Meneladani Keberhasilan Dakwah Rasulullah Muhammad SAW

5.10
Al-Qur’an dan Sunnah menyimpulkan, bahwa dakwah yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabat, selain bersifat ritual, spiritual, dan moral, juga bersifat politik.

Nabi Muhammad dilahirkan 12 Rabi`ul Awal tahun 571 Miladiyah di kota Makkah tepat pada Tahun Gajah. Kelahiran nabi Muhammad merupakan momentum awal, babak baru kejayaan Islam dalam konteks penyebaran agama Islam. Tugas dan tanggung jawab nabi Muhammad sangat berat, karena pada saat itu nabi Muhammad dihadapkan dengan zaman yang penuh kejahiliahan (kebodohan).

Penyakit jahiliah ini sudah pada tingkat kronis. Keyakinan dan kepercayaan keberagamaan pada saat itu hanya menyembah berhala (patung-patung) yang diyakini memberikan kebaikan dan kebahagiaan. Posisi perempuan saat itu dimarjinalkan. Perempuan dianggap hanya sebagai pelayan untuk pemuas nafsu birahi, boleh dibunuh karena dianggap sebagai penyebab aib di dalam keluarga. Maka persoalan inilah yang harus dientaskan oleh seorang nabi Muhammad SAW.

Dalam surat Al-Anbiya` ayat 107 dikatakan: “tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk menjadi rahmat sekalian alam”. Dalam hadits disampaikan bahwasanya: “ia diutus ke muka bumi ini untuk membenahi akhlak manusia”. Secara tegas ayat dan hadits ini mengatakan bahwa tugas nabi Muhammad adalah merekonstruksi moralitas, akhlak dan perilaku manusia. Untuk merevolusi persoalan tersebut nabi Muhammad mengawali dakwahnya dengan cara sembunyi-sembunyi. Diawali dengan mengajak orang-orang terdekatnya untuk mengikuti ajaran Islam. Selanjutnya dakwah Rasulullah dilancarkan secara terang-terangan serta didukung oleh orang-orang terdekatnya yang telah mengikuti ajaran Islam.

Sebagai pembawa risalah yang rahmatan lil’alamin nabi Muhammad Saw merupakan Rasul akhir zaman dan risalahnya juga merupakan risalah yang terakhir. Dengan risalah yang dibawa Muhammad SAW yang relatif singkat selama 23 tahun, Muhammad SAW berhasil dan sukses merekonstruksi kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Keberhasilan dakwah yang dilakukan nabi Muhammad SAW didukung oleh metode yang digunakan terutama metode dakwah amaliyah. kefasihan lidah yang dimilikinya serta kepribadian yang kuat penuh daya tarik dan daya pikat, penguasaan terhadap audien, juga karena sikap mental yang membaja.

Rasulullah SAW berhasil membuat suatu revolusi kemanusiaan yang total dan frontal, yang sekaligus membuat suatu perubahan wajah dan bentuk kehidupan manusia di dunia ini. Perubahan tersebut adalah merombak sistem kehidupan bangsa Arab pada masa jahiliyah yang ditandai dengan berkembangnya kemusyrikan, khurafat dan tahayyul. Kemudian Rasulullah SAW membangunnya menjadi masyarakat baru yang yang melandaskan sikap, pandangan dan tatanan kehidupan di atas landasan Tauhidiyah dan Taqwallah yang mengangkat derajat manusia kepada kemuliaan dan peradaban.

Aktualisasi dakwah Rasullah tidak hanya berisi ketauhidan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Al-Qur’an dan Sunnah menyimpulkan, bahwa dakwah yang dilakukan nabi Muhammad SAW dan para sahabat, selain bersifat ritual, spiritual, dan moral, juga bersifat politik.

Pada sepuluh sampai dua belas tahun aktivitas dakwah nabi Muhammad SAW berisi tentang pemantapan tauhid, iman dan aqidah. Ketika nabi Muhammad dituduh oleh kaum Quraisy bahwa rasul adalah sebagai pembawa aspirasi politik tertentu, Al-Qur’an memerintahkan untuk menjawab, bahwa ia hanyalah seorang pemberi peringatan bagi seluruh manusia.

Untuk meng-Islamkan masyarakat Arab, nabi Muhammad SAW melakukan dakwah dengan metode pendekatan politis. Pendekatan politik yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan dakwah ternyata membawa dampak yang sangat positif dan banyak membawa perubahan.

