Ditulis oleh 10:26 am KABAR

Mengapa Vaksin Flu Tidak Melindungi Untuk Waktu yang Lama?

Apakah vaksin influenza memicu BMPC tingkat tinggi dan jika demikian, apakah sel tersebut adalah varietas yang berumur panjang, masih menjadi misteri.

Vaksin influenza telah menyelamatkan banyak nyawa dan banyak orang dari dampak yang lebih parah. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah dan pengusaha mempromosikan dan mensubsidi penggunaannya. Namun vaksin ini bukanlah vaksin yang ideal, oleh karena ia hanya memberikan perlindungan yang “begitu-begitu” saja dan efeknya tidak bertahan lama.

Sebuah studi baru, yang merupakan satu-satunya, yang diterbitkan di Science, telah membantu menjelaskan kekurangan dari vaksin tersebut: Peneliti menemukan jenis sel kunci yang tersembunyi di sumsum tulang yang dengan cepat aktif setelah vaksinasi memudar dalam beberapa bulan. Penemuan ini dapat mengarah pada strategi baru untuk meningkatkan daya tahan vaksin.

Vaksin terbaik, seperti vaksin campak, rubella, dan difteri, memberikan perlindungan hampir 100% seumur hidup. Namun, vaksin flu seringkali tidaklah sama persis dengan virus influenza yang tengah berkembang pesat, sehingga keefektifannya berubah setiap tahun.

Di Amerika Serikat antara 2009 dan 2019, berkisar dari yang terendah 19% hingga yang tertinggi 60%. Dan perlindungan vaksin ini menyusut dengan cepat. Untuk orang-orang yang tinggal di wilayah beriklim sedang di dunia dan menerima suntikan di awal musim gugur, kekebalan dapat hilang sebelum akhir musim dingin di wilayah tersebut.

Untuk lebih memahami masalah daya tahan, Rafi Ahmed, ahli imunologi di Emory University School of Medicine, mempelajari jenis sel B yang berada di sumsum tulang dan yang perannya diungkap oleh Ahmed pada tahun 1996. Sel B membuat antibodi yang dapat menempel pada dan menonaktifkan virus. Ahmed berfokus pada jenis sel B yang disebut sel plasma sumsum tulang (BMPC), yang terus memproduksi antibodi setelah infeksi atau vaksinasi.

Apa yang disebut sel B memori juga menghasilkan antibodi dan dibuat dengan cara yang sama, tetapi berbeda dengan BMPC, sel B tidak terus-menerus memompa keluar protein pelindung. Sebaliknya, seperti yang tersirat dari namanya, sel B memori yang dilatih untuk mengenali virus tertentu bekerja hanya saat mereka terpapar kembali. Hanya dibutuhkan beberapa hari setelah infeksi untuk menghasilkan antibodi tingkat tinggi, suatu kerugian pada influenza, yang dapat menyebabkan penyakit tumbuh dengan cepat.

Yang mengejutkan dan tidak dapat dipercaya banyak orang, adalah bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa BMPC dapat hidup selama bertahun-tahun, yang berarti secara teori, dapat memberikan kekebalan jangka panjang. Namun demikian apakah vaksin influenza memicu BMPC tingkat tinggi dan jika demikian, apakah sel tersebut adalah varietas yang berumur panjang, masih menjadi misteri.

Para peneliti berulang kali memeriksa sumsum tulang dan darah 53 relawan berusia antara 20 dan 45 tahun dalam beberapa minggu dan bulan sebelum dan setelah mereka menerima vaksin influenza. (Beberapa orang berpartisipasi selama lebih dari satu musim flu). Penelitian itu bukanlah sesuatu yang nyaman bagi para peserta, oleh karena mengeluarkan cairan dari dalam tulang adalah prosedur yang menantang dan menyakitkan yang melibatkan menusuk tulang panggul dengan jarum khusus. Rino Rappuoli, kepala ilmuwan di GlaxoSmithKline Vaccines, mengatakan dia tidak mengetahui studi lain yang mengambil sampel sumsum tulang untuk penelitian vaksin.

Para peneliti menemukan lonjakan BMPC khusus untuk influenza 4 minggu setelah imunisasi. Tapi setelah 1 tahun, sel-sel baru tersebut dapat dikatakan hampir hilang. Rappuoli serta peneliti lainya tidak terlalu terkejut dengan ini, namun menyambut baik buktinya. Adam Wheatley, seorang ahli imunologi di Universitas Melbourne mengatakan bahwa penemuan ini sesuai dengan pengamatan titer antibodi [darah] yang menurun dengan cepat dan penurunan perlindungan pada manusia setelah mendapatkan vaksin flu.

Mark Slifka, ahli imunologi di Oregon National Primate Research Center yang mendapatkan gelar Ph.D. bersama dengan Ahmed mengatakan bahwa studi tersebut “membantu menentukan lanskap” dari daya tahan vaksin flu yang buruk. Dia menambahkan bahwa studi tersebut “mengikis batu” dalam hal pemahaman mengapa respon imun berumur pendek.

Namun demikian Slifka berpikir bahwa populasi BMPC yang dirangsang oleh vaksin kemungkinan memiliki sebagian kecil sel yang berumur panjang, namun tidak terdeteksi dalam penelitian ini, yang dapat menawarkan perlindungan yang lebih tahan lama. Cara untuk meningkatkan kehadiran mereka adalah dengan memaksa sistem sehingga membuat lebih banyak BMPC secara keseluruhan. Salah satu cara yang mungkin untuk melakukannya adalah dengan ajuvan, aditif pada vaksin yang bertindak sebagai iritan, meningkatkan respons imun. Ini juga dapat membantu meningkatkan jumlah protein virus dalam vaksin.

Vaksin influenza pertama, yang dikembangkan pada tahun 1940-an, menggunakan bahan adjuvants. Mereka berisi virus flu mematikan yang dicampur dengan emulsi air dalam minyak yang disebut “Freund tidak lengkap”. Tetapi bahan adjuvants menyebabkan bisul di tempat suntikan, jadi bahan itu dijatuhkan dari vaksin selanjutnya.

Untuk lebih mengurangi reaksi yang tidak diinginkan, para peneliti juga berhenti menyuntikkan seluruh virus yang mati, menggantinya dengan hanya protein permukaan dari virus. Vaksin yang dihasilkan memiliki lebih sedikit protein virus dan tidak ada zat penguat kekebalan. Vaksin ini, yang digunakan secara luas saat ini, menyebabkan efek samping yang jauh lebih sedikit, namun dengan harga yang mahal, kata Slifka yang pada tahun lalu menerbitkan artikel ulasan yang menekankan pada poin-poin ini.

Tapi selama 2 dekade terakhir, adjuvants yang ditingkatkan telah menemukan jalan ke dalam vaksin berlisensi. Vaksin influenza baru yang memiliki bahan adjuvant minyak dalam air, air melindungi minyak dan membuatnya lebih aman, telah digunakan di Italia sejak 1997 dan disetujui oleh regulator Eropa dan AS masing-masing pada tahun 2000 dan 2015. Tetapi apakah itu dapat memicu BMPC yang tahan lama masih belum jelas. Tak seorang pun dalam penelitian Ahmed menerima produk ini, ketika proyek dimulai, produk ini bahkan tidak dilisensikan di Amerika Serikat.

Ahmed berpendapat bahwa hal ini “Benar-benar gila.” Bahwa vaksin influenza yang paling umum digunakan tidak menyertakan bahan adjuvant. Dirinya berharap hal tersebut akan berubah di dunia vaksin influenza, dan dalam tahun-tahun kedepan tidak akan mendapat suatu vaksin yang tidak dikehendaki. (sciencemag/njd)

(Visited 24 times, 2 visits today)
Tag: , , Last modified: 19 Agustus 2020
Close