Ditulis oleh 10:06 am SAINS

Mengapa Terdapat Beberapa Orang yang Tidak Bertambah Berat Badan?

Pada akhirnya, jawabannya rumit: kecenderungan untuk menambah berat badan atau tidak bertambah berat badan kita tidak ditentukan sebelumnya, tetapi hal tersebut juga tidak sepenuhnya di bawah kendali kita.

Mungkin ada dari kita yang menganggap ini sebagai suatu ketidakadilan besar dalam kehidupan: Beberapa orang harus dengan cermat dan memperhatikan segala hal yang mereka masukkan ke dalam mulut mereka untuk tidak menambah berat badan, sementara yang lainnya dapat makan sesuka hati dan sama sekali tidak bertambah berat badan. Apa rahasianya? Mengapa beberapa orang berhasil tidak menambah berat badan?

Menurut Kathleen Melanson, seorang profesor ilmu gizi dan makanan di University of Rhode Island, tidak ada jawaban sederhana untuk pertanyaan ini. Dia mengatakan bahwa terdapat faktor genetik, nutrisi, dan bahkan perilaku yang juga berperan. Sejauh mana masing-masing faktor itu berperan dalam setiap individu juga bervariasi.

Salah satu faktor terpenting tidaklah berhubungan dengan tipe tubuh, metabolisme, atau melakukan hal-hal yang dipercaya dapat menurunkan berat badan, hal ini hanyalah persepsi. Melanson berkata bahwa orang-orang yang tampaknya makan apa pun yang mereka suka tanpa menambah berat badan sebenarnya tidak makan lebih banyak daripada kebanyakan orang.

Sebagai contoh, ketika teman anda yang makan es krim setiap hari mungkin secara alami mengimbangi kalori ekstra tersebut dengan makan lebih sedikit di waktu makan yang lain, atau ngemil lebih sedikit selama sisa hari itu. Atau mungkin, ketika mereka makan pizza, mereka makan perlahan, kenyang, lalu berhenti setelah beberapa potong.

Dr. Frank Greenway, Kepala Petugas Medis di Pennington Biomedical Research Center mengatakan bahwa jika anda mengukur kalori orang-orang ini, mereka mungkin tidak makan sebanyak yang kita duga. Mereka hanya makan makanan padat kalori ketika mereka makan; suatu hal yang kebanyakan orang mungkin mengalami kesulitan untuk tidak berlebihan makan.

Aktivitas fisik juga dapat mempengaruhi, tetapi tidak harus berupa latihan olahraga. Melanson berkata bahwa beberapa orang hanya bergerak lebih banyak, bahkan mereka yang bukan seorang atlet. Misalnya, mereka mungkin sedang gelisah atau mondar-mandir, memiliki pekerjaan aktif, atau menghabiskan sepanjang hari mengejar anak-anak mereka.

Terdapat bukti bahwa beberapa orang secara genetik cenderung ingin menggerakkan tubuh mereka, kata Melanson. Gerakan ekstra itu juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh, atau berapa banyak energi yang dihabiskan tubuh anda sepanjang hari, tidak termasuk olahraga. Semakin banyak bergerak, semakin bertambahnya jumlah mitokondria dalam sel-sel otot dan juga dalam aktivitasnya. Ini merupakan sumber pembangkit yang menciptakan energi, dan menggunakan energi tersebut untuk bergerak, kata Melanson. Lebih banyak mitokondria, berarti lebih banyak kalori yang terbakar.

Dr. Ines Barroso, seorang peneliti di University of Cambridge di Inggris yang mempelajari genetika obesitas mengatakan bahwa terdapat sedikit bukti yang menunjukkan bahwa – tanpa olahraga – beberapa orang dilahirkan dengan membakar kalori lebih banyak secara signifikan daripada yang lain. Tetapi mungkin ada perbedaan fisiologis yang memungkinkan beberapa orang untuk secara moderat mengatur jumlah kalori yang mereka konsumsi tanpa melakukan pengendalian diri yang luar biasa, kata Melanson.

Dia juga menambahkan bahwa sinyal-sinyal sistem saraf dan hormon-hormon yang bersirkulasi dalam darah kita berinteraksi untuk memberi tahu ketika kita lapar atau kenyang. Ini disebut sistem pengaturan nafsu makan, dan mungkin lebih sensitif pada beberapa orang ketimbang kebanyakan orang.

Salah satu hormon penting yang terlibat dalam sistem ini adalah leptin. Hormon ini membantu mengatur berapa banyak makanan yang ingin kita makan dalam jangka waktu yang lebih lama, tidak hanya untuk makanan kita berikutnya. Jadi seseorang dengan sistem yang lebih sensitif mungkin akan makan lagi di sebuah pesta, kemudian merasa kenyang selama beberapa hari berikutnya dan makan lebih sedikit. Melanson mengatakan bahwa mereka secara otomatis dapat mengkalibrasi ulang keseimbangan energi mereka karena sistem pensinyalan nafsu makan mereka mengatakan, ‘Oke, kita punya cukup energi.’

Genetika dapat berperan dalam kecenderungan seseorang untuk menambah atau menurunkan berat badan. Para peneliti telah mengidentifikasi lebih dari 250 wilayah DNA yang berbeda yang berhubungan dengan obesitas, menurut sebuah studi 2019 yang diterbitkan dalam PLOS Genetics. Untuk studi ini, para peneliti membandingkan 1.622 orang sehat dengan indeks massa tubuh rendah (BMI) terhadap 1.985 orang dengan obesitas parah dan 10.433 orang kontrol berat badan normal. Mereka menemukan bahwa partisipan yang kurus memiliki lebih sedikit gen yang terkait dengan obesitas.

Tetapi menurut Barroso, yang merupakan rekan penulis dalam penelitian ini, gen saja tidak menentukan berat badan kita. Dia mengatakan bahwa mereka tidak menemukan gen yang secara eksklusif melindungi dari obesitas atau membuat seseorang rentan terhadap obesitas. Terdapat juga orang yang memiliki faktor penentu genetik untuk obesitas, tetapi mereka tidak [obesitas], tambah Barroso.

Pada akhirnya, jawabannya rumit: kecenderungan untuk menambah berat badan atau tidak bertambah berat badan kita tidak ditentukan sebelumnya, tetapi hal tersebut juga tidak sepenuhnya di bawah kendali kita. Tidak ada saklar on-off genetik yang memungkinkan beberapa orang untuk makan semua yang mereka inginkan tanpa menambah berat badan; pada saat yang sama, kecenderungan untuk menambah berat badan belum tentu karena kurangnya kontrol diri. (Disadur dari situs livescience)

(Visited 16 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 2 Agustus 2020
Close