Keberhasilan politik dakwah Nabi Muhammad yang patut kita teladani paling tidak dapat dilihat pada delapan poin di bawah ini :

Pertama. Sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul beliau bertahanust di Gua Hira. Pasca pengangkatannya menjadi rasul, beliau langsung diperintahkan untuk memberikan peringatan di tengah-tengah masyarakat mulai dari keluarga terdekat dan para sahabatnya.

Kedua. Nabi muhammad melakukan penataan aqidah. Sejak awal, nabi Muhammad SAW memproklamasikan “La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Mena’ati Allah SWT (menyembah dan  mematuhi) hendaknya dengan mengikuti utusan-Nya.

Ketiga. Dakwah nabi Muhammad SAW, menyerukan pengurusan masyarakat (ri’ayah syu’un al-ummahi). Ayat-ayat Makkiyah banyak mengajari akidah seperti takdir, hidayah, rezeki, tawakal kepada Allah SWT. Ratusan ayat berbicara tentang Hari Kiamat, tentang pengaturan akhirat yang berkaitan dengan nasehat dan bimbingan, membangkitkan rasa takut terhadap azab Allah SWT, serta memberikan semangat untuk terus beramal demi menggapai ridha Allah Swt. Selain itu ratusan Ayat Al-Qur’an dan hadits di Mekah dan Madinah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW tentang pengaturan masyarakat di dunia.

Keempat. Nabi Muhammad melakukan pergaulan pemikiran. Pemikiran dan pemahaman bathil masyarakat Arab pada waktu itu dapat direformasi oleh Nabi Muhammad SAW. Konsekuensinya, hukum-hukum dan undang-undang yang berlaku pada waktu itu digantikan dengan pemikiran dan pemahaman agama Islam. Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an menyerang kekufuran, syirik, kepercayaan terhadap berhala, ketidakpercayaan dengan hari berbangkit, anggapan nabi Isa sebagai anak Tuhan, dan lain-lain dengan menggunakan senjata yang sangat ampuh yaitu dengan menggunakan senjata hikmah, nasehat, dan debat secara sehat.

Hal ini tertuang pada Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An-Nahl : 125).

Kelima. Para pembesar Quraisy banyak menzalimi masyarakat, kasar, menyebarkan fitnah, dan banyak bersumpah tanpa ditepati. Rasulullah SAW, dengan sangat tegas menantang dan melawan mereka karena kesombongan mereka dan penentangan mereka. Rasulullah melakukan penyerangan atas perintah dari Allah SWT. Di samping memerangi kesombongan kaum Quraisy, Rasulullah juga menyampaikan wahyu yang berisi pembongkaran terhadap tipu daya dan kesombongan para penguasa Quraisy.

Keenam. Nabi Muhammad Saw menentang hubungan-hubungan yang rusak di masyarakat dan menyerukan Islam sebagai gantinya. Pada saat itu, kecurangan dalam takaran sudah merupakan hal yang lumrah dalam jual beli. Banyak penyimpangan-penyimpangan pada waktu itu. Seperti pembunuhan anak-anak karena takut miskin, perzinaan merajalela, masyarakat banyak melakukan dosa besar dan yang lain-lainnya. Pada kondisi ini Rasulullah tampil di tengah-tengah masyarakat untuk membela kepentingan masyarakat, menentang aturan dan sistem yang rusak, serta mendakwahkan Islam sebagai gantinya.

Ketujuh. Pasca Hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, nabi Muhammad SAW mendirikan institusi politik berupa Negara Madinah. Setelah itu beliau langsung mengurusi masyarakat. Dalam mengurusi masyarakat, nabi Muhammad Saw mengawali langkahnya pertama kali adalah membangun masyarakat. Setelah mempersaudarakan pengikut dari Mekkah (muhajirin) dengan pengikut di Madinah (anshor), beliau membangun masyarakat atas dasar pluralitas baik dari etnis maupun agama.

Di sinilah, disamping nabi Muhammad SAW mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, nabi juga menyusun dan sekaligus menjadikannya sebagai landasan masyarakat madaniah pada waktu itu. Sering dikenal namanya “Konstitusi Madinah” atau “Piagam Madinah”.

Dalam Piagam Madinah dikatakan bahwa orang-orang yang tinggal di Madinah, baik Muhajirin, Anshor maupun dari berbagai etnis dan agama lainnya seperti Yahudi membuat skenario untuk hidup bersama-sama dengan damai dan sekaligus saling melindungi dan mengamankan, saling menegakkan hak dan kewajiban, serta merasa satu nasib dalam artian hidup dengan rukun.

