25.2 C
Yogyakarta
24 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Mengapa Prediksi Indonesia Bebas Covid-19 Mundur September?

Dengan menggunakan artificial intelligence (AI) berbasis model matematika tipe susceptible-infected-recovered (SIR), Singapore University of Technology and Design (SUTD) memprediksi akhir wabah Covid-19 di Indonesia pada 6 Juni. Jika prediksi tersebut benar, maka diperkirakan pada Juli, keadaan akan relatif normal. Artinya kehidupan kembali “seperti sediakala”.

Prediksi tersebut tentu sangat menggembirakan. Walaupun statusnya hanya lah sebuah prediksi, hasil analisa matematika, namun kesimpulan sementara tersebut, terasa sebagai kabar yang memberikan optimisme. Satu bulan ke depan, masyarakat akan “bebas” dari protokol kesehatan Covid-19 yang ketat.

Bagi dunia usaha, prediksi tersebut, merupakan data penting, yang dapat dijadikan bahan untuk membuat plan. Tanpa ada informasi kapan wabah Covid-19, tentu akan membuat keadaan menjadi serba tidak pasti. Dalam ketidakpastian, rencana tidak dapat disusun. Dan akibatnya, dunia usaha, mengalami kemerosotan drastis, sebagian mungkin telah gulung tikar. Prediksi Juni, seperti angin pembawa harapan.

Prediksi Pemerintah.

Sementara itu, Pemerintah memprediksi puncak kasus Covid-19 pada awal Mei, dimana angka kasus positif akan terus bertambah hingga angka 95.000 orang dan diperkirakan akan berangsur turun mulai Juni.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Prof drh Wiku Adisasmito, MSc, PhD, mengatakan, “Kami sudah meninjau dan menggabungkan keseluruhannya (prediksi), dan kami percaya bahwa puncak pandemi COVID-19 di Indonesia akan dimulai pada awal Mei dan akan berakhir sekitar awal Juni di mana jumlah kasus kumulatif selama puncak adalah 95.000,” kata Wiku dalam bahasa Inggris, dalam keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (16/4) (lihat Kumparan.com).

Kepala BNPB sekaligus Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona, Doni Monardo, menekankan syarat pokok agar pada Juli 2020, masyarakat sudah kembali hidup normal, yakni dijalankannya protokol penanganan virus corona secara disiplin.

Oleh sebab itu, seluruh jajaran diminta untuk lebih tegas agar masyarakat patuh pada protokol kesehatan penanganan virus corona. “Dan juga aparat agar bisa lebih tegas agar pada Juni yang akan datang kita mampu menurunkan kasus Covid di Indonesia sehingga pada Juli diharapkan kita sudah bisa mulai mengawali hidup normal kembali,” demikian kata Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (lihat JPPN.com).

Wacana Relaksasi.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, mengatakan bahwa akan ada relaksasi (“pelonggaran”, Red), pelaksanaan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dikatakan bahwa hal tersebut dilakukan, dengan arah agar kegiatan ekonomi masyarakat selama masa wabah Covid-19 dapat tetap berjalan.

Hal penting yang dikatakan oleh Menko Polhukam adalah bahwa relaksasi tidak boleh diartikan sebagai tidak dipatuhinya protokol kesehatan penanganan wabah Covid-19 (lihat Kompas.com). Syarat tersebut sangat penting. Tantangannya tentu adalah menemukan format relaksasi yang tepat dimana “kelonggaran” tersedia, namun disiplin pada protokol kesehatan penanganan wabah Covid-19 juga dijalankan.

Pernyataan tersebut telah menimbulkan pro dan kontra. Bagi dunia usaha, ada yang berpandangan bahwa pelonggaran sangat dibutuhkan, agar mesin ekonomi kembali bergerak meskipun dengan kecepatan yang tidak sama dengan gerak pada keadaan normal. Namun sebagian yang lain tidak sependapat, dan mengatakan bahwa sebaiknya masalah wabah diselesaikan lebih dahulu, baru ekonomi.

Mundur September.

Hasil analisis yang dikeluarkan oleh Singapore University of Technology and Design, tentu saja punya dampak sendiri (lihat Detik.com). Pertanyaan segera muncul. Mengapa prediksi mundur. Dua kemungkinan bisa saja terjadi.

Pertama, karena data yang digunakan tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan, sehingga kesimpulan yang dihasilkan memiliki akurasi yang rendah.

Kedua, karena ada perkembangan baru yang terekam pada data, yang menunjukkan bahwa keadaan puncak belum dicapai dan artinya keadaan pulih juga mengalami pergeseran.

Atau mungkin gabungan dari keduanya. Mana yang paling benar? Dan apakah hitungan saintifik tersebut keliru? Tentu saja hal ini harus dihadapi dengan sains pula. Suatu evaluasi menyeluruh sangat dibutuhkan, baik oleh pemerintah untuk mengetahui bagaimana strategi dijalan dan apakah telah merupakan rute yang tepat, ataukah dibutuhkan strategi baru, karena medan pertempuran berubah.

Evaluasi juga perlu dilakukan dikalangan masyarakat luas. Masing-masing warga perlu secara mendiri melakukan evaluasi dan instrospeksi. Apakah protokol kesehatan penanganan wabah Covid-19 telah dijalankan dengan penuh kesadaran, ataukah tidak.

Gabungan kedua evaluasi itulah yang sebenarnya akan menentukan bagaimana mengambil sikap terhadap kesimpulan yang diambil dengan metode keilmuan. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi bahan utama dalam menetapkan langkah selanjutnya. Dengan evaluasi yang jujur dan tekad bulat mengakhiri wabah Covid-19, sangat dimungkinkan prediksi tersebut keliru. Dan jika sebaliknya, mungkin prediksi tersebut benar.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA