24.7 C
Yogyakarta
11 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Mendidik Anak Agar Cerdas dan Shalih

Memiliki anak yang cerdas dan shalih adalah dambaan setiap orang tua. Sebab jika seorang anak tumbuh cerdas tetapi tidak memiliki keshalihan maka anak kecerdasannya justru akan membawa mudharat bagi anak tersebut. Banyaknya penjahat-penjahat intelektual adalah seorang anak tidak cukup diberi kecerdasan tetapi juga harus diberi keshalihan. Sebaliknya jika seorang anak tumbuh menjadi anak yang shalih tetapi tidak cerdas maka ia akan mudah menjadi korban penipuan. Betapa banyak orang yang shalih dan lugu menjadi korban mereka yang pintar tetapi culas. 

Tentu tumbuhnya anak yang shalih dan cerdas ini tidak cukup dengan sim salabim abrah gadabrah. Keduanya orang tuanya memiliki peranan signifikan dalam menumbuhkembangkan anak menjadi shalih dan cerdas ini. Berikut ini adalah beberapa yang bisa diupayakan oleh orang tua agar memiliki anak yang shalih dan cerdas sebagaimana yang diinginkan. 

Doakan anak

Manusia hanyalah makhluk lemah yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa tidak, seorang ayah yang telah bekerja keras demi anak pun sering tidak bisa mengatur anak. Seorang ibu yang telah berkorban jiwa dan raga pun juga sering tidak bisa mengendalikan anak. Hanya Allah yang Maha Kuasa yang mampu mengendalikan jiwa anak kita. Oleh karena itu, penting bagi kedua orang tuanya untuk berdoa memohon kepada Allah agar diberi anak yang shalih. Bahkan para Nabi pun memohon kepada Allah agar mendapatkan keturunan yang shalih. 

Bahkan para Nabi pun memohon kepada Allah agar mendapatkan keturunan yang shalih. 

Hendaknya memohon anak yang shalih ini dilakukan sejak sebelum hingga berlanjut setelah jenjang pernikahan. Saat pasangan suami-istri hendak melakukan hubungan seksual terlebih dulu berdoa memohon kepada Allah agar anak yang dihasilkan dari hubungan tersebut adalah anak yang shalih atau shalihah. Begitu pula ketika hamil semestinya seorang wanita memperbanyak ibadah dan menjauhi kemaksiatan begitu pula suaminya. Alangkah baiknya jika keduanya bergantian membaca ayat-ayat suci al Qur’an. Tujuannya agar anak yang ada di dalam kandungan sudah terbiasa dengan bacaan ayat suci al Qur’an. 

Orang tua, khususnya ibu seharusnya menjauhkan diri dari berkata-kata yang tidak baik untuk anaknya. Misalnya, saat emosi seorang ibu berkata, “Nanti kalau kamu sakit baru tahu rasa.” Ingat, kata-kata ibu sangat mustajab. Hanya Nabi yang bisa menandingi kemustajaban doa seorang ibu. Teladanilah ibunya Syaikh Abdurrahman as Sudais yang saat diganggu putranya ia berkata, “Hai Abdurrahman, apa yang kau lakukan. Pergi saja sana ke Masjidil Haram jadi imam.” Dan kenyataannya sekarang beliau jadi imam besar Masjidil Haram. 

Berikanlah Makanan yang Halal  

Makanan memiliki pengaruh yang besar bagi seseorang. Seseorang yang tubuhnya terbentuk dari makanan yang halal akan mudah untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Berbeda dengan orang yang tubuhnya terbentuk dari makanan yang haram. Orang yang makanannya adalah makanan yang haram biasanya tubuhnya sulit untuk diajak berbuata taat kepada Allah dan sangat mudah untuk melakukan perbuatan yang haram. Makanan yang haram terbagi menjadi dua. Pertama, makanan yang haram karena zatnya seperti bangkai (selain bangkai ikan dan belalang), darah, daging babi dan makanan lain yang dinash oleh al Qur’an atau al Hadis keharamannya. Kedua, makanan yang haram karena cara memperolehnya. Mungkin hukum asal makanan itu halal tetapi karena diperoleh dari mencuri, merampas dan perbuatan dosa lainnya maka makanan tersebut menjadi makanan yang diharamkan. Atau makanan tersebut dibeli dengan uang tetapi uang yang digunakannya untuk membeli didapatkan dari uang yang haram juga mempengaruhi makanan tersebut menjadi makanan yang haram. 

Berikan Pendidikan yang Memadahi

Mendidik anak adalah kewajiban kedua orang tua, baik bapak maupun ibu. Hal itu bisa kita cermati dalam doa anak untuk orang tuanya yang berbunyi, “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku dan sayangilan keduanya sebagaimana mereka berdua mendidikku saat aku masih kecil.” Ini menandakan bahwa yang bertugas mendidik anak adalah ayah dan ibu. Oleh karena itu, tidak tepat jika pendidikan hanya dibebankan kepada ibu sebagaimana yang terjadi di masyarakat. Hal ini lebih ditegaskan lagi dalam surat Luqman di mana Luqman memberikan mutiara-mutiara pendidikan kepada anaknya. Artinya, seorang ayah pun juga punya tugas mendidik anak. 

Tidak tepat jika pendidikan hanya dibebankan kepada ibu sebagaimana yang terjadi di masyarakat.

Sebelum orang tua memperkenalkan dunia ini kepada anak, semestinya orang tua memperkenalkan Allah dan Rasulullah kepada anak. Di sinilah filosofi disunnahkannya orang tua untuk  mengumandangkan adzan di telinga kanan anak dan iqamat di telinga kiri anak. Apa artinya manusia mengenal alam semesta ini jika ia tidak mengenal Penciptanya. Dan jika seseorang mengenal Sang Pencipta niscaya dia akan mengenal alam ini. 

Ajarkanlah kepada anak ilmu tauhid yang benar agar kelak ia tidak terjebak kepada paham-paham yang menyimpang seperti kemusyrikan, paham materialistis, sosialis, liberal dan paham menyimpang yang lain. 

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA