Ditulis oleh 8:06 am KALAM

Meneladani “Kemanusiaan” Nabi Muhammad SAW

Pimpinan dan tokoh umat pada khususnya serta umat muslim pada umumnya sebagai pengikut setia Nabi hendaklah senantiasa menjadikan pribadi agung itu sebagai ”uswatun hasanah” dalam setiap aspek kehidupan ini.

Dalam mensifati akhlak Rasulullah Muhammad SAW, ‘Aisyah RA mengatakan: ”Akhlak Beliau adalah Al-Quran”. Rahasia kesuksesan seorang pemimpin pada khususnya dan kehidupan orang perorang sebagaimana dicontohkan Nabi kita terletak pada penyiapan jiwa, pembentukan perasaan dan pendidikan akhlak yang kesemuanya dapat mengubah sikap pribadi pengikut-pengikut dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dengan jalan itu pulalah Nabi kita mengubah masyarakat Arab “jahiliyah” menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi. Di antara keluhuran sifat-sifat kemanusiaan Nabi yang penting ditumbuhsuburkan menurut Khalid Muhammad Khalid dalam kitabnya “Insaniyah Muhammad” di antaranya :

Pertama, rahmat adalah jiwanya. Rahmat pada diri Nabi bukan sekadar diakibatkan karena keyatimannya, melainkan suatu amal dan perangai yang tersusun rapi, teratur dengan cara indah mengiringi wujudnya di alam ini yang dimulai sejak beliau dilahirkan sebagai seorang bayi yang yatim piatu.

Sahabat Jabir RA menceritakan: ”Pada suatu hari Nabi Muhammad SAW sedang dalam perjalanan, kemudian beliau melihat seorang laki-laki yang dikerumuni orang-orang, beliaupun bertanya :”Mengapa orang itu?” Mereka menjawab :”Laki-laki itu sedang berpuasa!” Berkata Baginda Nabi: ”Bukan suatu pekerjaan yang baik siapapun di antara kalian yang berpuasa di saat dalam perjalanan. Gunakanlah perkenan (“rukhsah”) yang diberikan Allah kepada kalian dengan sebaik-baiknya dan terimalah serta laksanakanlah!”

Kedua, keadilan adalah syareatnya. Pada suatu hari datanglah seorang Badui dengan cara yang bodoh dan perkataan yang sangat menusuk: ”Hai Muhammad! Apakah harta ini harta Allah atau harta Bapakmu?” ”Mendengar pertanyaan yang sangat kasar itu Umar bin Khattab RA sebagai sahabat yang berperangai keras dan jujur, bukan main panas telinganya mendengar pertanyaan itu. Umar langsung saja maju dengan menghunus pedangnya. Tindakan yang demikian langsung dicegah Rasulullah SAW: ”Biarkan dia hai Umar, dia mempunyai hak dan berhak pula untuk berbicara!”

Kali lain, dalam suatu perjalanan yang disertai beberapa sahabat, ketika istirahat para sahabat mempersiapkan untuk makan, mereka sibuk membagi pekerjaan di antara mereka, maka Rasulullah SAW mengacungkan jarinya: ”Tugas saya mengumpulkan kayu bakar!” Para sahabat berkata: ”Ya Rasulullah, tugas itu pekerjaan kami!” Jawab Nabi: ”Saya tahu kalian hendak menghormati saya, namun saya tidak mau dibeda-bedakan dengan diri kalian!”

Kalau Rasulullah SAW tidak mampu menjalankan keadilan dengan sempurna, maka siapa lagi yang diharapkan untuk melaksanakan keadilan itu? Pengangkatan beliau menjadi Rasul itulah yang mewajibkan beliau untuk melaksanakan tindakan adil yang demikian tegas. Sebelum tibanya kewajiban, watak cemerlang telah menanti, watak yang murni telah mengalir untuk menerima kewajiban-kewajiban yang besar sebagaimana mengalirnya darah-darah bersih ke dalam pembuluh nadinya.

Ketiga, kasih sayang adalah nalurinya. Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang insan, nalurinya kasih sayang dan sifatnya cinta kasih. Kepada siapa semua itu ditujukan? Jawabannya adalah kepada semua makhluk Allah yang berada di atas bumi. Ketaatan beliau kepada Allah mengatasi ketaatan semua insan, begitu juga cintanya kepada Allah. Kebajikan terhadap sesama manusia adalah dikarenakan cintanya kepada Allah, kebajikan merupakan kesenangannya. Oleh karenanya akan dikerjakannya dengan ringan dan gembira.

Itulah rahasia sukses kepemimpinan beliau, yaitu melaksanakan kasih sayang baginya bukan lagi merupakan sesuatu yang dipaksakan, tetapi sejak kelahirannya, semenjak beliau diciptakan Allah sudah mendarah daging meresap ke seluruh aspek kehidupannya rasa cinta dan kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan Allah. Apabila beliau sedang menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang menyangkut kebutuhan manusia dan masyarakat, maka dalam kesibukan yang demikian itulah beliau menemukan kelezatan dan kesenangan, merindukan rasa kesegaran seorang insan yang sedang cinta. Oleh karena itulah dalam melaksanakan kewajiban tidak lagi terasa berat karena sudah diliputi rasa cinta, dan rasa cinta itu sudah menguasai seluruh jiwa dan raganya.

Keempat, keluhuran budi adalah amal pekerjaannya. Kalau mengikuti doa-doa Rasulullah SAW di mana beliau bermunajat kepada Allah dengan kerendahan dan kesopanan, terungkap nyata kepada kita betapa kecondongan beliau mengarah kepada keluhuran budi, jiwa dan amal. Beliau dalam doa-doanya tidak memohon kepada Allah untuk kepentingan pribadi (”human interest”), tidak pula bersifat khusus, tidak pula karena keinginan nafsu, melainkan berdoa untuk mengingatkan jiwa dan meninggikan budi pekerti.

Kelima, derita manusia adalah kebaktian ibadahnya. Rasulullah adalah seseorang yang sangat ingin membantu mengentaskan orang lain dari deritanya, dan itulah ibadah yang beliau utamakan. Dikisahkan ada seorang sahabat bernama Utsman bin Madh’un RA, beliau sahabat yang sangat terhormat. Beliau termasuk sahabat yang ”berlebihan” dalam beribadah, dirinyapun tidak lagi dikasihani, yang terfikir hanya ibadah saja. Sampai-sampai pada suatu hari berkeinginan untuk mengebiri dirinya dengan maksud untuk mengakhiri secara tuntas panggilan nafsu birahi yang ada pada dirinya. Dengan pendekatan yang sangat arif, Rasulullah akhirnya dapat ”meluruskan” cara berfikir yang salah dari Utsman bin Madh’un ini

Demikianlah sekelumit kisah tentang bagaimana ”kemanusiaan” Muhammad SAW yang demikian tinggi, yang pada akhirnya membawa pribadi agung itu meraih kesuksesan dakwahnya dengan membawa umat Islam ini umat yang sangat menghormati hak-hak orang lain, sekaligus melaksanakan kewajiban-kewajiban dengan penuh tanggung jawab.

Pimpinan dan tokoh umat pada khususnya serta umat muslim pada umumnya sebagai pengikut setia Nabi hendaklah senantiasa menjadikan pribadi agung itu sebagai ”uswatun hasanah” dalam setiap aspek kehidupan ini. Teristimewa dalam mengelola kehidupan yang penuh rona dan dinamika ini, sehingga kita akan menatapi hari-hari esok secara lebih beradab dan menemukan ruh ajaran Islam secara lebih baik dan memberikan kerahmatan kepada lingkungan sosial kita. Insya Allah!

Baca juga: Syukur Nikmat

(Visited 69 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 18 September 2020
Close