Menanam Harapan Di Tengah Badai

dr. khamim zarkasih
Ujian hidup berupa covid-19 yang sedang kita hadapi saat ini adalah saat yang tepat untuk menabur berbagai harapan untuk kehidupan yang lebih baik dengan menebarkan nilai-nilai kemuliaan penuh kebersamaan.
Oleh : Dr. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Setiap orang pasti memiliki harapan untuk hidup lebih baik; harapan untuk hidup bahagia, sejahtera, dan terhormat.  Kita berharap bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, bisa terhindar dari penderitaan, kemiskinan dan kebodohan. Kita berharap dapat menjadi pegawai yang berdedikasi tinggi dan berprestasi, dapat menjadi muslim yang taqwa, selalu beramal shaleh, berakhlak mulia  (akhlaq al-karimah) dan menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar. Masih banyak lagi harapan yang semua itu menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada sekarang. Harapan hidup yang lebih baik juga berkaitan dengan ujian covid-19 yang sedang dihadapi saat ini, bagaimana memaknai situasi saat ini untuk menjadikan hidup lebih bermakna, tidak patah semangat, dan penuh keikhlasan.

Ujian hidup berupa covid-19 yang sedang kita hadapi saat ini adalah saat yang tepat untuk menabur berbagai harapan untuk kehidupan yang lebih baik dengan menebarkan nilai-nilai kemuliaan penuh kebersamaan. Layaknya  sepetak tanah,  dunia adalah tempat menanam, dan harapan itu adalah laksana benih. Karena itu, untuk dapat panen, maka kita harus mau dan mampu menabur benih.  Siapapun yang semakin banyak menabur benih, maka semakin banyak ia berkesempatan untuk panen.  Siapa yang banyak menanam akan banyak mengetam, begitulah kira-kira sunatullah dalam kehidupan.

Hanya persoalannya, seringkali kita lupa, bahwa harapan itu dapat menimbulkan berbagai perilaku. Pertama, orang yang mempunyai harapan,  tetapi tidak dibarengi dengan kemauan dan kemampuan melakukan usaha untuk mewujudkan harapan itu. Akibatnya, harapan itu mendorong orang melakukan potong kompas atau jalan pintas. Maunya cepat kaya dan terhormat, tetapi tidak mau bekerja keras. Lantas, muncullah sifat jahatnya, yaitu merampas hak milik orang lain dengan cara mencuri, korupsi dan sebagainya. Ujian hidup saat ini merupakan waktu yang tepat untuk muhasabah diri. 

Kedua, orang yang mempunyai harapan dan dibarengi dengan kemauan dan kemampuan melakukan usaha untuk mewujudkan harapannya itu. Perilaku yang seperti ini juga akan melahirkan  dua kemungkinan, yaitu berhasil atau gagal. Dalam pandangan Islam,  berhasil ataukah gagal harus tetap disyukuri. Tetapi, kita sering lupa, ketika berhasil kita menjadi sombong (takabur) dan berlebih-lebihan. Sementara ketika harapan kita harus mendapatkan  kegagalan kita menjadi putus asa, putus harapan. “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan”. (QS. Fushilat: 28).

Demikian pentingnya untuk menanam harapan dan bekerja untuk mewujudkan harapan itu, maka Allah SWT menegaskan : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri (jiwa) memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hasyr: 18).

Melalui ayat ini, kita diajak untuk melihat masa depan, masa yang akan kita lewati dan akan kita tuju. Mengapa demikian? Karena hidup ini tidak berhenti. Hidup ini terus berjalan, yaitu berjalan menuju satu titik yang namanya kematian, dan pada akhirnya menuju kekekalan abadi, yaitu kampung akhirat. Dan inilah masa depan yang paling pasti dan akan dialami semua orang.

Karena itu, setelah kita menabur harapan, maka perlu dibarengi dengan komitmen untuk  bekerja keras, disiplin dan doa. Setelah upaya dilakukan secara maksimal, akhirnya, apapun hasilnya,  bertawakkallah kepada Allah SWT. Tawakal merupakan   bingkai yang akan  menjaga panen yang kita dapat itu tetap berkah, memberi manfaat bagi hidup kita dan memberikan kemaslahatan kepada banyak orang.  Ujian hidup covid-19 laksana tanah yang subur dan luas untuk menabur benih-harapan sebanyak-banyaknya. Energi bisa kita tetap stabil untuk melakukan kerja-kerja kemanusiaan yang dapat meningkatkan kapasitas personal (personal capability).  Pembiasaan untuk sensitif atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita selama beraktifitas, merupakan jawaban atas kondisi krisis sekarang ini.

Para ahli hikmah menyatakan bahwa orang yang paling bahagia adalah orang yang mempunyai harapan. Sebab, dengan harapan itu,  ia  akan selalu merasa optimis, bermakna, dan jalan menuju kesuksesan terbentang luas di hadapannya. Ia akan selalu bersemangat, energik, kreatif dan inovatif menciptakan karya-karya baru. Dan sebaliknya, orang yang paling nista atau  paling sengsara    adalah orang yang tidak lagi memiliki harapan. Orang yang hidup tanpa harapan, seperti orang yang tidak menanam apa-apa, maka ia tidak ada kesempatan untuk memetik hasil panen apapun. Karena itu, orang yang tanpa harapan, hidupnya tidak ada energi yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu. Ia menjadi pemurung, pemalas, pemimpi, dan akhirnya hidupnya blank, kosong tanpa makna. 

Saat ini dan sekarang ini, ketika banyak kesempatan untuk merenung dan kontemplasi karena banyak tinggal di rumah, sedang giat menanam, kita tabur harapan sebanyak-banyaknya. Jangan menunggu kesempatan terbuka atau turun dari langit, tetapi kesempatan itu harus kita ciptakan dan kita rancang sedemikian rupa. Dan menabur harapan secara sungguh-sungguh akan membuka kesempatan bagi kita untuk meraih kesuksesan yang besar dan akan membawa berkah bagi kehidupan sekarang dan untuk masa-masa yang akan datang, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan di sekitar kita. Tetap semangat, penuh ikhtiar, sedangkan hasilnya kita berserah diri kepada-Nya. Semoga!

Penulis: Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan/Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close