Mengapa Romawi Runtuh?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Perbatasan Romawi bukanlah perbatasan dalam pengertian modern negara bangsa. Pernyataan tersebut hanya berarti wilayah pengaruh Romawi yang semakin berkurang di mana orang-orang dapat bergerak dengan bebas tanpa kekangan dari Romawi.

Kita tentu mengenal Kekaisaran Romawi. Kekaisaran ini mungkin dapat dikatakan sebagai kekaisaran kuno terbesar dan termasyur di dunia, dimana ketika kekaisaran ini berada pada puncaknya, jangkauannya membentang dari perbukitan di Inggris utara hingga gurun kering Arab Saudi. Akan tetapi kita juga tahu bahwa kekaisaran ini mengalami keruntuhan besar. Kapan hal ini mulai terjadi? Mengapa Roma runtuh?

Jawabannya ternyata beragam. Terdapat beberapa yang berpendapat bahwa penjarahan Roma pada tahun 410 M oleh bangsa Visigoth adalah penanda untuk akhir kekaisaran. Ada juga yang mengatakan bahwa baru pada Abad Pertengahan masa kekuasaan kekaisaran akhirnya selesai. Namun secara garis besar, hal tersebut tergantung pada Roma mana yang kita bicarakan. Pada tahun 395 M, Kekaisaran Romawi terpecah menjadi dua, dan sejak saat itu secara terpisah dikelola sebagai Kekaisaran Romawi Barat dengan Roma sebagai ibukotanya dan Bizantium, Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel (Istanbul modern) sebagai ibukotanya.

Kristina Sessa, profesor sejarah di The Ohio State University mengatakan bahwa terdapat kecenderungan yang menganggap Bizantium sebagai bangsa dan negara yang terpisah dari Romawi, akan tetapi mereka menyebut diri mereka” Romanoi “dan melihat diri mereka sebagai warga negara pemerintahan Romawi.

Nasib dari kedua yurisdiksi tersebut pastilah berbeda. Kekaisaran Romawi Barat terfragmentasi karena berbagai provinsi mengalami kerusakan ekonomi dan politik dalam beberapa dekade setelah perpecahan. Sementara itu, Kekaisaran Romawi Timur relatif makmur selama beberapa abad. Sehingga kita perlu membedakan lintasan regional yang berbeda ini.

Bagian barat runtuh oleh karena mereka kehilangan kendali terpusat secara terus-menerus, terkadang karena serbuan oleh suku-suku non-Romawi dan kadang-kadang dihasut oleh pengkhianat dari dalam pemerintahan Romawi. Sulit untuk menandai waktu persisnya ketika Romawi kehilangan kendali atas suatu wilayah tertentu, karena tidak seperti dekolonisasi kerajaan kekaisaran di abad ke-20, jarang sekali membuat atau menandatangani dokumen dan deklarasi kemerdekaan.

Namun, terdapat pertempuran penting, antara tahun 460 M dan 480 M, Visigoth telah berhasil mengambil bagian penting dari apa yang sekarang menjadi Prancis. Tapi tetap saja, kemunduran Romawi Barat adalah suatu proses yang cukup bertahap dan samar-samar dimana koloni, satu demi satu, tidak lagi di bawah kekuasaan seorang kaisar di Romawi secara realistis. Sebaliknya, pemimpin daerah otonom semakin berkuasa.

Bahkan dalam beberapa kasus, mereka adalah perebut Romawi yang menggunakan kudeta untuk mengambil alih kekuasaan. Dalam kasus lain, daerah otonom ini dipimpin oleh rezim barbar. Tetapi bangsa barbar, seperti kaum Frank, Saxon, dan Vandal, tidaklah sekadar perampok dari negeri asing yang menyerang Romawi yang lebih lemah. Pernyataan tersebut meremehkan grup-grup ini. Pernyataan bahwa penjajah yang datang ke kekaisaran dari luar dan mengambil alihnya, yang biasanya muncul di buku-buku, dianggap oleh Sessa sebagai benar-benar salah. Banyak dari bangsa “barbar” ini adalah koalisi tentara yang telah bekerja dengan dan untuk Kerajaan Romawi selama beberapa generasi.

Mereka telah tinggal dan bekerja di dalam Kekaisaran Romawi, atas nama Kekaisaran Romawi, selama beberapa dekade atau bahkan berabad-abad. Hal tersebut memberi orang barbar kesempatan untuk mempelajari taktik dan keahlian Romawi, yang kemudian mereka terapkan untuk melawan balik kekaisaran, yang mengakibatkan serangkaian kekalahan militer yang melemahkan Romawi. Perbatasan Romawi bukanlah perbatasan dalam pengertian modern negara bangsa. Pernyataan tersebut hanya berarti wilayah pengaruh Romawi yang semakin berkurang di mana orang-orang dapat bergerak dengan bebas tanpa kekangan dari Romawi.

Dalam konteks ini, mudah untuk melihat bagaimana perbatasan tersebut dapat menyusut seiring waktu. Tanpa negara pusat, pajak tidak lagi dipungut secara teratur di sebagian besar wilayah Barat, yang jelas berdampak pada militer. Pendapatan pajak yang berkurang membuat semakin sulit bagi Romawi untuk mengumpulkan cukup banyak legiun untuk merebut kembali tanah yang telah diambil oleh bangsa barbar.

Sementara Kekaisaran Romawi di Eropa Barat perlahan masuk ke “neraka”, Romawi Timur melanjutkan kekuasaan mereka. Kekaisaran timur, sebagai perbandingan, tetap terkonsolidasi dan terfokus di sekitar kota Konstantinopel. Akan tetapi kehancurannya berada di tangan kekuatan penyerang luar.

Selama abad ketujuh dan kedelapan, Kekaisaran Timur mulai mengalami fragmentasi politik yang serupa, meskipun dalam kasus ini kita berbicara tentang tentara dan rezim eksternal: Persia, Slavia dan Arab. Baru pada tahun 1453, ketika Ottoman menjarah Konstantinopel, dapat dikatakan bahwa Kekaisaran Romawi telah berakhir.

Sumber:
Situs livescience.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti