Ditulis oleh 2:14 pm KALAM

Meneladani Pendidikan Keluarga Lukman el-Hakim

Ada empat aspek pribadi anak yang harus dikembangkan dalam pendidikan keluarga, yaitu pendidikan aqidah, ibadah, akhlak, dan dakwah. Berikut penjelasannya.

Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah yang dibebankan Allah SWT kepada kedua orangtua. Dalam kaitannya dengan amanah pendidikan anak, orangtua berperan dalam : (a) memelihara kesehatan fisik dan mental anak, (b) meletakkan dasar kepribadian anak, (c) membimbing dan memotivasi anak, (d) memberikan fasilitas yang memadai, dan (e) menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan diri anak.[1] Perilaku anak biasanya merupakan cermin bagaimana anak tersebut diperlakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Pengalaman orangtua mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku anak akan sangat membantu dalam mengkondisikan anak dalam pembentukan perilakunya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan orangtua akan diikuti pula oleh anak-anaknya.[2] Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk mengenal dan memahami pola asuh yang diterapkan pada anak-anaknya, sehingga tidak merugikan anak untuk masa-masa yang akan datang.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak dalam keluarga ini, Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, M. Ag. Mengajak kita unuk mengambil  ibrah dari pendidikan yang dilakukan Lukman el-Hakim kepada putranya. Ada empat aspek pribadi anak yang harus dikembangkan dalam pendidikan keluarga; yaitu pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, pendidikan akhlak, dan pendidikan dakwah.[3] Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Pendidikan Aqidah

Lukman el-Hakim menyadari bahwa pendidikan aqidah perlu ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Anak diajak untuk mengenal Allah SWT dengan memperkenalkan bermacam-macam ciptaan Allah Yang Maha Rahman. Pendidikan tauhid sangat penting sebagai modal dasar bagi anak dalam menjalani roda kehidupan nanti, sebagaimana firman-Nya : ”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar”.[4]

Lukman menanamkan keyakinan kepada anaknya bahwa apa saja yang dikerjakan manusia, betapa pun halus dan kecilnya, tidak luput dari pandangan Allah. Buruk dan baik semua akan dicatat dan diberi balasan yang adil. Dilanjutkan dalam firman-Nya: ”(Luqman berkata) : ”Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.[5]

b. Pendidikan Ibadah

Setelah rasa aqidah ditanamkan kepada anak, Lukman mengajaknya membiasakan dirinya melakukan ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesuatu, betapapun ringannya kalau tidak dibiasakan akan terasa berat. Sebaliknya sesuatu yang berat kalau dibiasakan akan terasa ringan. Pertama Luqman menyuruh anaknya mendirikan shalat karena shalat adalah tiang agama sekaligus sebagai barometer ketaqwaan seseorang kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya :

”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesunguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.[6]

Sudah barang tentu disiplin ibadah baru bisa didirikan di tengah keluarga apabila kedua orangtuanya terlebih dahulu melaksanakannya. Disiplin yang ditanamkan dari kecil oleh orangtua akan meninggalkan bekas yang dalam dan lama, hingga nantinya anak tidak mudah tergoda untuk meninggalkan perintah-perintah Allah SWT.

c. Pendidikan Akhlak

Suatu tugas betapa pun kecil dan sederhananya, pasti memiliki konsekuensi dan resiko. Resiko seorang penggerak dakwah (da’i) adalah mendapatkan tantangan dari masyarakat atau pribadi yang tidak senang terhadap dakwah Islamiyah itu. Untuk itu seorang da’i harus siap mental menerima segala macam cobaan; tidak mundur dan patah semangat, harus memperlihatkan akhlak seorang yang teguh iman dan sabar. Luqman mengingatkan anaknya untuk bersabar menerima segala macam cobaan, dalam komunikasinya dalam hidup bermasyarakat : ”…. dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”[7]

Manusia menurut pandangan Allah SWT memiliki nilai dan kedudukan yang sama. Tidak ada perbedaan antara bangsa kulit putih dengan kulit berwarna. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang ’Ajam. Allah SWT tidak menilai seseorang dari tampan rupa atau gagahnya penampilan fisik, tetapi Allah hanya melihat hati dan amalan. Oleh karena itu, sangat tidak beralasan bagi seseorang untuk berbuat sombong kepada orang lain. Seseorang harus menghormati orang lain. Yang tua dihormati, yang muda disayangi. Sesama besar saling menghargai. Kata Luqman: ”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)...”.[8]

Cara berjalan pun harus diperhatikan. Berjalanlah secara sederhana. Jangan terlalu menengadah seperti orang angkuh, dan jangan pula terlalu menunduk seperti orang patah hati, tetapi sederhana, pertengahan antara keduanya. Begitu juga cara berbicara, sekadar didengar orang yang diajak berbicara saja, jangan keterlaluan, terlalu keras atau terlalu lambat. Sejelek-jelek suara adalah suara keledai, demikianlah kata Luqman memberikan contoh kepada anaknya. ”Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.[9]

d. Pendidikan Dakwah

Lukman menanamkan kepada anaknya sifat keberanian menyatakan kebenaran, dan mengajak orang untuk melaksanakannya, serta keberanian menunjukkan mana yang salah dan melarang orang untuk mendekatinya. Inilah sikap penggerak dakwah yang tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan juga memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Apabila setiap orang berusaha amar ma’ruf dan nahi munkar tentu dunia ini akan penuh dengan kedamaian, silang sengketa akan dapat diatasi. Perhatikan kata Luqman berikutnya kepada anaknya : ”…. Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar….”.[10]  Amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan tugas setiap orang, ketika mengharapkan adanya perbaikan di dalam kehidupan bermasyarakat.


[1] Hibana S. Rahman, Pendidikan Anak Usia Dini, hlm.100-101.
[2]Azam Syukur Rahmatullah, Psikologi Kemalasan, hlm.49.
[3] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq, hlm.179-183.
[4] QS Luqman, 31;130
[5] QS Luqman, 31:16
[6] QS Luqman,31:17
[7] QS Luqman, 31:17
[8] QS Luqman,31:18
[9] QS Luqman, 31:19
[10] QS Luqman, 31:17

(Visited 165 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 10 Mei 2020
Close