Ditulis oleh 6:20 am KALAM

Meneladani Nilai-Nilai Perjuangan AR Baswedan Melalui Pengembangan Pendidikan yang Mengindonesia

Pada masa revolusi, AR Baswedan berperan penting dalam menyiapkan gerakan pemuda peranakan Arab untuk berperang…..

Oleh : Buchory MS
Guru Besar Pasca Sarjana Universitas PGRI Yogyakarta

A. Pendahuluan

Sebuah ungkapan yang sangat bijaksana menyatakan bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah dan jasa para pahlawannya”. Ungkapan ini perlu mendapat perhatian bagi setiap generasi suatu bangsa, sehingga meskipun secara alami dan kodrati, generasi mengalami pergantian dari waktu ke waktu, namun pandangan hidup, cita-cita dan tujuan, serta arah perjuangan suatu bangsa tidak mengalami perubahan secara signifikan. Oleh karena itu setiap generasi memiliki tugas untuk memahami dan menghayati sejarah perjuangan dan perjalanan bangsanya, mengembangkan, meneruskan, dan menyesuaikan sejarah sesuai dengan masanya, sekaligus juga berkewajiban untuk mewariskan kepada generasi berikutnya. Dengan cara demikian maka suatu bangsa tidak akan kehilangan arah dalam mewujudkan cita-cita perjuangan para pahlawannya.

Seorang Sejarahwan Inggris yang sangat terkenal bernama John Seeley pernah mengatakan “We study history that we may be whise before the event”. Pernyataan ini mengandung makna yang mendalam bagi siapa saja yang mau belajar sejarah, baik perseorangan, kelompok masyarakat, termasuk generasi muda maupun suatu bangsa pada umumnya, maka mereka akan menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi setiap peristiwa dalam kehidupannya. Kalau suatu bangsa seperti bangsa Indonesia ini mau belajar sejarah, baik sejarah perjalanan bangsa kita maupun sejarah bangsa lain, maka perjalanan kehidupan bangsa ini akan lebih baik dan lebih sesuai dengan cita-cita dan tujuan para pendiri negara kita.

Sejarah mestinya merupakan suatu fakta atau kenyataan yang sesungguhnya terjadi di dalam suatu masyarakat atau suatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Tetapi dalam perjalanannya, sering terjadi bahwa sejarah dipengaruhi oleh pihak yang memegang kekuasaan, sehingga terkesan dapat direkayasa oleh kelompok yang sedang berkuasa atau penguasa bisa membuat sejarah. Apabila hal ini terjadi, maka ada pembelokan fakta atau bahkan pengkhianatan terhadap sejarah yang dapat meracuni generasi muda selaku penerus perjuangan suatu bangsa.

Salah seorang pelaku sejarah yang memiliki peranan besar dalam perjuangan mempersatukan bangsa Indonesia pada masa penjajahan, dan juga berperan besar dalam masa kemerdekaan negara ini adalah Abdurrahman Baswedan. Beliau memiliki andil besar dalam upaya mempersatukan bangsa Indonesa yang memiliki latar belakang suku, agama, ras, keturunan yang beraneka ragam, bahkan lintas bangsa dan negara. Namun dibalik perjuangan yang hebat tersebut, seolah-olah tokoh kita ini kurang begitu dikenal kiprah dan perjuangannya oleh generasi muda bangsa kita.

B. Mengenal AR Baswedan

Abdurrahman Baswedan yang lebih populer dangan AR Baswedan, lahir di Surabaya pada tanggal 9 September 1908 dan meninggal di Jakarta16 Maret 1986. AR Baswedan adalah seorang pemberontak pada zamannya. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Harian Matahari Semarang yang memuat tulisan Baswedan tentang orang-orang Arab, (1 Agustus 1934). AR Baswedan memang peranakan Arab, walau lidahnya pekat bahasa Jawa Surabaya, dan dia menyerukan kepada orang-orang keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak keturunan Arab, dan dirinya sendiri, untuk menganut asas kewarganegaraan ius soli, suatu asas dalam menentukan status kewarganegaran seseorang berdasarkan tempat kelahirannya. Hal ini sesuai dengan sumpah pemuda warga keturunan Arab.

1. Menggalang Sumpah Pemuda Keturunan Arab

Terinspirasi oleh Sumpah Pemuda yang digalang oleh Muh. Yamin, Soegondo, dan kawan-kawannya pada 28 Oktober 1928 di Jakarta, AR Baswedan juga menggalang para pemuda keturunan Arab untuk mengikrarkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang setelah mendirikan Persatoean Arab Indonesia (PAI). Berikut bunyi Sumpah Pemuda Keturunan Arab:
a. Tanah Air Peranakan Arab adalah Indonesia (sebelumnya mereka berkeyakinan tanah airnya adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke sana).
b. Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri).
c. Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah-air dan bangsa Indonesia.

Pada masa revolusi, AR Baswedan berperan penting dalam menyiapkan gerakan pemuda peranakan Arab untuk berperang melawan Belanda. Mereka yang terpilih kemudian dilatih dengan semi militer di barak-barak. Mereka dipersiapkan secara fisik untuk bertempur. Dia sendiri pernah ditahan pada masa pendudukan Jepang (1942).

2. Menjadi Jurnalis

AR Baswedan adalah seorang otodidak. Dia mempelajari banyak hal secara mandiri, terutama kemampuan menulisnya, kemudian menggeluti dunia jurnalistik. Oleh karena itu, profesi utama dan pertamanya adalah sebagai seorang jurnalis, bahkan termasuk salah seorang perintis pers nasional yang tangguh dan berdedikasi. Sebagai wartawan pejuang, AR Baswedan produktif dalam menulis. Saat era revolusi, tulisan-tulisannya kerap tampil di media-media propaganda kebangsaan Indonesia dengan nada positif dan optimis, sebagaimana terekam dalam buku The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945 karya Harry J. Benda. Rangkuman perjalanannya dalam dunia jurnalistik sebagai berikut:
a. Redaktur Harian Sin Tit Po di Surabaya (1932).
b. Redaktur Harian Soeara Oemoem di Surabaya yang dipimpin dr. Soetomo (1933).
c. Redaktur Harian Matahari, Semarang (1934).
d. Penerbit dan Pemimpin Majalah Sadar.
e. Pemimpin Redaksi Majalah internal PAI, Aliran Baroe (1935-1939).
f. Penerbit dan Pemimpin Majalah Nusaputra di Yogyakarta (1950-an).
g. Pemimpin Redaksi Majalah Hikmah.
h. Pembantu Harian Mercusuar, Yogyakarta (1973).
i. Penasihat Redaksi Harian Masa Kini, Yogyakarta (70-an).

3. Karier Bidang Politik

Karier politik AR Baswedan dimulai saat menjadi ketua Persatuan Arab Indonesia (PAI). PAI memperjuangkan penyatuan penuh keturunan Arab dengan masyarakat Indonesia dan terlibat aktif dalam perjuangan bangsa. Dia mengonsolidasikan kekuatan internal sekaligus membangun komunikasi dengan pihak luar, yaitu gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia lainnya, seperti Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, dan Moehammad Husni Thamrin. Pada 21 Mei 1939, PAI turut bergabung dalam Gerakan Politik Indonesia (GAPI) yang dipimpin Moehammad Husni Thamrin. Dalam GAPI ini partai-partai politik bersepakat untuk menyatukan diri dalam wadah negara kelak bernama Indonesia. Berkat masuk dalam GAPI ini, posisi PAI sebagai gerakan politik dan kebangsaan semakin kuat. Selain masuk dalam GAPI, AR Baswedan juga membawa PAI ke dalam lingkaran gerakan politik kebangsaan yang lebih luas dengan masuk ke dalam Majelis Islam ala Indonesia (MIAI) pada 1937.

Pada masa pendudukan Jepang, AR Baswedan diangkat sebagai anggota Chuo Sangi In, semacam Dewan Penasihat Pusat yang dibentuk Penguasa Jepang. Organisasi ini diketuai langsung oleh Ir. Soekarno. Menjelang Indonesia merdeka, AR Baswedan ikut menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), di sinilah AR Baswedan bersama para pendiri bangsa lainnya terlibat aktif menyusun UUD 1945. Setelah Indonesia merdeka, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Perjuangannya berlanjut pada masa Indonesia merdeka. Bersama dengan Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri), Rasyidi (Sekjen Kementrian Agama), Muhammad Natsir dan St. Pamuncak, AR Baswedan (Menteri Muda Penerangan) menjadi delegasi diplomatik pertama yang dibentuk oleh negara yang baru merdeka ini. Mereka melobi para pemimpin negara-negara Arab. Perjuangan ini berhasil meraih pengakuan pertama atas eksistensi Republik Indonesia secara de facto dan de jure oleh Mesir. Lobi panjang melalui Liga Arab dan di Mesir itu menjadi tonggak pertama keberhasilan diplomasi yang diikuti oleh pengakuan negara-negara lain terhadap Indonesia, sebuah republik baru di Asia Tenggara.

Pada saat membawa dokumen pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir pada tahun 1948, AR Baswedan mendapatkan gangguan yang tidak ringan. Padahal, semua bandara di kota-kota besar, termasuk Jakarta, sudah dikuasai tentara Belanda dan Sekutu dan tidak ada yang bisa lewat dari penjagaan mereka. Tetapi, berkat kelihaian dan kenekatannya, dengan menaruhnya di kaos kaki, dokumen penting dari Mesir itu bisa selamat dan Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka.

4. Menjadi Muballigh

Saat bersekolah di Hadramaut School di Surabaya, AR Baswedan berkenalan dengan KH. Mas Mansoer, imam dan khatib Masjid Ampel, Surabaya, yang pernah menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya. Dari perkenalan itu AR Baswedan sering diminta KH Mas Mansoer untuk ikut berdakwah ke berbagai daerah. Berkat kegiatan ini, komitmen keislaman mengental dan kemampuan pidato AR Baswedan terasah dengan baik; pada gilirannya kemampuannya ini sangat membantunya saat ia berkeliling ke berbagai daerah dan menyampaikan kampanye tentang PAI.

Selain berpidato, AR Baswedan juga berdakwah melalui tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai majalah dan koran Islam. Pada akhir 40-an sampai akhir 50-an AR Baswedan menjadi pemimpin redaksi Majalah Hikmah, sebuah mingguan Islam popular. Dalam dewan redaksi, selain AR Baswedan, juga terdapat Moh. Natsir dan Buya Hamka. Para penulis majalah ini adalah tokoh-tokoh Islam terkemuka, seperti Sjafruddin Prawiranegara.

Dalam bidang dakwah, AR Baswedan juga menjadi ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Cabang Yogyakarta. Bahkan, dia menjadi pelindung dan rumahnya di Tamah Yuwono menjadi tempat berteduh bagi mahasiswa atau seniman Islam yang tergabung dalam Teater Muslim.

5. Penghargaan dan Tanda Jasa

Berkat sumbangsihnya dalam perjuangan bangsa, negara memberi AR Baswedan berbagai penghargaan. Tak hanya Republik Indonesia, dua negara Islam lain pun turut memberinya penghargaan atas kontribusinya dalam membangun hubungan antarnegara dan juga sikapnya yang mendorong penuh kemerdekaan, yaitu dari Mesir dan Aljazair.
a. Negara Indonesia pada 1970 mengakui AR Baswedan sebagai salah seorang Perintis Kemerdekaan.
b. Pada 9 November 1992, negara mengakui dan menghargai kontribusi besar AR Baswedan yang turut menyusun UUD 1945 dalam BPUPKI. Negara menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama .
c. Pada Juli 1995 Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Sayed K El Masry memberikan penghargaan kepada AR Baswedan berupa piagam dari bahan papirus, yang berisikan naskah Perjanjian Persahabatan RI-Mesir pada 10 Juni 1947 dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab.
d. Pada 23 Desember 1995, Aljazair memberikan medali kepada AR Baswedan atas pertemanannya dengan para tokoh Aljazair dan memberikan bantuan moril atas peristiwa Revolusi Aljazair 1 November 1954.
e. Pada Tahun 2013, Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono juga menganugerahi AR Baswedan Bintang Mahaputra Adipradana pada 10 Agustus 2013.
f. Pada tanggal 10 November 2018, negara memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada AR Baswedan atas jasa-jasanya dalam kemerdekaan Indonesia.

C. Nilai Keteladanan Perjuangan AR Baswedan

Perjuangan AR Baswedan banyak sekali yang menjadi teladan bagi generasi penerus perjuangan bangsa. Diantaranya adalah :

1. Sebagai salah seorang pembentuk bangsa (nation builder).

Untuk meneladani perjuagan AR Baswedan dalam membentuk jiwa nasionalisme, kita dapat menyimak kembali Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada sidang yang pertama, AR Baswedan menguraikan jiwa nasionalise bagi penduduk Arab mulai pertama kali masuk ke tanah air sampai dengan sekarang sekitar lima abad lamanya. Beliau berpendapat bahwa orang-orang Arab di sini (Indonesia) tidak ada rumah tangga Arab totok (yang menggunakan bahasa Arab) sebagai bahasa pergaulan. AR Baswedan sendiri di dalam rumah tangganya berbahasa Jawa, dan untuk mendidik kebangsaan Indonesia, menggunakan bahasa kebangsaan Indonesia. Sehingga sama sekali tidak ada perbedaan antara golongan Arab dengan bangsa Indonesia. Kalau ada perbedaan, hanyalah karena ditimbulkan oleh politik Belanda yang menempatkan golongan Arab menjadi satu golongan yang disebut “Ordonante onderdanen Nederlanders”, yaitu bangsa Timur Asing. Jaman Hindia Belanda disebutkan bahwa penduduk digolongkan menjadi tiga, yaitu Golongan Eropa, Golongan Pribumi, dan Golongan Timur Asing.

2. Sebagai salah satu Bapak Bangsa (Founding Father).

Pada sidang BPUPKI yang kedua, ketika membahas tentang status kewarganegaraan, AR Baswedan mengusulkan agar saat negara ini nantinya merdeka, maka semua golongan yang ada harus diakui sebagai bangsa Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Golongan Arab siap membangun Indonesia merdeka bersama-sama dengan golongan lain. Hal seperti ini harus dituangkan dalam rancangan undang-undang dasar yang sedang disusun oleh BPUPKI.

3. Berjasa besar dalam Pengakuan Diplomatik Pertama bagi RI.

AR Baswedan (Menteri Muda Penerangan) bersama dengan Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri), Rasyidi (Sekjen Kementrian Agama), Muhammad Natsir dan St. Pamuncak, menjadi delegasi diplomatik pertama yang dibentuk oleh negara yang baru merdeka ini. Mereka melobi para pemimpin negara-negara Arab. Perjuangan ini berhasil meraih pengakuan pertama atas eksistensi Republik Indonesia secara de facto dan de jure oleh Mesir. Lobi panjang melalui Liga Arab dan di Mesir itu menjadi tonggak pertama keberhasilan diplomasi yang diikuti oleh pengakuan negara-negara lain terhadap Indonesia, sebuah republik baru di Asia Tenggara.

4. Salah seorang perintis Pers Nasional Indonesia.

Profesi utama dan pertama AR Bawedan adalah sebagai seorang jurnalis, bahkan termasuk salah seorang perintis pers nasional yang tangguh dan berdedikasi. Sebagai wartawan pejuang, AR Baswedan produktif dalam menulis. Saat era revolusi, tulisan-tulisannya kerap tampil di media-media propaganda kebangsaan Indonesia dengan nada positif dan optimis’.

5. Tokoh Multikultural yang memperjuangkan kesetaraan jender

Dalam sidang-sidang BPUPKI, AR Baswedan senantiasa menekankan perlunya membangun dan menjaga kebersamaan antara semua golongan yang ada dan budaya yang beraneka ragam sebagai relitas objektif yang tidak bisa dipungkiri di negeri ini. Oleh karena itu seluruh suku, golongan, adat istiadat, dan agama yang ada harus dihormati dan saling menghormati demi keutuhan bangsa dan negara ini.

6. Seniman dan agamawan.

Dalam bidang seni, AR Baswedan berteman baik dengan banyak seniman, seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, Taufiq Effendi, Chaerul Umam dan bahkan W. S. Rendra. Tanpa memandang latar belakang suku dan agama, Baswedan juga berteman akrab dengan Romo Dick Hartoko. AR Baswedan menjadi pemimpin redaksi Majalah Hikmah, sebuah mingguan Islam popular dan juga menjadi ketua Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Cabang Yogyakarta

D. Meneladani Perjuangan AR Baswedan melalui Pengembangan Pendidikan yang Mengindonesia.

  1. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu pusat peradaban dan kebudayan selama beradab-abad dan bahkan juga memiliki andil besar di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak peristiwa dan peninggalan sejarah dan diperkaya dengan dinamika kelahiran dan perkembangan Kerajaan Islam Mataram yang tetap bertahan sampai saat ini; yang dalam perjalanan sejarah berinteraksi pula dengan peradaban Eropa, Cina dan Jepang. Pengalaman historis tersebut membentuk modal budaya dan modal sosial yang kaya dan unik; sebagai tempat kelahiran pemikiran pendidikan yang fenomenal dan monumental. Di samping itu, sebagai pusat pendidikan terkemuka, DIY beserta lingkungan sosial masyarakatnya merupakan lingkungan yang kondusif dan nyaman untuk belajar dan menuntut ilmu. Secara umum, kondisi demikian dapat dicapai dengan memperkuat budayanya. Kehidupan berbudaya akan tercermin dari manusia dan masyarakat serta lingkungan pendukungnya yang akan membantu atau mendorong manusia yang berbudaya.
  2. Visi pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah “Menjadi Pusat Pendidikan Berbasis Budaya Terkemuka di Asia Tenggara pada Tahun 2025. Untuk Mewujudkan visi tersebut, maka dirumuskan misinya, yaitu (a) Mengembangkan pendidikan karakter berbasis budaya; (b) Menyelenggarakan pendidikan berkualitas untuk semua dan non diskriminatif; (c) Mengembangkan tatakelola pendidikan, berbasis budaya; (d) Mengembangkan peran sinergis pendidikan terhadap pembangunan; (e) Mengembangkan pusat-pusat unggulan mutu pendidikan.
  3. Sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan terkemuka, sejak jaman dulu Yogyakarta memiliki ciri khas dan keunggulan bidang pendidikan dengan lima pilar keistimewaan. Kelima pilar keistimewaan yang menjadi ciri khas dan keunggulan pendidikan di Yogyakarta tersebut adalah: Kraton dan Pakualaman, Muhammadiyah, Tamansiswa, Pesantren, dan Pendidikan Persekolahan model Barat. Dengan demikian, sangat tepat deklarasi pendirian Yayasan AR Baswedan di Yogyakara dan dapat dipertimbangkan kemungkinan dalam pengembangan lembaga pendidikan AR Baswedan, juga bertempat di kota ini.
  4. Untuk meneladani nilai-nilai perjuangan AR Baswedan, sangat tepat telah dibentuk sebuah yayasan yang antara lain akan menaungi lembaga pendidikan. Konsep lembaga pendidikan yang mengindonesia dipandang sangat tepat dalam upaya meneladani nilai-nilai perjuangan AR Baswedan, yang ciri-cirinya merupakan kombinasi atau gabungan dari:

    a. Konsep pola pendidikan di lingkungan Kraton dan Paku Alaman, yang menekankan pada pembentukan kepribadian, akhlaq mulia, kesopan-santunan, menjaga etika dan aestetika, tenggang rasa dan tepo seliro diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peradaban dan kebudayaan yang berkembang di Yogyakarta.

    b. Konsep pendidikan Muhammadiyah yang mempunyai cita-cita melahirkan manusia-manusia yang tampil sebagai ‘ulama intelek’ dan ‘intelek ulama’.

    c. Konsep pendidikan Tamansiswa yang berbasis kebudayaan dan kebangsaan sebagai ideologi pendidikan dengan tri pusat pendidikan, yaitu pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara harmonis.

    d. Pendidikan model pesantren, yaitu pendidikan di langgar diajarkan hal-hal yang bersifat dasar, dan di pesantren lebih meningkat dan mendalam. Para siswanya atau santri dikumpulkan dalam pondok dekat masjid dan rumah guru atau kyai. Kedekatan antara santri dengan kyai mendukung proses penyerapan ilmu dari santri ke kyainya.

    e. Pendidikan persekolahan model barat, menggantikan pendidikan tradisional yang sudah menjadi bagian masyarakat dengan pengajar yang penuh kharisma. Peran para pengajar digantikan dengan guru yang mengajarkan pengetahuan umum di kelas dan persekolahan.

    f. Pendidikan pesantren modern model Gontor, yang memadukan konsep pendidikan Islam dengan pendidikan umum. Peserta didik tidak hanya menguasai masalah keagamaan Islam, tetapi juga menguasai pendidikan umum bahkan menguasai bahasa asing (Arab dan Inggris).

    g. Pendidikan asrama model SMA Taruna Nusantara, yang mengedepankan kedisplinan yang sangat tinggi, penanaman jiwa patriotisme dan nasionalisme yang sangat mendalam kepada peserta didiknya.

    h. Pendidikan Tinggi model UNISULA Semarang. Pengamalan sholat berjamaah, terutama untuk sholat dhuhur dan ashar semua sivitas akademika melaksanakannya di Masjid yang berada di tengah-tengah Kampus. Sehingga pada saat waktunya tiba untuk kedua sholat fardhu tersebut, semua kegiatan dihentikan dan listrik dimatikan dan ada mahasiswa yang piket untuk mengingatkan semua warga agar berjamaah di masjid kampus.

E. Wasana Kata

Pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan peradaban dan kebudayaan, karena pendidikan yang tidak didasari dengan kebudayaan maka akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya sendiri. Pendidikan yang tidak berlandaskan pada kebudayaan akan menjadi steril dari kekayaan budayanya sendiri. Sebaliknya kebudayaan yang tidak menyatu dengan pendidikan, akan cenderung asing bagi kehidupan masyarakatnya dan akan ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Nilai-nilai pendidikan yang dikembangkan di lingkungan Yayasan AR Baswedan adalah berbasis budaya dan karakter bangsa yang bersumber dari:
a.    Agama Islam: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Dengan demikian nilai-nilai pendidikan yang dikembangkan di lembaga pendidikan AR Baswedan hendaknya didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari Agama Islam.
b.    Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan berdasarkan Pancasila. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, dan sosial budaya, termasuk lembaga pendidikan AR Baswedan.
c.     Budaya: suatu kebenaran mutlak bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan yang dikelola oleh Yayasan AR Baswedan.
d.   Sistem Pendidikan Nasional, telah merumuskan sistem dan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, setelah menyelesaikan seluruh jenjang dan jalur pendidikan. Oleh karena itu lembaga pendidikan AR Baswedan juga perlu mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional tersebut.

F. Daftar Pustaka

Buchory MS, dkk. 2011. Penyiapan Sarjana Kompetitif dan Berkarakter Indonesia, Model Pendidikan Karakter di Universitas PGRI Yogyakarta.
Hamengku Buwono X. 2012. Mencari Ciri Khas & Keunggulan Pendidikan DIY. Bahan Diskusi Jogya Education Club 20 Maret 2012. Yogyakarta : Universitas Duta Wacana.
Hasan, Said Hamid, dkk. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemdiknas.
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025. 2010. Jakarta : Pemerintah Republik Indonesia.
Suratmin dan Didi Kwartanada. Biografi AR Baswedan, Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan. Jakarta : Kompas Penerbit Buku.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta : Sekretariat Negara. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Sekretariat Negara.

(Visited 1.373 times, 4 visits today)
Last modified: 13 Februari 2020
Close