Mengapa Bayi Tidak Mudah Mengingat?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Apa yang telah mereka pelajari saat sedang tenang tidak dapat diakses kembali pada saat mereka aktif dan begitu juga sebaliknya.

Ketika kita mendapat tambahan di keluarga, yakni seorang bayi kecil tentunya kita dengan senang hati akan membimbing serta mengajarkan hal-hal baru padanya. Namun demikian, sering kali hal-hal tersebut serasa tidak masuk dalam ingatan si bayi. Mengapa?

Sebuah studi mengatakan bahwa bayi mengingat apa yang telah mereka pelajari, dengan cara apapun, bergantung pada suasana hati mereka saat itu. Apa yang telah mereka pelajari saat sedang tenang tidak dapat diakses kembali pada saat mereka aktif dan begitu juga sebaliknya. Perilaku ini ditunjukkan dalam penelitian yang dilakukan oleh psikolog perkembangan di Ruhr-Universität Bochum (RUB) dengan 96 anak berusia sembilan bulan. Laporan tersebut diterbitkan di jurnal Child Development.

Senang, Kemudian Sedih

Suasana hati seorang bayi tidak mudah diprediksi. Pada satu saat mereka mungkin bermain dengan bahagia, lalu sesaat kemudian sedih hingga benar-benar tidak dapat dihibur. Profesor Sabine Seehagen, kepala kelompok penelitian Psikologi Perkembangan di RUB mengatakan bahwa secara mengejutkan, belum ada yang mengetahui apakah suasana hati dari si bayi ini mempengaruhi pembelajaran serta memori si bayi.

Penelitian terhadap orang dewasa menunjukkan bahwa suasana hati memengaruhi cara berpikir. Dapat diaktakan bahwa kita mengingat pengalaman yang dialami dalam suasana hati tertentu, terutama ketika berada dalam suasana hati yang sama dengan yang di dalam memori.

Untuk mengetahui apakah fenomena ini, yang juga dikenal sebagai memori bergantung keadaan, terdapat juga pada bayi, para peneliti mempelajari 96 bayi berusia sembilan bulan. Langkah pertama mereka adalah, mereka mencoba membuat bayi melakukan aktivitas yang tenang bersama orang tua. Seperti melihat buku bergambar, atau membuat bayi tersebut meloncat-loncat; kemudian, mereka meneliti saat seorang pelaku eksperimen dengan menggunakan boneka tangan, sedemikian sehingga si bayi belajar bagaimana memainkan boneka ini.

Sabine Seehagen mengatakan bahwa aspek yang menarik bagi para peneliti adalah apakah bayi-bayi tersebut mampu menirukan gerakan yang telah mereka amati seperempat jam kemudian atau tidak. Tepat sebelum tes dimulai, beberapa bayi dimasukkan ke dalam kondisi yang sama seperti saat mereka belajar, sementara yang lainnya dimasukkan ke dalam keadaan yang berlawanan.

Tidak Dapat Mengakses Isi Memori

Bayi yang tengah memiliki suasana hati yang berbeda saat belajar dibandingkan pada saat mereka mengingat apa yang telah mereka pelajari tidak dapat menirukan gerakan dengan boneka. Peneliti mengatakan bahwa kinerja ingatan dari bayi, dua setengah kali lebih tinggi jika mereka memiliki suasana hati yang sama saat belajar dan saat mereka mengingat apa yang telah mereka pelajari. Sehagen mengatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa fluktuasi keadaan internal pada usia ini dapat mencegah akses pada isi.

Para peneliti berasumsi bahwa hal ini mungkin merupakan penjelasan terhadap suatu fakta bahwa orang dewasa tidak dapat mengingat pengalaman masa kecil mereka. Dan kini orang tua mungkin dapat memahami mengapa anak-anak mereka dapat mengingat beberapa hal dan tidak dapat mengingat yang lain.Oleh karena beberapa hal yang dipelajari seorang anak dalam suasana hati yang tenang mungkin tidak dapat diakses lagi ketika anak itu marah.

Seehagen mengatakan bahwa di dalam studi tersebut peneliti hanya melihat pada satu kelompok usia. Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk mengeksplorasi bagaimana hubungan antara suasana hati dan ingatan berkembang dengan bertambahnya usia. (Disadur dari situs sciencedaily)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti