Mengapa Motivasi untuk Belajar Menurun Seiring Bertambahnya Umur?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Peneliti mengatakan bahwa seiring bertambahnya usia, kita akan semakin sulit untuk memiliki sikap get-up-and-go terhadap berbagai hal.

Seiring bertambahnya usia, kita cenderung kehilangan motivasi untuk mempelajari hal-hal baru atau terlibat dalam aktivitas sehari-hari dan lebih memilih melakukan hal yang sudah biasa dilakukan. Mengapa demikian? Kini, di dalam sebuah penelitian terhadap tikus, ilmuwan saraf MIT telah mengidentifikasi sirkuit otak yang sangat penting untuk mempertahankan motivasi untuk belajar.

Sirkuit tersebut sangat penting untuk belajar membuat keputusan yang memerlukan evaluasi konsekuensi (cost) dan hasil (reward) yang muncul dengan tindakan tertentu. Para peneliti menunjukkan bahwa mereka dapat meningkatkan motivasi tikus yang lebih tua untuk terlibat dalam jenis pembelajaran ini dengan mengaktifkan kembali sirkuit ini, dan mereka juga dapat menurunkan motivasi dengan menekan sirkuit.

Peneliti mengatakan bahwa seiring bertambahnya usia, kita akan semakin sulit untuk memiliki sikap get-up-and-go terhadap berbagai hal. Get-and-go, atau keterlibatan, penting untuk kesejahteraan sosial kita dan untuk belajar, akan sulit untuk belajar jika diri kita tidak hadir dan terlibat.

Evaluasi cost dan benefit

Striatum adalah bagian dari basal ganglia, kumpulan pusat otak yang terkait dengan pembentukan kebiasaan, kontrol gerakan sukarela, emosi, dan kecanduan. Selama beberapa dekade, peneliti telah mempelajari kelompok sel yang disebut striosom, yang didistribusikan ke seluruh striatum. Mereka menemukan striosom beberapa tahun yang lalu, tetapi fungsinya tetap misterius, sebagian karena striosom sangat kecil dan dalam di dalam otak sehingga sulit untuk menggambarkannya dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI).

Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti striosom memainkan peran penting dalam jenis pengambilan keputusan yang dikenal sebagai konflik pendekatan-penghindaran. Keputusan ini melibatkan pemilihan apakah akan mengambil yang baik dengan yang buruk, atau menghindari keduanya, ketika diberikan pilihan yang memiliki elemen positif dan negatif. Contoh dari keputusan semacam ini adalah harus memilih apakah akan mengambil pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi tetapi memaksa menjauh dari keluarga dan teman. Keputusan seperti itu sering kali menimbulkan kecemasan yang besar.

Dalam studi terkait, para peneliti menemukan bahwa striosom terhubung ke sel dari substansia nigra, salah satu pusat penghasil dopamin utama di otak. Studi tersebut membuat para peneliti berhipotesis bahwa striosom mungkin bertindak sebagai penjaga yang menyerap informasi sensorik dan emosional yang berasal dari korteks dan mengintegrasikannya untuk menghasilkan keputusan tentang bagaimana bertindak. Tindakan tersebut kemudian dapat diperkuat oleh sel penghasil dopamin.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa stres kronis berdampak besar pada sirkuit ini dan pada pengambilan keputusan emosional semacam ini. Dalam sebuah studi terdahulu yang dilakukan pada tikus, para peneliti menunjukkan bahwa hewan yang stres jauh lebih mungkin untuk memilih opsi yang berisiko tinggi dan memiliki reward yang tinggi. Tetapi para peneliti dapat memblokir efek tersebut dengan memanipulasi sirkuit.

Dalam studi terbaru baru, para peneliti menyelidiki apa yang terjadi pada striosom saat tikus belajar bagaimana membuat keputusan seperti ini. Untuk melakukan hal tersebut, mereka mengukur dan menganalisis aktivitas striosom saat tikus belajar memilih antara hasil positif dan negatif.

