Ditulis oleh 10:48 am COVID-19

Mengenang Kembali Peran Dokter Dalam Membangkitkan Semangat Nasionalisme

Pada momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, ayo, mari kita segera bangkit dari keterpurukan.

Hari ini kita kembali memperingati sebuah momentum tonggak awal perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Tepat 112 tahun yang lalu ketika kaum muda menjadi penggerak sebuah perubahan pola perjuangan bangsa-bangsa Indonesia dari yang bersifat kedaerahan menjadi yang bersifat nasional. Adalah politik etis salah satu program “belas kasih” dari pemerintah kolonial Belanda yang telah membawa para pemuda Indonesia untuk mengenyam pendidikan yang setara dengan pendidikan anak-anak Eropa kala itu. Golongan priyayi dan bangsawan beruntung dapat merasakan dari adanya salah satu program Trilogi van Deventer tersebut, edukasi ternyata benar-benar telah mengedukasi pola pikir para pemuda bangsa Indonesia kala itu.

Melalui edukasi mereka menjadi sadar bahwa posisi menjadi bangsa terjajah dan tertindas oleh bangsa asing tidaklah menguntungkan. Para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) telah menjadi pelopor bagi kebangkitan nasional bangsa Indonesia. Sekolah dokter bagi warga bumi putera ini telah banyak melahirkan dokter-dokter yang berwawasan kebangsaan tinggi. Bermula dari wabah cacar yang melanda wilayah Karesidenan Banyumas pada kisaran tahun 1847.

Kemudian pada tahun 1851 pemerintah kolonial berinisiasi untuk mendirikan Sekolah Dokter Jawa guna membantu dokter dokter Eropa yang kewalahan menangani wabah cacar. Rasa nasionalisme para dokter pada zaman kolonial menjadi bangkit setelah melihat bagaimana penderitaan rakyat Indonesia terutama di wilayah Jawa dan Madura. Mereka berjuang tanpa pamrih menjadi dokter dokter pemerintah kolonial demi menyembuhkan berbagai macam penyakit yang diderita oleh bangsanya

Hari ini wabah penyakit kembali melanda bangsa Indonesia. Covid-19 telah menjadi pandemi di lebih dari 213 negara di dunia dengan menjangkiti seitar 4,8 juta jiwa. Di Indonesia sendiri wabah Covid-19 telah membunuh sekitar 1.221 (per 19 Mei 2020) jiwa dengan jumlah tenaga medis yang tewas sekitar 44 jiwa. Sangat miris, tenaga medis yang berjuang di garda terdepan harus menanggung resiko fatal dengan mengorbankannya nyawanya. Lebih geram lagi ketika mencuat kasus pada sekitar awal April 2020, ada jenazah seorang tenaga medis yang tewas karena Covid-19 ditolak oleh warga untuk dimakamkan di TPU setempat. Perjuangan para tenaga medis sangatlah besar mereka berjuang rela mengorbankan nyawa dan keluarganya yang setiap saat bisa saja terpapar virus. Protokol kesehartan, sudah tidak kurang-kurangnya pemerintah maupun swasta dalam mengkampanyekan pola hidup sehat. Akan tetapi masih banyak saja masyarakat yang melanggarnya. Akibatnya kalau sudah terpapar maka akan menjadi tambahan pekerjaan lagi bagi para tenaga medis.

Sejarah tidak bisa terulang kembali, tetapi polanya akan kembali bisa kita amati dalam kehdiupan nyata sekarang ini. Perjuangan dokter pada masa kebangkitan nasional dan masa kini mungkin menjadi bukti pola sejarah itu telah terulang. Berbagai wabah penyakit telah berkali-kali menjangkiti masyarakat Indonesia. Pada sekira tahun 1910 sampai dengan 1920 wabah pes telah banyak membuat pemerintah kolonial dan dokter dokter gusar. Wabah yang bermula dari masa paceklik yang melanda Hindia Belanda tersebut telah memaksa pemerintah kolonial untuk melakukan impor beras dari Burma. Berawal dari situlah kemudian tikus-tikus yang mengandung penyakit pes tersebut menyebar ke wilayah Hndia Belanda terutama di Pulau Jawa. Pemerintah tak segan-segan untuk membongkar rumah rumah warga yang rata-rata waktu itu terbuat dari bambu untuk mengejar persembunyian tikus tikus pembawa malapetaka tersebut.

Covid-19 sudah sekitar tiga bulan terakhir melanda bangsa ini. Ssemua sendi-sendi kehidupan seakan lumpuh dibuatnya. Aktivitas perekonomian, pendidikan, sosial dan ekomoni seakan terhenti. Bangsa ini mengalami keterpurukan ekonomi yang cukup berat akibat Covid-19. Berbagai kebijakan ekonomi terkait penggunakan anggaran semuanya tekah mengalami revisi. Hal ini tentunya untuk memenuhi kebutuhan berbagai macam sarana dan fasilitas penanganan kesehatan. Kapan Covid-19 akan berakhir? Pertanyaan itu hanyalah kita sendiri yang bisa menjawabnya, seberapa kita ingin terus berkutat dan bergulat dengan virus bernama corona tersebut.

Pada momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, ayo, mari kita segera bangkit dari keterpurukan. Mari kita bersama-sama punya komitmen untuk tetap menjaga pola hidup sehat, tetap berada di rumah. Itu pesan yang senantiasa dikampanyakan oleh para tenaga medis. Sudah saatnya kita membantu mereka dengan mengurangi beban kerja mereka dengan tetap berada di rumah.

(Visited 129 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close