17.5 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Mengapa Sangat Sulit Untuk Bersikap Rasional Tentang Covid-19

Bagaimana sikap yang seharusnya dikembangkan atau yang seharusnya berkembang dalam menghadapi Pandemi Global COVID-19? Pertanyaan tersebut diajukan sebagai bahan untuk melakukan introspeksi, yakni usaha bersama untuk memeriksa apa yang tengah terjadi, dan mengapa kejadian Pandemi Global tersebut, belum menunjukkan tanda akan mereda, dan malah banyak yang memprediksi akan ada gelombang kedua yang lebih dasyat. Di tingkat dunia (23/6), tercatat lebih dari 9 juta orang yang terpapar COVID-19 – situs worldometer pada pagi mencatat angka 9.179.919. Angka terus berubah, bertambah banyak, dengan laju yang mengkhawatirkan.

Setiap negara dengan cara mereka masing-masing telah berusaha keras untuk mengatasi Pandemi Global tersebut. Suatu tata cara disiapkan, dan diharapkan dijalankan oleh masyarakat, atau malah harus diketahui dan dijalankan setiap orang tanpa terkecuali, dan dijalankan secara sukarela, malah diharapkan dapat dijalankan dengan penuh sukacita, meskipun nyatanya protokol tersebut membuat hidup berubah dan penuh dengan pembatasan.

Namun yang terjadi memang tidak sepenuhnya berjalan sesuai yang diharapkan. Ragam sikap muncul di masyarakat. Mungkin hal itulah yang bisa menjelaskan mengapa tiap negara menunjukkan kemampuan mengatasi Pandemi Global yang berbeda. Pengalaman AS berikut ini, menggambarkan bagaimana dinamika yang terjadi, yang mungkin dapat menjadi bahan renungan bersama.

……….

Kebijakan pembatasan sosial ternyata dapat membelah masyarakat: pro dan kontra. Hal yang menarik adalah bahwa pro kontra tersebut, nampak bersesuaian dengan perbedaan afiliasi politik. Justru di sinilah masalahnya, yakni mengapa kampanye kesehatan masyarakat, dihadapi secara politik, sehingga membawa pengaruh pada tingkat kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan yang mestinya dijalankan secara patuh dan baik.

………

Ilmuwan dan para tenaga medis terbaik dunia saat ini tengah ditempatkan dalam situasi seperti perang untuk melawan Pandemi Global COVID-19. Mereka terus mengembangkan model untuk mengerti pola penyebaran virus, berburu vaksin agar segera ditemukan, memberikan perawatan pada yang sakit, dan menyebarluaskan nasihat (apa yang seharusnya dilakukan) kepada kita semua. COVID-19 merupakan virus yang menular dengan cepat, suatu tantang nyata yang ditanggung oleh masyarakat global di abad ke-21 ini. Publik dunia menyerukan agar bukti-bukti atau data yang berbasis sains, dapat dipublikasikan secara terbuka, agar setiap orang dapat mengakses. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa manusia Abad ke-21, adalah manusia rasional, sehingga Pandemi Global ini, dapat dihadapi dengan sikap rasional.

Rupanya sikap rasional hanya sampai titik tertentu saja. Survei publik Amerika mengungkapkan bahwa sikap terhadap virus ini di negara yang sama sangat dipengaruhi oleh pola pilihan politik. Pemilih Republik umumnya kurang peduli dibandingkan dengan Demokrat tentang COVID-19, dan kecil kemungkinannya untuk mendukung langkah-langkah kebijakan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran virus corona, pada saat diberitakan virus telah menginfeksi lebih dari satu juta orang Amerika dan menewaskan lebih dari 69.000 orang di sana.

Semakin besar juga peluang virus untuk menggandakan dan menyebar.

Karena COVID-19 adalah penyakit menular, maka penyebaran virus ini sepenuhnya bergantung pada “inang manusia” untuk membawa dan menyebarkannya – semakin banyak orang berperilaku sebagaimana perilaku pada keadaan normal, yakni terus bersosialisasi seperti biasa, semakin besar juga peluang virus untuk menggandakan dan menyebar, yang berdampak pada semakin parahnya kondisi kesehatan masyarakat. Itulah gunanya sains.

Hanya dengan mengenali ancamannya, publik mudah diajak untuk mengubah perilaku sehari-hari mereka, dan untuk secara aktif memperlambat penyebaran virus. Namun, di tengah para ilmuan dan tenaga medis di AS dan di seluruh dunia mengingatkan masyarakat akan risiko, dan menegaskan kembali pentingnya pembatasan sosial, beberapa pemimpin global, dengan tidak berbasis sains, telah menghabiskan waktu berbulan-bulan bermain-main dengan risiko.

Namun pembatasan sosial untuk perlindungan telah diperintahkan oleh sebagian besar pemerintah negara bagian di AS, dengan resiko penutupan bisnis dan pengangguran yang tercatat makin besar. Sebagai tanggapan, lebih dari selusin negara bagian telah menyaksikan protes anti-lockdown, dan ribuan orang Amerika konservatif menuntut pembatasan dicabut, terlepas dari resiko kesehatan masyarakat. Di Michigan dan Washington, para pemrotes pro-Trump (dikabarkan ada pula yang bersenjata) meminta “kebebasan” dari “tirani” gubernur negara bagian. Dalam dukungan mereka, Presiden Donald Trump tweeted “LIBERATE MICHIGAN!” dan “LIBERATE VIRGINIA!”, dan menggambarkan para pengunjuk rasa sebagai orang-orang yang “mencintai negaranya”.

Pada awal Mei lalu, ratusan pemrotes menyerbu Gedung Kongres Michigan dan mengancam gubernur, yang telah memperpanjang perintah untuk tinggal dirumah di negara bagian tersebut selama dua minggu hingga 15 Mei. Michigan telah menjadi salah satu negara yang paling terpukul oleh virus dan hingga kini masih terjadi lebih dari 100 kematian setiap harinya. Pada 1 Mei, sehari setelah protes Capitol ini, di mana para demonstran menyebut Gubernur Michigan seorang tiran dan membandingkannya dengan Hitler, Trump menggambarkan para pemrotes yang sama itu sebagai “orang-orang yang sangat baik”. Sementara itu, di seluruh AS, protes anti-lockdown terus berlanjut.

Penelitian menunjukkan bahwa orang terpelajar pun dapat mempercayai teori konspirasi semacam itu.

Protes ini, yang bertentangan dengan saran kesehatan untuk mengurangi tingkat penularan virus, datang pada saat teori konspirasi yang beredar luas tentang virus, termasuk bahwa itu adalah tipuan (diyakini oleh 13% orang Amerika yang disurvei), atau bahwa virus itu sengaja dibuat di laboratorium senjata Tiongkok (klaim yang diyakini oleh setengah populasi), dan bahwa suatu teknologi nirkabel 5G entah bagaimana menyebarkan virus tersebut.

Teori-teori semacam itu telah dikuatkan dan disebarkan oleh segelintir politisi konservatif terkemuka dan aktivis sayap kanan, termasuk Senator Republik Tom Cotton. Dan penelitian menunjukkan bahwa orang terpelajar pun dapat mempercayai teori konspirasi semacam itu, jika mereka menggunakan bahasa yang tepat.

“Jika Anda memiliki jenis hyper-partisipanship seperti yang dimiliki AS, keadaan itu seperti hutan kering dan yang diperlukan hanyalah satu percikan untuk menyalakannya dan menyebabkan kebakaran besar,” kata Jay van Bavel, associate professor of psychology di Universitas New York. “Itulah yang telah kita lihat dalam beberapa bulan terakhir di AS, di mana Trump tidak menganggap serius virus pada awalnya, dan media sayap kanan – Fox News dan radio talk – meremehkan ancaman pandemi untuk waktu yang lama demi menjaga elektabilitasnya. Semua itu menunjukkan keadaan ketika perbedaan pandangan politik berlangsung”.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA