Mencari Hikmah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
COVID-19 banyak memberi pelajaran pada semua orang dari kalangan apapun profesinya, terutama guru dan siswa dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan daring.

Oleh: Heriyanti

“Sebagian orang belum menyadari bahwa anak-anak adalah salah satu unsur umat. Hanya saja mereka bersembunyi di balik tabir kekanak- kanakannya. Apabila kita singkapkan tabir itu, pasti kita menemukannya berdiri sebagai salah satu tiang penyangga bangunan umat ini. Namun demikian; ketentuan Allah pasti berjalan. Tabir itu tidak akan tersingkap selain dengan bimbingan dan pendidikan secara berkala, sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, bimbingan dan pendidikan seharusnya dilakukan dengan perencanaan yang matang dan bertahap,”
(Asy-Syaikh Muhammad al-Khidhr Husain rahimahullah)

Ramadhan Tahun 1441 H adalah ramadahan spesial yang penuh hikmah, belajar dari nikmat Tuhan yang sedang diberikan pada seluruh umatnya. COVID-19 banyak memberi pelajaran pada semua orang dari kalangan apapun profesinya. Hebat semua semangat untuk berubah, dan mengikuti anjuran dari orang-orang bijak untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona dengan  stay at Home, dari rumah semua berkarya.

Guru dan siswa melakukan pembelajaran dengan online atau dalam jaringan (daring), setiap hari sibuk memberi tugas, menyiapkan materi  pembelajaran daring, kadang melakukan pembahasan dengan memvideo diri saat menerangkan/membahas materi atau tugas, dan para siswa mengamati video, mengirim tugas-tugasnya ke para guru mata pelajaran. Keadaan seperti ini sudah berjalan dua bulan, sehingga kelihatannya semua sudah kangen sekolah, face to face tetap pembelajaran yang lebih bisa dipahami oleh para siswa.

Sudah banyak siswa yang mengirimkan gambar dirinya dengan menulis  Caption  aku kangen sekolah, aku ingin sepakbola dengan teman. Begitu pula guru merasakan kangen kepada siswanya, waktu saya datang ke sekolah setiap masuk halaman sekolah terasa ada yang hilang, sepi . . . lama saya pandangi gazebo yang ada di halaman sekolah, terbayang keceriaan anak-anak duduk sambil berbagi cerita dengan teman-temannya, ruang kelas yang kosong terlihat meja dan kursi juga sedang merindu.

Sampai suatu hari ada orang tua sebut  (ibu Prita) yang memberitahu lewat telpon melalui hp saya: “Bu, apa kabar apa ibu dirumah? Ini lho ternyata tidak hanya hp anak saya yang ngehang tidak bisa upload dan menerima gambar apalagi video, kata anak saya hpnya bu guru Ani juga ngehang ya bu?, aduuh sampai kapan daring begini, mana saya capai buu mendampingi belajar anak, terimakasih nggeh bu tugas guru ternyata berat”, curhatan atau keluhan ibu  Prita mungkin juga di rasakan oleh banyak orang tua. Guru juga sebagai orang tua yang memiliki anak juga, perlu anaknya diperhatikan, laptop atau android tidak cukup satu yang di miliki karena masing-masing memerlukan, bisa jadi hp yang di miliki ngehang.

Kemudian saya hanya bisa menjawab telpon bu Prita, “Sabar bu, sekarang malah semua orang tua menjadi pintar dan semoga hubungan anak dan ibu, dalam keluarga  juga semakin harmonis bu, belajar bersama, bekerja bersama dan beribadah bersama”. Langsung bu Prita menutup telpon dengan kalimat ;  “ya tidak seindah yang dibayangkan orang, semoga kita sehat, itu yang juga sangat penting, terimakasih ibu”

Setiap perubahan meskipun perubahan yang lebih baik, pasti ada ketidaknyamanan, tentu kita harus adaptasi dari Ketidaknyamanan menjadi nyaman.  Apalagi perubahan yang di sebabkan adanya wabah corona, yang semua orang kaget dan belajar super ekstra bagaimana melindungi diri dan keluarganya agar nyaman. Maka setiap orang harus menyiapkan diri untuk belajar dan beradaptasi.

Mendidik anak di jaman now, jaman era digital sangat tidak mudah  karena di mana masa kebebasan berekspresi, proses belajar apa saja sudah mereka kuasai, banyak sumber yang menjadi guru;ada google, yahoo dan sebagainya karena informasi ada di ujung jari mereka. Banyak teori memberikan ulasan bagaimana mendapingi anak  jaman now. Apakah orang dewasa, atau orang tua harus lebih menguasai teknologi? ( jawabannya; bagaimana menyikapi ada pada diri, kondisi masing-masing). Ada tiga hal yang sangat menarik dalam pendampingan generasi digital yaitu adanya: Kebersamaan, Keteladanan dan Konsisten.

Mungkin para ayah kesibukannya di bulan ramadhan tahun ini bertambah juga, semangat mengajak keluarganya ibadah bersama; tadarus, dan sholat di rumah berjamaah. Mulai dari ada Ayah yang jadi imam dengan suara merdu, serak -serak fals, sampai yang berkeringat dingin ketika melantunkan ayat suci Al Qur-an, menepis  rasa malu dengan Istri dan anak-anak, semangat terus belajar Al-Qur’an. Para Ayah,tetap percaya diri dan manfaatkan Ramadhan untuk menambah hafalan  mumpung  WFH (Work From Home),  ini kesempatan untuk belajar, mendalami kajian, jangan buat anggota keluarga protes  dan anak – anak kita bilang ” yaah ayah.. Qulhu lagi.. Qulhu lagi “. Wahai . . . Keluarga yang kompak , bersabarlah untuk tetap di belakangnya menjadi makmum yang baik.

Kesalehan kedua orangtua merupakan teladan bagi anak-anaknya, memiliki dampak yang besar dalam jiwa anak, oleh karena itu dengan ketaqwaan orang tua kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian ikhtiar,  saling membantu, memotivasi, dalam keluarga terjadi komunikasi harmonis, anak akan tumbuh dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah dengan baik. Akan tetapi kadang kala, kita melihat ada yang keluar dari teori ini, karena sebuah hikmah yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha mengetahui lagi maha berkehendak. Semua agar kita sadar dan terus jangan berputus asa dari mengharap ridhonya.

Jika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai, hendaklah kita selalu mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS.Al Baqarah: 216)

Ada seorang ulama Sahal at-Tustari berusaha sekuat tenaga untuk menjaga anaknya kelak menjadi anak sholeh, padahal anaknya belum dilahirkan, dia menjaganya dengan berbagai amal sholeh, dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan dengan menganugrahinya anak yang sholeh, katakan : “Aku akan menepati janji yang telah diambil Allah Subhanahu wa Ta’ala dariku di alam dunia ini dan aku akan memelihara anak-anakku dari mulai saat ini sampai Allah Subhanahu waTa’ala menghidupkan mereka di alam pesakitan (ahirat)”. Ini merupakan bukti atas kerasnya usaha para ulama salafus saleh untuk mendapatkan anak- anak yang sholeh. (Prophetic Parenting : DR. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi karunia kepada kita berupa anak yang sholeh dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do’a.

Heriyanti

Heriyanti

Kepala SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta

Terbaru

Ikuti