Mendidik dengan Keteladanan

30.9.1. Mendidik
Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari suri teladan yang menjadi pedoman yang akan menerangi jalan kebenaran dan dapat menjadi contoh kehidupan dalam melaksanakan syari’at yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak sejak usia dini. Hal ini karena pendidik/orangtua merupakan figur terbaik dalam pandangan anak yang tindak tanduk serta sopan santunnya disadari atau tidak akan menjadi perhatian anak-anak sekaligus menirunya.

Pengungkapan kata teladan (uswah) dalam al-Quran dinyatakan sebanyak tiga kali, yaitu dalam QS. Al-Ahzab, 33:21, QS. Al-Mumtahanah, 60:4 dan 6. Kata uswah yang terdapat dalam Surat Al-Ahzab menerangkan keteladanan Rasulullah SAW, dan Surat Al-Mumtahanah ayat 4 dan 6 menerangkan keteladanan Nabi Ibrahim AS.

Dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 Allah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan suri teladan yang harus diikuti oleh umat Islam, dan keteladanan beliau diungkapkan dengan uswah hasanah (keteladanan yang baik). Ayat ini menjadi dasar bahwa segala sesuatu yang berasal dari beliau, hendaknya harus diikuti. Segala perkataan, perbuatan, tindakan yang beliau lakukan, baik yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dalam keluarga, dalam masyarakat, dan dalam kehidupan yang menyangkut kehidupan orang banyak (baca: bernegara) hendaknya dijadikan contoh oleh umat Islam.

Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari suri teladan yang menjadi pedoman yang akan menerangi jalan kebenaran dan dapat menjadi contoh kehidupan dalam melaksanakan syari’at yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Maka dari itu Rasulullah SAW tampil sebagai teladan baik teladan sebagai seorang pemimpin keluarga, sebagai seorang teman, pemimpin pasukan perang juga pemimpin negara. Beliau teladan dalam sifat kebapakan, dalam memperlakukan anak- anak kecil dengan sifat kasih sayangnya, dalam pergaulan bersama sahabat dan tetangga. Beliau berlaku lemah lembut terhadap semua orang yang dijumpai, termasuk tetangga beliau yang memusuhinya.

Dalam kaitannya dengan keteladanan dalam pendidikan, ada dua tipe peneladanan; Pertama, pengaruh langsung yang tidak disengaja. Keberhasilan tipe peneladanan ini banyak bergantung pada kualitas kesungguhan karakteristik yang dijadikan teladan, seperti keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, dan sebagainya. Dalam kondisi seperti ini, pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Ini berarti bahwa setiap orang yang diharapkan dapat dijadikan teladan untuk memelihara tingkah lakunya. Hal ini disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah dalam segala hal yang diikuti oleh orang lain, terlebih pada para pengagumnya.

Tipe peneladanan yang kedua adalah pengaruh yang disengaja. Dalam hal ini, pengaruh peneladanan terkadang dilakukan dengan sengaja untuk diikuti orang lain. Seorang ustadz memberikan contoh bagaimana membaca al-Quran dengan baik agar para terdidik menirunya. Seorang imam melaksanakan shalat dengan baik untuk mengajarkan shalat yang sempurna kepada jama’ah. Orang tua makan bersama anak-anaknya dengan membaca doa sebelumnya agar ditiru oleh mereka.

Semua contoh ini merupakan bentuk peneladanan yang disengaja dengan harapan apa yang dilakukan diikuti oleh orang lain. Peneladanan yang kedua ini bisa direncanakan sebaik-baiknya, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal, dalam arti peneladanan itu akan diikuti oleh anak atau siswa dengan cara yang sebaik-baiknya.

Baca juga: Hikmah Sabar

(Visited 51 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020