Ditulis oleh 9:09 am COVID-19

Mengapa Harus Melawan Covid 19?

Mari kita menghalau Covid 19, dengan memaksimalkan ikhtiar, berdoa tulus, dan tawaqal kepada Sang Khalik Pemilik dan Pengatur jagat raya.

Oleh: Sitti Noor Zaenab

Hampir 2 bulan terakhir ini dimana-mana terpampang slogan “#Melawan Covid 19”, baik itu di media massa mainstream, media sosial, tulisan ilmiah, webinar, opini, di kampung-kampung, dll. Ramai-ramai ingin melawan Covid 19, seakan mau pamer kehebatan/ kekuatan bahwa manusia pasti menang. Melawan harimau atau dinosaurus saja bisa, apalagi hanya melawan makhluk kecil, kecil sekali bahkan tidak kasat mata, yang tentu juga tidak memiliki akal budi. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, pasti paling mampu menyelesaikan segalanya. Sedang Covid 19 hanya makhluk kecil yang sedang berwisata.

Makin dilawan makin ganas, makin tidak terkendali. Siapapun dibunuhnya tanpa ampun tanpa pandang bulu, korbannya ada professor, doktor, tenaga kesehatan, pimpinan pemerintahan, politikus, pengusaha, seniman, orang kaya, orang miskin, ibu rumah tangga, rakyat jelata, dll. Melihat kenyataan ini manusia semakin marah, makin greget, segala daya upaya dikerahkan supaya bisa menang. Tetapi kok tidak menang menang? Covid 19 yang merasa dilawan mungkin juga marah, mereka memang sangat kecil tetapi jumlahnya sangat banyak dan tidak bisa dilihat. Itu masalahnya “sangat kecil- sangat banyak- tidak terlihat”, tetapi ada dan nyata keberadaannya.

Manusia ingin melawannya, konotasi kegiatan “melawan” adalah berhadapan, lah yang dihadapi apa atau siapa, mana? Kadang kita frustrasi dibuatnya, tetapi kita telah bertekad melawannya sampai titik darah penghabisan dan Covid 19 kalah. Gerakan menyeluruh mulai tingkat dunia sampai rumah tangga #Lawan Covid 19.

Saya teringat perilaku sendiri beberapa waktu lampau. Ketika  di rumah banyak semut saya semprot, mati, saya puas, tapi besok muncul lagi dengan jumlah lebih banyak, saya semprot lagi, mati…  Begitu juga dengan tikus, saya bunuh pakai obat tikus, mati, saya puas. Tanpa saya mau memahami/ mempelajari, apa yang menyebabkan semut dan tikus senang bertandang ke rumah saya.

Sampai pada suatu ketika anak saya yang tentu lebih muda dari ibunya nyeletuk: “mama… kok dibunuh? kasian dong anak-anaknya yang menunggu di sarangnya, dia kan juga makhluk Tuhan seperti kita”. Saya merasa tertampar dan tentu muka saya merah padam kala itu. Memang anak-anak suka menonton cerita binatang/ makhluk-makhluk kecil yang sering mengeluh atas perilaku/ keganasan manusia yang mengganggu kehidupan mereka. Dan saya teringat kisah Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan binatang, termasuk mendengar pembicaraan semut. Tentu saya bukan Nabi Sulaiman, tetapi bukankah kisah-kisah dalam Al Quran perlu menjadi pelajaran  sampai masa kekinian.

Saya menyadari bahwa binatang-binatang itu datang mengingatkan akan lingkungan yang kurang bersih dan rapi. Saya tidak lagi membunuh makhluk-makhluk kecil itu dengan membabi buta, kalau mereka muncul maka saya akan menyapa dengan santun; “terimakasih ya, sudah datang mengingatkan. Sudah ya…sekarang pulang ke tempatmu, jangan mengganggu kami lagi”. Biasanya secara perlahan mereka berkurang dan dalam waktu 2 – 7 hari sudah tidak ada. Begitulah hukum sebab-akibat berlaku… Sunnatullah…

Kembali ke bahasan awal #Melawan Covid 19, secara pribadi saya tidak setuju dengan slogan ini. Andai saya berwewenang maka akan memakai “#Menghalau Covid 19”. Kenapa? “Menghalau” berkonotasi satu di depan yang satu di belakang, jadi secara santun menempatkan Covid 19 di depan, manusia di belakang. Posisi di belakang terkesan kurang hebat tapi bisa keluar sebagai pemenang. Sedang istilah melawan saling berhadapan, nyatanya sampai saat ini kita belum juga menang.

Sebagai manusia beriman kita sangat percaya bahwa bencana ini pasti berlalu, “bersama kesulitan ada kemudahan”, “Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi kemampuannya”. Tetapi kita sangat mengharapkan bahwa berlalu dalam waktu yang tidak terlalu lama dan tidak mengambil korban terlalu banyak. Kita ingin memakmurkan masjid di bulan Ramadhan, berharap Solat Idul Fitri bersama-sama, dan membayangkan tetap bersilaturrahmi dengan sanak saudara di bulan Syawal tahun ini. Kalau Allah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin kan?

“Allah tidak akan menguji hambaNya melebihi kemampuannya”.

Untuk itu mari kita menghalau Covid 19, dengan memaksimalkan ikhtiar, berdoa tulus,  dan tawaqal kepada Sang Khalik Pemilik dan Pengatur jagat raya:

# Patuh menjalankan protokol pemerintah/ WHO (Stay Home, Social Distancing, Physical Distancing, keluar rumah Pakai Masker, dll)

# PHBS/Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (CTPS = Cuci tangan pakai Sabun, Gizi seimbang, minum hangat, istrahat 6-8 jam, hindari stres, kostum kerja sekali pakai langsung cuci, buka lebar pintu dan jendela, kurangi AC, dll)

# Meningkatkan daya tahan tubuh (baca Al Quran dengan tartil minimal didengar telinga sendiri, berdzikir/ wiridan, perbanyak makan sayur dan buah, banyak minum air putih/ infus water 6-10 gelas, berjemur di sinar matahari 15 -30 menit, Olah Raga di halaman rumah 30 – 60 menit, selalu berpikir positif dan gembira, dll)

# Berkomunikasi secara virtual dg Covid 19 supaya segera pulang kembali ke tempat asalnya, dengan ucapan terimakasih bahwa telah datang mengingatkan umat manusia atas perilaku-perilaku tidak bersahabat selama ini sehingga mengganggu keseimbangan alam

# Berdoa tulus kepada Allah SWT, mohon dijauhkan dan segera menarik kembali makhluknya yg bernama Covid 19. Juga mohon semoga kita semua mampu/ sempat bertaubat dan memulai kehidupan yang lebih bermartabat paska bencana ini

# Tawaqal, menyerahkan segala keputusan akhir pada Allah SWT semata dan yakin bahwa keputusanNya yang terbaik untuk setiap hambaNya

Andaikan semua itu bisa kita amalkan dengan penuh kesabaran dan disiplin, In Syaa Allah kita bisa tidur nyenyak dalam kedamaian. Ketika bangun kita menyaksikan dunia yang lebih bersih, manusia yang lebih bertaqwa, kehidupan bersama sesama makhluk yang lebih beradab dan harmonis.

Wallahu Alam.

Penulis: Ibu Rumah Tangga, Pensiunan PNS


Patuh menjalankan protokol pemerintah/ WHO (Stay Home, Social Distancing, Physical Distancing, keluar rumah Pakai Masker, dll


(Visited 1.541 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 16 April 2020
Close