Dalam Piagam Madinah semua golongan dan lapisan masyarakat, sekalipun berbeda etnis maupun agama dianggap sebagai “ummah wahidah” (ummat masyarakat atau ummat yang satu) sebagaimana dalam pasal duanya yang berbunyi “annahum ummatun wahidah min dun al-nas” (mereka adalah ummat yang satu, terlepas dari manusia). Semua kelompok harus saling menjaga dan saling membela, jika ada musuh dari luar dan mereka saling mendapat perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM).

Nabi Muhammad menghargai hak-hak masyarakat secara internasional. Kelahiran Piagam Madinah dijadikan sebagai rambu-rambu peperangan dan kedaulatan pemimpin. Nabi Muhammad mengajarkan etika berbangsa, moralitas kepemimpinan dan moralitas sebuah institusi, baik yang berlatar berbeda keyakinan dan kepercayaan maupun pemerintahan.

Kedelapan. Nabi Muhammad menyediakan kebutuhan masyarakat. Dalam mengurusi masyarakat, Nabi juga bergerak dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. Dalam memberantas kemiskinan, Rasulullah menyediakan modal dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Rasulullah juga mengeluarkan kebijakan tentang pembagian saluran air bagi para petani, dan banyak lagi yang lainnya.

Permasalahan masyarakat pada masa kelahiran nabi Muhammad dan periode kepemimpinannya sangat jauh berbeda dengan kondisi hari ini. Perilaku manusia, baik etika dan moral hari ini juga masih perlu di perbarui ke arah yang lebih baik. Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern. Seperti perilaku dalam mendapatkan hiburan (entertainment), kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin mem­buka peluang munculnya kerawanan-kerawanan moral dan etika. Kerawanan moral dan etik itu muncul semakin transparan dalam bentuk kemaksiatan karena disokong oleh kemajuan alat-alat teknologi informasi mutakhir seperti siaran televisi, keping-keping VCD, jaringan internet, dan sebagainya. Kemaksiatan itu senantiasa mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas, seperti maraknya perjudian, minum-minuman keras, dan tindakan kriminal, serta menjamurnya tempat-tempat hiburan, siang atau malam, yang semua itu diawali dengan penjualan dan pendangkalan budaya moral dan rasa malu.

Tidak asing lagi, akhirnya di negeri yang berbudaya, beradat dan beragama ini, kemaksiatan yang berhubungan dengan apa yang dinamakan sex industri juga mengalami kemajuan. Terutama setelah terbukanya turisme internasional di berbagai kawasan, hingga menjamah wilayah yang semakin luas dan menjarah semakin banyak generasi muda dan remaja yang kehilangan jati diri dan miskin iman dan ilmu. Hal yang terakhir ini semakin buruk dan mencemaskan perkembangannya karena hampir-hampir tidak ada lagi batas antara kota dan desa. Semuanya telah terkontaminasi dalam eforia kebebasan yang tak kenal batas.

Ledakan-ledakan informasi dan kemajuan teknologi dalam berbagai bidang itu tidak boleh kita biarkan lewat begitu saja. Kita harus berusaha mencegah dan mengantisipasi dengan memperkuat benteng pertahanan aqidah yang berpadukan ilmu dan teknologi. Tidak sedikit korban yang berjatuhan yang membuat kemuliaan Islam semakin terancam dan masa depan generasi muda semakin suram.

Apabila kita tetap lengah dan terbuai oleh kemewahan hidup dengan berbagai fasilitasnya, ketika itu pula secara perlahan kita meninggalkan petunjuk-petunjuk Allah yang sangat diperlukan bagi hati nurani setiap kita. Di samping itu kelemahan dan ketertinggalan umat Islam dalam mengakses informasi dari waktu ke waktu, pada gilirannya juga akan membuat langkah-langkah dakwah kita semakin tumpul tak berdaya.

Lantas siapa yang akan menjawab dan menyelesaiakan semua persoalan ini?  Tidak lain adalah kita semua. Kita semua bertanggung jawab untuk mencari solusi upaya penyelesaian terhadap berbagai persoalan keummatan dan kebangsaan. Pada momen pendemi covid-19  saat  ini marilah kita semua merenungi dan bercermin pada sikap dakwah dan politik Rasulullah dalam mengentaskan dan meyelesaikan segala persoalan keummatan dan kebangsaan.

Baca juga: Agama Fitrah

(Visited 1.118 times, 11 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020