Ditulis oleh 7:50 am COVID-19

Memurnikan Kebajikan

Istilah lain untuk ketulusan adalah ikhlas. Sikap ini adalah fondasi utama kebajikan.

Oleh: Kiki F. Wijaya
(Motivator Muslim Indonesia)

Selalu ada berkah di balik musibah. Demikian pula ketika negeri ini dilanda pandemi COVID-19. Musibah ini telah mengeratkan kembali solidaritas sosial yang barangkali selama sempat luntur. Banyak kalangan bahu membahu memberikan bantuan agar situasi ini segera teratasi. Ada yang menggalang dana. Ada yang berbagi nasi bungkus. Ada yang menjadi relawan, dan lain sebagainya. Hampir semuanya mengambil peranan dalam situasi gawat ini.

Hanya saja, bagi seorang mukmin, setiap amal yang dilakukannya harus dikerjakan dengan hati-hati agar meraih ridho Allah. Spirit ini tertuang dalam Al-Qur’an surat Al Ahqof ayat 15, dalam sebuah munajat yang indah :

.. رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“…Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim”

Pada penggalan kedua doa tersebut dengan penuh harap kita memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk untuk mengerjakan amal yang diridhoi-Nya. Pertanyaaan, seperti apakah amal yang Allah ridhoi itu ?. Salah satunya, amal tersebut harus tulus dan pelakunya tidak merasa paling berjasa alias ujub.

Istilah lain untuk ketulusan adalah ikhlas. Sikap ini adalah fondasi utama kebajikan. Karena itulah, tidak berlebihan jika dalam kitab-kitab hadist yang populer, bab pertama yang dibahas oleh ulama penyusunnya adalah tentang perlunya meluruskan niat dan menjaga keikhlasan.

Banyak pengertian yang diungkapkan para ulama tentang pengertian ikhlas. Tapi saya hanya mengambil satu saja. Yakni, dari Imam Al Ghazali yang menjelaskan ikhlas sebagai “sidqun niyah fil amal”. Lurusnya niat dalam beramal. Pengertian ini singkat, namun dalam. Seolah-olah, Al Ghazali mengingatkan kita tentang potensi terbeloknya hati kita dalam beramal. Salah satunya disebabkan oleh riya’.

Secara sederhana, riya’ itu artinya mempertontonkan kesalehan kita. Saudara kandungnya adalah sum’ah, menceritakan kesalehan kita. Jika riya’ diwujudkan dalam bentuk visual, sum’ah diungkapkan secara verbal. Tapi, maksud keduanya sama yakni agar kita disanjung dan dinilai shaleh oleh orang lain.

Sekalipun riya’ dan sum’ah ini tersembunyi di hati, Imam Ali kw menunjukkan dua perilaku yang menandai apakah kita mengidap penyakit hati ini ataukah tidak. Pertama, amalnya berbeda pada saat bersama orang lain dan ketika sendirian. Dengan kata lain, dia memiliki dua wajah. Wajah publiknya menampakkan kesalehan, sementara wajah privatnya menunjukkan kenyataan yang bertolakbelakang.

Kedua, dia sangat bersemangat ketika dipuji dan turun semangatnya ketika tak ada yang menyanjungnya. Baginya pujian adalah segala-galanya karena hal inilah yang menjadi sumber energi kebaikannya. Tapi sayangnya dalam hidup ini selalu ada dua kelompok manusia. Ada yang memuji, tapi ada pula yang mencemooh. Nah, ketika berjumpa dengan kelompok kedua, orang yang mengidap riya’ dan sum’ah segera patah arang. Dia kecewa karena air susu dibalas air tuba.

Kedua ciri di atas menjadi cermin bagi kita semua. Adakah kita termasuk dalam kriteria itu ataukah tidak. Dengan gadget yang ada dalam genggaman tangan kita, nyaris hampir semua aktivitas bisa kita diabadikan dan dibagikan kepada banyak orang. Kita sangat senang jika ada yang memberikan “like” atau komentar positif atas status, foto, video, dan lain sebagainya yang kita bagikan. Setiap saat kita mengecek berapa orang yang menyukainya.

Namun, tatkala potret maya itu berseberangan dengan kenyataan, apalagi hanya untuk menyembunyikan keburukan kita rapat-rapat, maka jatuhlah kita dalam riya’ dan sum’ah. Terlebih jika semangat kita luntur manakala mendapatkan kritik dan hujatan orang lain, maka jelaslah sudah bahwa kita memang belum tulus dalam beramal.

Semoga Allah selamatkan kita dari riya’ dan sum’ah. Teruslah beramal guna mengatasi situasi ini sembari membersihkan jiwa kita dari dua penyakit hati tersebut. Awali dengan basmallah, peliharalah dengan zikrullah dan istighfar, lalu pungkasi dengan hamdalah.

Wallahu’alam bish showab

(Visited 68 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 2 April 2020
Close