Selama percobaan, tikus akan mendengar dua nada berbeda, dimana salah satunya disertai dengan sebuah hadiah (air gula), dan nada lainnya dipasangkan dengan stimulus mengganggu ringan (cahaya terang). Secara bertahap tikus belajar bahwa jika mereka menjilat lebih banya pada tabung semburan ketika mendengar nada pertama, mereka akan mendapatkan lebih banyak air gula, dan jika mereka menjilat lebih sedikit selama nada kedua, cahayanya tidak akan terlalu terang.

Belajar untuk melakukan tugas seperti ini membutuhkan suatu pemberian nilai pada setiap cost dan setiap reward. Para peneliti menemukan bahwa saat tikus mempelajari tugas tersebut, striosom menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi daripada bagian lain dari striatum, dan aktivitas tersebut berkorelasi dengan respons perilaku tikus terhadap kedua nada tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa striosom dapat menjadi suatu penentu penting untuk menetapkan nilai subjektif pada hasil tertentu.

Peneliti mengatakan bahwa untuk dapat bertahan hidup, untuk melakukan apa pun yang kita lakukan, maka kita perlu untuk terus-menerus harus mampu belajar. Kita perlu mempelajari apa yang baik untuk kita, dan apa yang buruk bagi kita.

Ketika seseorang, atau dalam kasus ini seekor tikus, mungkin sangat menghargai sebuah reward sehingga risiko untuk mengalami kemungkinan konsekuensinya tidak dipedulikan, sementara untuk tikus yang lain mungkin ingin menghindari konsekuensi dengan mengesampingkan semua rewardnya. Hal tersebut menurut peneliti, dapat mengakibatkan kondisi pembelajaran berbasis “reward-driven” di sebagian dan pembelajaran berbasis “cost-driven” di sebagian yang lainnya.

Para peneliti menemukan bahwa neuron penghambat yang menyampaikan sinyal dari korteks prefrontal membantu striosom untuk meningkatkan rasio signal-to-noise mereka, yang membantu menghasilkan sinyal kuat yang terlihat ketika tikus mengevaluasi opsi high-cost atau high-reward.

Kehilangan Motivasi

Selanjutnya, para peneliti menemukan bahwa pada tikus yang lebih tua (antara 13 dan 21 bulan, yang kira-kira setara dengan manusia berusia 60-an dan lebih tua), keterlibatan tikus dalam mempelajari jenis analisis cost-benefit mengalami penurunan. Pada saat yang sama, aktivitas striosom mereka menurun dibandingkan dengan tikus yang lebih muda. Para peneliti menemukan hilangnya motivasi serupa pada model tikus dari penyakit Huntington, kelainan neurodegeneratif yang mempengaruhi striatum dan striosomnya.

Ketika para peneliti menggunakan obat yang ditargetkan secara genetik untuk meningkatkan aktivitas di striosom, mereka menemukan bahwa tikus menjadi lebih terlibat dalam kinerja tugas. Sebaliknya, menekan aktivitas striosom menyebabkan pelepasan dan tikus memilih tidak terlibat.

Selain penurunan terkait usia yang normal, banyak gangguan kesehatan mental dapat mengubah kemampuan mengevaluasi cost dan reward dari suatu tindakan, mulai dari kecemasan dan depresi hingga kondisi seperti PTSD. Sebagai contoh, orang yang depresi mungkin meremehkan pengalaman yang berpotensi memiliki manfaat, sementara seseorang yang menderita kecanduan mungkin menilai terlalu tinggi narkoba tetapi meremehkan hal-hal seperti pekerjaan atau keluarganya

Para peneliti kini tengah meneliti kemungkinan perawatan obat yang dapat merangsang sirkuit tersebut, dan mereka menyarankan bahwa melatih pasien untuk meningkatkan aktivitas di sirkuit ini melalui biofeedback dapat menawarkan cara potensial lain untuk meningkatkan evaluasi cost-benefit.

Peneliti mengatakan jika mereka dapat menunjukkan mekanisme yang mendasari evaluasi subjektif dari reward dan cost, dan menggunakan teknik modern yang dapat memanipulasinya, baik secara psikiatri atau dengan biofeedback, pasien mungkin dapat mengaktifkan sirkuit mereka dengan benar.

Sumber:
Situs sciencedaily.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti