Ditulis oleh 9:42 am COVID-19

Menggerakkan Kembali Ekonomi Lokal

Dalam menghadapi Covid-19, modal sosial gerakan gotong royong menggerakan ekonomi lokal yang dilakukan oleh komunitas, sangat mungkin bisa membesar dan menjadi strategi baru menggerakkan ekonomi lokal.

Oleh : Dwi Kuswantoro, SE., M.EK

Belum adanya prediksi yang pasti, kapan sebenarnya pendemi global Covid-19 ini akan berakhir. Namun demikian dampak ekonomi sampai hari ini sudah mulai terasa, dimana kegiatan ekonomi mulai mengalami stagnansi bahkan penurunan. Warung-warung soto yang biasa mangkal dipinggir jalan mulai tidak berjualan. Penjual bakso, mie ayam, jajanan pasar, dan lain-lain juga demikian. Beberapa yang tetap buka mengaku kalau omzet turun drastis, karena sepinya pembeli. Inilah dampak ekonomi yang mulai dirasakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kondisi ini berbeda dengan krisis ekonomi sebelum lengsernya Presiden Suharto tahun 1998. Saat krisis 1998 penurunan ekonomi justru terjadi pada pelaku usaha besar, sektor UMKM justru tetap bergerak bahkan UMKM yang melakukan eksport justru mendapatkan berkah atas naiknya nilai tukar. Dan terbukti, UMKM justru menjadi penyangga sehingga pemulihan ekonomi nasional bisa lebih cepat.

Dwi Kuswantoro, SE., M.EK saat menjadi narasumber dalam sarasehan di Yayasan Abdurrahman Baswedan, Kamis, 25 Juli 2019.

Pertanyaan yang perlu kita ajukan untuk saat ini, sampai kapan dan berapa tahan ekonomi lokal kita tidak bergerak ? Kalau kita melihat beberapa kalkulasi pakar secara scientific; pandangan optimis penyebaran Covid-19 akan sampai dengan bulan Mei, perhitungan moderat sampai dengan bulan Juni dan perhitungan terburuk sampai dengan Juli bahkan Agustus. Artinya dengan dalam jangka waktu 2-5 bulan kedepan kita masih harus prihatin sekaligus menahan diri untuk beraktivitas yang bersentuhan dengan pihak luar. Dengan demikian ekonomi masih akan stagnan bahkan mengalami penurunan.

Apakah mungkin UMKM kita bertahan 2 sampai dengan 5 bulan kedapan ? Pertanyaan tersebut tentu saja tidak mudah dijawab, karena kita belum mempunyai pengalaman terhadap kondisi saat ini. Pengalaman kita mengalami kriris besar 1998 kontruksinya berbeda dengan saat ini. Penanganan pasca bencana juga kondisi berbeda, karena sifatnya sektoral kewilayahan. Hari ini kondisi begitu massif di seluruh Indonesia, seluruh daerah mengalami hal yang sama.

Kalau kita tidak peka dan cenderung abai, pasca berakhirnya pendemi Covid 19 justru akan masuk virus baru yaitu virus sosial karena perlambatan ekonomi yang mengakibatkan kemiskinan dan ketimpangan sosial yang semakin melebar. Kalau kondisi ini dibiarkan dan tidak adanya upaya serius dari sekarang, akan menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak.

Perlu Upaya Gotongroyong

Kalau kita perhatikan beberapa waktu terakhir banyak berseliweran baik melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp Group (WG) dan lain-lain; dimana ada upaya-upaya kreatif dari komunitas menjajakan produk-produk UMKM yang tidak diserap pasar. Dari produk sayur mayur, telur, daging ayam dan lain-lain. Didalam pesan berantai tersebut juga disebutkan kontak person dan juga harga yang ditawarkan. Model market place digital yang selama ini dioperatori perusahaan-perusahan unicorn, telah bergeser menjadi gerakan komunitas dengan multi platform. Terlihat disini ada kesadaran saling membantu dan tolong menolong secara kreatif dari komunitas.

Model market place digital yang selama ini dioperatori perusahaan-perusahan unicorn, telah bergeser menjadi gerakan komunitas dengan multi platform.

Modal sosial gerakan gotong royong menggerakan ekonomi lokal yang dilakukan oleh komunitas, hendaknya segara diambil oleh pemangku kebijakan. Gerakan ini sangat mungkin bisa membesar dan menjadi strategi baru menggerakkan ekonomi lokal. Kendala jarak dan metode promosi sebenarnya sudah mulai dirumuskan alamiah oleh komunitas. Tinggal bagaimana upaya gotongroyong menggerakkan ekonomi ini diberikan stimulan dan wadah yang memadai, sehingga gerakkannya bisa lebih cepat membesar.

Kendala penurunan daya beli, perlu segera direspon dengan memberi stimulan efisiensi biaya seperti biaya pengiriman, bahan baku dan lain-lain; sehingga konsumen tetap mendapatkan harga yang sama atau bahkan lebih murah ketika membeli langsung di warung.

Model stimulus melalui subsidi langsung harus mampu menjadi stimulan menggerakkan ekonomi lokal. Bantuan permakanan atau subsidi lainnya, harus menggunakan bahan baku dan produk UMKM bukan produk usaha besar. Hal ini tentu saja butuh good will dan kebijakan yang serius dari Pemerintah Pusat dan Daerah.

Kebijakan yang hanya memberi subsidi kepada pengusaha besar, saatnya dihentikan. Berikan subsidi kepada rakyat kecil, dimana mereka setiap hari menghitung kalender kecukupan buat makan. Stimulus ekonomi berikan kepada UMKM karena mereka garda terdepan ekonomi nasional. Jumlah mereka begitu besar mencapai 97,5 % dari stuktur usaha nasional. Kita semua menunggu kebijakan pro-rakyat dari negara, bukan kebijakan pro-konglomerat yang selalu ditunjukkan selama ini.

Penulis: Direktur Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK), Ketua Majelis Pemberdayaan Masyrakat PW Muhammadiyah DIY dan Dewan Pengurus Yayasan Abdurrahman Baswedan


Stimulus ekonomi berikan kepada UMKM karena mereka garda terdepan ekonomi nasional.


(Visited 177 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 18 April 2020
Close