21.9 C
Yogyakarta
28 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Memelihara Harapan

Oleh: Kiki F. Wijaya
(Motivator Muslim Indonesia)

Pulang dari warung, istri saya bercerita. Ada seorang Bapak berbelanja, “Mbak tumbas (beli) beras sekilo nggeh !”. Istri saya tertegun dan risau bukan kepalang. Dalam pikirannya, betapa sulitnya keadaan Bapak itu. Jangankan membeli lauk, untuk membeli beras pun barangkali dia kesulitan.

Kisah istri saya ini hanyalah satu dari ribuan atau bahkan jutaan peristiwa lain yang menggambarkan betapa sengsaranya keadaan rakyat saat ini. Mereka harus bertahan di tengah himpitan ekonomi yang makin berat dari hari ke hari. Mereka diminta untuk mengisolasi diri di rumah, namun perut mereka menjerit karena kelaparan. Tersemburat pertanyaan, sampai kapan musibah ini selesai? Sudah satu bulan berlalu, sinar harapan itu tak kunjung tampak. Berita yang hadir makin menciutkan nyali. Jumlah korban COVID-19 ini terus bertambah, hampir menembus angka 3000 orang, dan spektrumnya makin meluas ke daerah lain.

Benarkah harapan itu sirna ? Tentu saja tidak. Harapan itu selalu ada selama kita menjaga baranya dan terus berikhtiar.

Al Ghazali, dalam master piece-nya, Ihya’ Ulumuddin, menjelaskan ada perbedaan antara angan-angan, keinginan, dan harapan. Angan-angan itu seperti orang yang ingin menikmati hasil panen yang baik namun tidak melakukan upaya apa pun untuk mewujudkannya. Dia hanya diam, duduk manis, sembari menanti keajaiban turun dari langit.

Keinginan itu seperti orang yang melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan hasil. Dia pilih bibit yang baik. Dia siapkan lahan. Lalu dia tanam bibit dilahan yang telah disiapkannya itu. Sayangnya, setelah itu dia hanya diam menunggu. Dia tidak menyirami tanamannya, tidak memupuknya dan tidak pula menjaganya dari hama. Alhasil, petani ini memperoleh hasil panen yang buruk kualitasnya.

Berbeda dengan angan-angan dan keinginan, orang yang memiliki harapan melakukan tindakan yang terukur sembari bergantung kepada Allah tentang hasil akhirnya. Dia pilih bibit terbaik. Dia siapkan lahan sebaik mungkin. Setelah ditanam, tak lupa dia merawat tanamannya itu dengan baik. Dia sirami dengan air yang cukup. Dia beri pupuk agar subur. Dan dia jaga tanaman itu dari hama penyakit. Alhasil, dia memanen hasil yang memuaskan.

Seperti itulah mestinya kita merawat harapan. Pandemi ini akan berlalu jika kita mengambil keputusan yang tepat dan melakukan tindakan nyata untuk mencegah penyebarannya. Namun, sebelum terwujud menjadi tindakan nyata, harapan itu sesungguhnya adalah buah dari pikiran kita yang positif. Disinilah Martin Seligman (Authentic Happiness, 2002), penggagas gerakan psikologi positif menekankan pentingnya menjaga optimisme ketika kita menghadapi krisis atau masalah.

Sebelumnya, Selligman mengidentifikasi tiga pikiran yang membedakan orang yang optimis dan orang yang pesimis. Pertama, orang optimis melihat masalah atau krisis yang dihadapinya sebagai garis turun sementara dalam grafik kehidupannya. Sementara orang yang pesimis melihat masalah atau krisis yang dihadapinya sebagai garis turun selamanya dalam grafik kehidupannya. Kedua, orang yang optimis membatasi krisis yang dihadapinya agar tidak meluas ke bidang lainnya. Sedangkan orang yang pesimis sering menganggap krisis pada satu dimensi hidupnya bakal melebar pada dimensi lainnya. Ketiga, orang yang optimis bersikap objektif dalam melihat masalah yang dihadapinya, sementara orang yang pesimis selalu menisbahkan masalah hanya pada dirinya semata.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan optimisme ?. Albert Ellis, seorang psikoterapi ternama beraliran kognitivisme, memberikan panduan yang sederhana sesuai urutan alfabet, untuk melatih hal ini. Menurutnya, setiap respon emosional sejatinya terjadi dalam beberapa tahap dan kita bisa mengendalikan emosi dengan memperhatikan tahap-tahap tersebut. Agar lebih mudah memahaminya, siapkan sebuah kertas kosong dan bagilah menjadi tiga bagian yang seimbang secara horizontal.

1. Activating Event
Tak ada respon emosional yang terjadi tanpa peristiwa pemicu. Kemarahannya, ketakutan, ataupun kesedihan pasti ada penyebabnya. Karena itu, pada bagian pertama di kertas yang telah Anda siapkan, tuliskan berbagai hal atau peristiwa yang memicu kegusaran Anda saat ini. Misalnya, kehilangan pekerjaan, omset yang menurun, menunggak cicilan, dan lain sebagainya.

2. Belief
Sebelum timbul respon emosional, menurut Ellis, peristiwa apa pun akan ditafsirkan sedemikian rupa. Proses ini seringkali begitu cepat sehingga kita acapkali tidak menyadarinya. Umumnya hal ini juga diwujudkan dalam bentuk percakapan dengan diri sendiri (self talk). Ingat, nilai-nilai yang Anda yakini berperan besar dalam membentuk penafsiran-penafsiran ini. Karena itu, coba tuliskan kata-kata apa pun yang terlintas dibenak Anda ketika Anda memikirkan berbagai hal atau peristiwa yang merisaukan Anda itu. Tak perlu malu untuk mengungkapkannya karena makin banyak yang bisa Anda identifikasi, makin besar peluang bagi Anda untuk memulihkan kondisi emosional Anda.

3. Consequences/Condition
Tahap ini terjadi akibat penafsiran yang Anda lakukan pada tahap sebelumnya. Anda mungkin makin cemas, kemarahan Anda makin membuncah, dan ketakutan Anda makin menjadi-jadi. Pada saat yang sama timbul perubahan fisik pada diri Anda. Barangkali jantung Anda berdegup kencang. Tubuh Anda lemas dan tak ada selera makan. Mata Anda juga menatap jendela rumah dengan tatapan kosong. Coba tuliskan semua reaksi emosional dan fisik yang Anda alami pada bagian ketiga kertas yang telah Anda siapkan itu.

Dari sini, saya yakin Anda sudah memahami bagaimana munculnya respon emosional pada diri Anda. Sekalipun proses ini berlangsung sangat cepat, sesungguhnya ada siklus psikologis yang menyertainya.

Lebih jauh, untuk keluar dari kondisi yang tidak menyenangkan itu, Ellis menyarankan kita untuk meneruskan proses analisis itu ke tahap selanjutnya (tahap keempat) agar kondisi psikologis kita pulih seperti sediakala dan optimis dalam menyikapi setiap masalah.

4. Disputation
Pada tahap ini kita mencoba mengubah persepsi atau pandangan kita terhadap peristiwa yang Anda alami. Hal ini bisa Anda lakukan dengan menyelidiki kesalahan-kesalahan berpikir yang mungkin terjadi pada saat Anda menafsirkan peristiwa itu (tahap kedua). Dari pengalaman saya pribadi maupun saat membantu orang lain dalam konseling, saya sering menemukan berbagai distorsi atau penyimpangan dalam menafsirkan peristiwa yang dialami. Sebagai contoh, kita sering menggunakan kata “selalu” atau “tidak pernah” untuk mengidentifikasi perilaku orang lain yang merugikan kita. Padahal, penyebutan ini jelas keliru karena menafikan kebaikan yang pernah dilakukan orang tersebut. Selain itu, Anda juga bisa menguji penafsiran Anda dengan mengumpulkan bukti-bukti yang tersedia. Apakah pandangan Anda itu didukung oleh bukti-bukti yang nyata ataukah hanya asumsi Anda semata ?. Jika tidak ada bukti yang mendukungnya, Anda harus mengakuinya dengan jujur. Anda barangkali berlebihan dalam merespon situasi dan terjebak dalam kesalahan berpikir.

5. Energization
Alhasil, setelah mengidentifikasi penyimpangan atau kesalahan Anda dalam berpikir dan menguji keyakinan Anda dengan bukti yang ada, saya percaya respon emosional dan fisik Anda pasti berubah. Walau tidak serta menjadi positif seratus persen, setidaknya pikiran Anda lebih netral dan respon Anda tidak berlebihan sebagaimana sebelumnya.

Selamat mencoba.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA