelaksanaan kewajiban baru kemudian hak, bukan pelaksanaan hak dulu baru kewajiban. Orang sering terjebak dalam hal hak dan kewajiban, banyak orang sering menuntut hak tapi lupa akan kewajiban. Dalam keluarga sering terjadi gesekan dan gonjang ganjing kehidupan karena tiap individu selalu menuntut hak. Suami menuntut haknya sebagai suami lupa kewajibannya sebagai seorang suami, isteri selalu menuntut hak sebagai isteri tapi lupa akan kewajibannya sebagai seorang isteri. Banyaknya perceraian dan percekcokan dalam keluarga dikarenakan banyaknya penuntutan hak yang tidak diimbangi dengan penunaian kewajiban. Tumbuh dan berkembang kekecewaan demi kekecewaan akibat tidak terpenuhi tuntutan hak. Ingatlah sebuah pepatah, tunaikan kewajiban maka hakmu akan terpenuhi.

  • Tunjukilah kami jalan yang lurus

Konsep bacaan Ihdinas Shirathal Mustaqiim adalah konsep ilmu yang benar bukan ilmu berdasarkan asumsi atau anggapan. Ketika membangun bahtera keluarga tidak mungkin dibangun dengan sebuah atau beribu asumsi melainkan berdasarkan ilmu, petunjuk dan arahan. Ilmu, petunjuk dan arahan seperti apa, yang jelas adalah ilmu, petunjuk dan arahan yang membawa bahtera keluarga ke arah ketenangan dan kelanggengan sesuai arahan Sang Pencipta. Sebuah keluarga haruslah aktif dalam hal pencarian ilmu, petunjuk dan arahan. Namanya saja mohon petunjuk, berarti ada unsur keaktifan sebuah usaha pencarian. Ilmu merupakan landasan amal, bila amal tidak dilandasi ilmu maka sia-sia. Ilmu untuk menjalankan bahtera keluarga perlu agar tidak sia-sia dalam mengarungi samudera kehidupan berkeluarga.

Banyak model dan tipe keluarga yang Allah SWT berikan contohnya, baik melalui ayat kauniyah yang ada di sekitar, atau sebuah perjalanan sejarah yang tercatat dalam kalam-Nya. Baik itu contoh pada manusia maupun kehidupan makhluk Allah lainnya seperti hewan, bahkan tumbuh-tumbhan. Terkadang manusia tidak mau mengambil pelajaran (ibroh) dari alam berkenaan dengan kehidupan keluarga, sehingga ia tersesat di dalam hutan petunjuk, atau layaknya si buta yang memegang peta.

  • Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Konsep bacaan ini adalah konsep model atau contoh aplikasi ilmu berkeluarga. Ada tiga kelompok contoh keluarga menurut konsep ini, yaitu keluarga sukses dunia akhirat, keluarga yang dibenci dan keluarga yang tersesat.

Keluarga sukses dunia akhirat adalah keluarga yang selalu belajar ilmu dan mengamalkan dengan landasan ilmu. Keluarga sukses dunia akhirat adalah keluarga yang selalu mengambil pelajaran dari sejarah atau kauniah keluarga yang ada di sekitarnya. Keluarga yang sukses dunia akhirat adalah keluarga yang memperoleh kenikmatan hakiki karena dilandasi dengan ilmu dan keimanan, serta selalu memperbaiki diri dan keluarganya agar keselamatan tercurah kepada seluruh anggotanya. Mereka selalu selektif dalam hal apa yang masuk, apa yang mereka makan, dan apa yang mereka pakai dari hasil rizki yang mereka dapatkan.

Keluarga yang dibenci dan tersesat adalah keluarga yang tidak mengikuti petunjuk bahkan menjauhi petunjuk. Menjalankan bahtera kehidupan berkeluarga yang sekiranya menguntungkan kehidupan dunianya semata tanpa peduli arahan ilmu. Keluarga yang semau gue, tidak mengindahkan kaidah kehidupan, tidak selektif terhadap apa yang masuk, apa yang mereka makan, dan apa yang mereka pakai dari hasil rizki yang mereka dapatkan.

  • Bacaan Amien

Konsep bacaan Aamiin, adalah konsep pengharapan. Pengharapan kepada sesuatu zat yang menguasai alam ini yaitu Allah SWT. Ketika keluarga berharap kepada Zat Yang Maha Pengabul Segala Harapan, ia akan termotivasi dan tidak akan pernah kecewa terhadap segala keputusan yang diterima. Berbeda ketika keluarga berharap kepada makhluk yang selalu mengecewakan harapan-harapan, yang tumbuh adalah sikap apatis terhadap kehidupan dan terjebak ke dalam kehampaan kehidupan.

(Visited 664 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 7 Mei 2020
Close