24.3 C
Yogyakarta
24 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Mengapa Kita Berpikir Makanan yang Terlihat Cantik Lebih Sehat?

Ketika kita melihat makan-makan yang disajikan secara cantik di meja makan, terkadang kita berpikir bahwa makan tersebut dibuat dengan bahan yang terbaik dan oleh karenanya pastilah sehat. Namun benarkah demikian? Apakah makanan yang nampak cantik, menarik perhatian dan bersih lebih sehat dari makan lainnya?

Ketika konsumen melihat berbagai makanan yang diiklankan, dimana kebanyakan adalah makanan cepat saji, dibuat sedemikian sehingga terlihat cantik. Sebagai contoh seperti sebuah pizza, yang bulat sempurna dengan topping yang ditata secara rapi. Tentunya tujuan dari periklanan adalah untuk membuat makanan-makanan ini lebih menarik dan mengundang selera. Pertanyaannya, apakah tampilan yang secara estetika cantik ini memiliki efek, yang mungkin bermasalah, terhadap persepsi kita pada makanan?

Di satu sisi, keindahan biasa diasosiasikan dengan kesenangan dan kepuasan. Ketika melihat sesuatu yang indah seperti secara otomatis akan membuka pujian dalam otak kita dan melihatnya dengan penuh kebahagiaan. Hal ini mungkin dapat membuat makanan yang nampak cantik menjadi terlihat tak sehat, oleh karena kecenderungan melihat kesenangan dan kegunaan sebagai sesuatu yang eksklusif. Sebagai contoh, banyak orang memiliki intuisi umum bahwa suatu makanan itu enak atau sehat, akan tetapi tidak keduanya.

Di sisi yang lain, terdapat suatu estetika yang khusus bernama “classical” dicirikan oleh pola ideal yang ditemukan di alam. Sebagai contoh, fitur utama estetika classical adalah simetri yang sangat umum ditemukan di alam. Ciri lainnya atara lain melibatkan pola keteraturan dan sistematik, yang juga dapat ditemukan di mana-mana.

Sepertinya menggunakan lebih banyak fitur visual yang menyerupai alam dapat membuat penggambaran atas makanan terasa lebih alami. Dan tampak lebih alami, di sisi lain, dapat membuat makanan tampak lebih sehat karena orang cenderung menganggap hal-hal alami, seperti makanan organik atau pengobatan alami, lebih sehat bila dibandingkan dengan yang tidak alami, seperti makanan yang diproses atau bahan kimia sintetis. Jadi, dengan merefleksikan alam, makanan yang sama mungkin tampak lebih sehat jika cantik (bila dibandingkan dengan yang tidak cantik).

Untuk memeriksa ini, beberapa percobaan dilakukan untuk menguji apakah makanan yang sama dianggap lebih sehat jika terlihat cantik dengan mengikuti prinsip estetika klasik (simetri,teratur, dan pola sistematis) dibandingkan ketika makanan tersebut tidak dibuat cantik.

Dalam satu percobaan, peserta percobaan mengevaluasi sebuah roti panggang alpukat. Semua peserta diperlihatkan dengan informasi bahan dan harga yang identik, namun mereka secara diminta untuk melihat roti panggang alpukat yang cantik atau roti panggang alpukat yang jelek (gambar-gambar sebelumnya, rata-rata, dinilai cantik secara berbeda). Terlepas dari informasi yang sama tentang makanan tersebut, para responden menilai roti bakar alpukat secara keseluruhan lebih sehat (lebih sehat, lebih bergizi, lebih sedikit kalori) dan lebih alami (lebih murni, lebih sedikit diproses) jika mereka melihat versi cantik dari roti tersebut, bila dibandingkan dengan mereka yang melihat versi tidak cantiknya.

Seperti yang sebelumnya diduga, perbedaan dalam penilaian kealamian mendorong perbedaan dalam penilaian kesehatan. Penilaian aspek lain, seperti kesegaran atau ukuran, tidak memiliki pengaruh. Eksperimen dengan makanan yang berbeda dan manipulasi kecantikan memiliki pola hasil yang sama.

Yang terpenting adalah penilaian kesehatan ini memengaruhi perilaku konsumen. Dalam sebuah percobaan di lapangan, terlihat bahwa seorang bersedia membayar lebih banyak uang untuk paprika yang cantik daripada yang jelek, dan sebagian besar dari peningkatan harga reservasi ini disebabkan oleh peningkatan analog dalam penilaian kesehatan. Dalam sebuah studi lain, ketika orang memiliki insentif keuangan untuk mengidentifikasi dengan benar mana dari dua makanan yang mengandung lebih sedikit kalori, cenderung menyatakan sebuah makanan sebagai pilihan kalori yang lebih rendah ketika makanan tersebut cantik, meskipun ini pilihan membuat mereka kehilangan uang.

Terdapat beberapa kualifikasi utama. Pertama, efek cantik = sehat terbatas pada estetika classical. Estetika “ekspresif” tidak melibatkan pola yang mirip alam, melainkan melalui eksekusi imajinatif dari ide-ide kreatif, seperti makanan yang dipotong menjadi bentuk yang menyenangkan atau disusun untuk menggambarkan sebuah adegan. Kedua, bias cantik = sehat dapat diredam dengan menampilkan sebuah peringatan di sebelah makanan yang mengingatkan orang bahwa makanan tersebut telah dimodifikasi secara artifisial.

Efek dari prinsip estetika classical ini memiliki implikasi bagi pemasar dan pendukung kesehatan masyarakat, meskipun berbeda. Peneliti menjelaskan bahwa estetika classical mungkin merupakan suatu cara baru tanpa biaya dan halus untuk menyampaikan kealamian dan kesehatan, atribut yang semakin diminati konsumen dalam produk makanan. Pada saat yang sama, penyajian makanan yang cantik dapat secara optimis mendistorsi perkiraan nutrisi dan berdampak negatif pada keputusan diet. Dengan adanya temuan tersebut, para pembuat kebijakan mungkin perlu mempertimbangkan peringatan modifikasi sebagai intervensi atau memperkuat peraturan seputar memberikan informasi nutrisi yang obyektif dengan gambar makanan.

Sumber:
Situs sciencedaily.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA