22.6 C
Yogyakarta
21 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Menggali Hikmah di Balik Musibah

Oleh: Yona Wahyudi

Kedatangan corona telah melumpuhkan beberapa sendi kehidupan. Aktifitas pasar terganggu, kegiatan di tempat ibadah tertunda, jadwal pembelajaran di lembaga pendidikan tergeser, pelayanan di perkantoran macet. Apalagi? Bekerja dilakukan dari rumah, perhotelan gonjang-ganjing, buruh dan pekerja dirumahkan, industri mengalami kemacetan, berbagai agenda mengalami penundaan. Bahkan mungkin pembatalan.

Kawan saya pengusaha harus memutar otak. Menyediakan 50 % gaji plus beras bagi karyawannya yang menganggur. Kawan pengusaha yang lain lagi mengatakan, hanya ASN yang tertolong oleh musibah corona ini. Duduk tenang di rumah, gaji jalan terus. Kawan relawan, terus mengupload berbagai gambar aktifitasnya di lingkungan warga kurang mampu. Tapi seorang teman wirausahawan yang terkenal dermawan, kegiatan jalan terus. Order demi order tetap berdatangan.

Benarkah musibah corona semata-mata menerbitkan kondisi negatif? Tentu saja tergantung cara memandang. Secara keseluruhan, tentu ada sisi negatif dan sisi pisitif. Sisi negatif sudah banyak disebut di depan. Sisi positifnya apa sajakah? Ternyata banyak juga.

Pertama, lalu lintas di DIY dan sekutarnya relatif bebas macet. Karena sebagian besar warga tinggal di rumah, maka jalan raya relatif lengang dan sepi. Transportasi jadi lancar.

Kedua, udara di langit maupun jalanan hari-hari ini jadi lebih segar. Polutan yang ditimbulkan oleh gas buang, pesawat, kereta api, kapal, mobil, sepeda motor, berkurang jauh. Udara jadi lebih sehat dan segar.

Ketiga, intimitas hubungan di lingkungan keluarga teranyam kembali. Ketika kondisi normal, orang tua sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan anak-anak sibuk dengan sekolah, les, exschool, dan lain-lain. Masing-masing anggota keluarga berangkat pagi, pulang petang. Dengan longgarnya waktu di rumah, kebersamaan antar anggota keluarga itu bisa teranyam kembali.

Keempat, ketrampilan ibu-ibu dalam bidang kuliner tersalurkan kembali. Ketika kondisi sibuk, maka sarapan pagi, makan siang maupun sore, banyak beli di warung makan terdekat. Atau setidaknya, pesan go food. Semua serba instan. Dengan longgarnya waktu di rumah, maka ketrampilan kuliner anggota keluarga bisa tersalur kembali.

Kelima, kesadaran warga terjadap kebersihan dan kesehatan, sekarang relatif meningkat. Dikit-dikit warga cuci tangan pakai sabun, ataupun hand sanitizer. Kemanapun dan dimanapun. Sampai ada seloroh, tiap kali bertamu, selalu cuci tangan. Tapi gak juga disuruh makan. Orang juga jadi sadar, kesehatan adalah faktor penting. Dengan kesehatan, kita bisa melakukan apapun.

Keenam, saat ini orang jadi lebih sadar arti penting berwudlu dan berbusana muslim. Cadar yang sebelum ini dibully, sekarang malah ditiru. Lewat perangkat masker. Sedangkan cuci tangan itu, tuntunan lengkap dalam islam adalah berwudlu. Dari telapak tangan, mulut,wajah, lengan, telinga, wajah, rambut, hingga kaki. Lalu dengan cadar, orang terlindungi lebih maksimal dari sergapan virus.

Ketujuh, dibatasinya mobilitas dan pergerakan, membuat orang lebih memilih belanja ke warung tetangga. Belanja kebutuhan sehari-hari. Beras, sayuran, lauk, minyak, gula, dan berbagai bumbu dapur. Apa manfaat belanja ke warung tetangga? Solidaritas sosial maupun harmoni sosial jadi lebih kuat. Kita menolong pemilik warung agar jualannya bisa jalan. Saat kita sakit, atau punya hajad, atau tertimpa musibah, tetanggalah garda depan penolong kita. Bukan pemilik minimarket berjejaring, apalagi pemilik mall.

Kedelapan, kita belajar sabar, toleran dan solider. Jangan suka borong barang, atau nimbun barang, yang dibutuhkan banyak orang. Sembako, sabun, hand sanitizer, APD dan masker adalah barang-barang penting yang saat ini dibutuhkan banyak orang. Makanya, jangan diborong, jangan ditimbun. Agar kelangsungan hidup orang lain juga terjaga.

Kesembilan, perluas fungsi masjid. Jangan sampai masjid sebatas berfungsi ritual. Jika masjid sebatas menjalankan fungsi ritual, maka saat ini bisa lumpuh. Banyak yang mengalami lockdown. Jika fungsinya diperluas, maka beberapa masjid jalan terus kegiatannya. Dengan cara: jamaah berjarak, ada pemeriksaan rutin bagi jamash, pembagian ramuan sehat secara gratis, pembagian masker gratis, penyemprotan berkala, hingga pembagian jatah hidup bagi jamash maupun warga sekitar. Masjid Jogokaryan menjalankan fungsi sosial dan ekonomi secara seiring dengan fungsi ritual masjid secara maksimal.

Kesepuluh, meningkatnya pemahaman beragama secara lebih menyeluruh. Mula-mula, sebagian umat Islam memprotes larangan berjamaah di masjid. Dianggap, hal ini merupakan konspirasi menjauhkan masjid dari umatnya. Setelah ada rujukan tentang penyelenggaraan sholat berjamash sekaligus redaksi adzan terkait penanganan wabah (thoun) di masa Nabi dan Shabat, orang akhirnya bisa menerima ditutupnya masjid untuk sementara. Termasuk bisa menerima penggantian sholat Jumat dengan sholat dhuhur di rumah masing-masing.

Masih ada lagi? Tentu banyak. Tapi intinya, mari kita lihat kondisi sulit secara lebih utuh dan menyeluruh. Insya, Allah bisa kita petik pesan-pesan positifnya.

Penulis: Jurnalis TVRI/Sekretaris ICMI DI Yogyakarta/Dewan Pengurus Yayasan Abdurrahman Baswedan

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA