Menata Kembali Visi Pembelajaran Agama Islam di Sekolah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pembelajaran agama Islam ke depan diharapkan mampu menumbuhkembangkan generasi muslim dengan tingkat pemahaman ke-Islaman yang tinggi dan komitmen serta tanggung jawab sosial yang tinggi pula.

Visi tentang pembelajaran agama Islam yang dimaksud di sini adalah mencoba membedakan antara pengajaran tentang Islam (teaching about Islam) dan pembelajaran tentang bagaimana menjadi seorang muslim (teaching about being moslem).

Pada umumnya para pendidik muslim dalam pengajarannya lebih menekankan tentang informasi dan fakta-fakta tentang Islam (fact about Islam), karena hal ini memang lebih mudah dan sebenarnya merupakan pendekatan yang kurang diperlukan. Karena kita memang belum menjumpai suatu bentuk pengembangan program yang sistematik untuk melakukan proses pembelajaran generasi kita untuk “menjadi muslim” (being moslem). Karena hal ini memang memerlukan upaya yang lebih rumit dan pemahaman yang mendalam, baik berkaitan dengan karakter ilmiah generasi muslim maupun ajaran Islam itu sendiri.

Visi sebenarnya dari pembelajaran Islam itu bukanlah “mengisi” otak generasi kita dengan informasi-informasi tentang Islam, tetapi lebih terletak pada bagaimana mangajarkan pada generasi kita untuk menjadi muslim yang baik (kaffah). Karena itu, visi pembelajaran agama Islam perlu perpijak pada pemahaman yang utuh bahwa pesan-pesan Islam itu harus memfokuskan pada pengembangan kepribadian (personality) dan akhlak generasi, serta lebih memperhatikan pada kebutuhan dan harapan riil masyarakat kita (relevansi sosial). Di samping itu, pembelajaran itu juga perlu mempersiapkan generasi dengan daya kritis (critical thinking) dan keterampilan memecahkan masalah (problem solving skill) yang sangat diperlukan dalam peran sertanaya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Dalam konteks inilah, maka visi pembelajaran Islam harus mampu mengembangkan beberapa muatan berikut; 1) bermakna (meaningful), 2) terintegrasi (emosional, sosial, intelektual dan fisik), 3) berbasis nilai Islam, 4) menantang (challenging), 5) menawarkan sesuatu yang baru (up-to date). Implementasinya, lembaga-lembaga pendidikan Islam (khususnya madrasah-madrasah, pondok pesantren, perguruan tinggi Islam dan sebagainya) juga masyarakat Islam (khsususnya orang tua) harus mampu mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana generasi itu tumbuh dan belajar.

generasi kita akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang memiliki moralitas yang tinggi.

Kita harus paham mengenai proses pengembangan moral dan metode yang efektif dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, maka generasi kita akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang memiliki moralitas yang tinggi, yang merupakan sinergi antara akal, rasa dan nurani dan sekaligus memiliki peluang-peluang untuk tahu dan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara nyata dalam kehiudupan sehari-hari.

Visi pembelajaran Islam seperti di atas dapat diaplikasikan dengan fokus utama pembelajarannya pada; 1) pengembangan kepribadian (personality) dan akhlak, 2) terkait dengan persoalan nyata, 3) mempersiapkan generasi dengan daya kritis, keterampilan memecahkan masalah, dan 4) para pendidik yang memiliki pemahaman proses pemkembangan moral dan metode pembelajaran yang efektif. Praktisnya, tanpa pemahaman yang tepat terhadap sistem nilai Islam, maka tipis harapan visi pembelajaran Islam dapat tercapai.

Bagaimanapun juga, sekarang ini, sekolah-sekolah Islam memiliki peran yang krusial untuk memainkan peranannya dalam mengembangkan solusi-solusi dan program-program yang kongkrit untuk memberikan pemahaman yang tepat terhadap para siswa, tanpa menafikan pentingnya peran dan tanggung jawab keluarga dalam proses pembelajaran ini.

Patut memberikan rasa optimisme bahwa beberapa dekade terakhir ini, di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti kota Yogyakarta dan beberapa kota lainnya, telah berkembang kesadaran untuk memperbaiki konservativisme pembelajaran agama Islam dan mengembangkan program-program pembelajaran alternatif yang dikemas dalam Sekolah Islam Terpadu, seperti (TKIT, SDIT, SMPIT, SMAIT dan sebagainya).

Proses pembelajaran agama Islam yang efektif itu haruslah aktif. Studi Islam itu mesti mampu memenuhi kebutuhan utama, baik kebutuhan peserta didik maupun para pendidiknya (guru/ustazd). Para guru dituntut aktif dan genuin terlibat dalam proses pembelajaran, seperti; membuat perencanaan, memilih dan menyesuaikan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi generasi mendatang, serta tetap berjalan dalam koridor perundang-undangan.

belajar haruslah aktif, dengan menekankan proses belajar interaktif.

Guru yang efektif haruslah dipersiapkan dengan baik dan dilakukan up to date secara kontinyu terhadap ilmu pengetahuan, metode pengajaran yang efektif, kebutuhan para peserta didik, dan pengembangan keterampilan (skill) mengajarnya. Dengan kata lain, belajar haruslah aktif, dengan menekankan proses belajar interaktif yang mengajak peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses tersebut.

Beberapa hal di atas adalah faktor-faktor kunci dalam proses pembelajaran agama Islam yang efektif. Dengan begitu, maka pembelajaran agama Islam ke depan diharapkan mampu menumbuhkembangkan generasi muslim dengan tingkat pemahaman ke-Islaman yang tinggi dan komitmen serta tanggung jawab sosial yang tinggi pula. Generasi semacam inilah yang mampu memotivasi dan memberdayakan masyarakat secara efektif. Pembejalaran agama Islam harus mampu mencetak generasi muslim yang memiliki kemampuan mengidentifikasi, memahami dan bekerja secara kooperatif untuk memecahkan berbagai persoalan keummatan dimana mereka tinggal, dan meproyeksikan kegemilangan peradaban Islam di masa depan.

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.

Terbaru

Ikuti