Ditulis oleh 12:01 pm COVID-19

Menjaga Kesehatan Jiwa di Tengah Pandemi Covid-19

Sebuah riset yang diterbitkan Journal of Medicine, menyebutkan Covid-19 berdampak pada kesehatan jiwa seseorang. Bagaimana mengatasinya?

Oleh: Amri Khoiriyah, M.Pd

Sejak akhir 2019, Covid-19 menjadi perhatian masyarakat dunia.  Saat ini, penyakit karena virus Corona ini membuat kesehatan manusia secara internasional berada dalam keadaan darurat. Covid-19 telah menjadi pandemi yang membuat seseorang berpotensi terinfeksi ketika berinteraksi dengan orang lain di luar rumah. Akibat yang muncul karena Covid-19 ini salah satunya adalah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar.

Tidak hanya korban jiwa, wabah Covid-19 juga dapat berdampak pada kesehatan jiwa seseorang. Suatu penelitian mengenai dampak psikologis akibat Covid-19 dilakukan pada 1.210 responden dari 194 kota di Cina. Hasil riset itu diterbitkan Journal of Medicine pada 20 Maret 2020. Hasil riset menyatakan bahwa 54% responden mengalami dampak psikologis pada taraf sedang atau parah, 29% mengalami gejala kecemasan sedang hingga berat, dan 17% mengalami gejala depresi sedang hingga berat. Berdasarkan riset ini dampak psikologis yang mungkin muncul akibat pandemi Covid-19 perlu menjadi perhatian semua orang.

Merawat Jiwa Sebagaimana Merawat Tubuh

Selama ini telah banyak himbauan dan protokol menjaga kesehatan fisik agar seseorang bisa terhindar dari paparan virus Corona. Misalnya, tinggal di rumah, sering mencuci tangan, memakai masker ketika keluar rumah, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal, serta meningkatkan daya tahan atau imunitas tubuh. Namun, ada satu hal yang juga penting adalah bagaimana merawat jiwa agar seseorang bisa terhindar dari dampak psikologis yang mungkin muncul akibat pandemi ini. Pada dasarnya, merawat jiwa merupakan bagian dari lima prinsip maqoshid syariah, yaitu: (1) Hifdz ad-din, menjaga agama; (2) Hifdz an-nafs, memelihara jiwa; (3) Hifdz al-‘aql, memelihara akal; (4) Hifdz an-nasab, memelihara keturunan; dan (5) Hifdz al-maal, memelihara harta.

Kesehatan fisik dan jiwa memiliki kaitan yang erat, sehingga perhatian terhadap perawatan psikologik dan psikiatrik tidak boleh diabaikan. Kesehatan jiwa perlu dirawat sebagaimana halnya merawat fisik. WHO telah menerbitkan konsiderasi kesehatan mental dan psikososial terkait Covid-19. Salah satu poin dalam konsiderasi tersebut menyatakan bahwa agar kesehatan mental bisa tetap baik, seseorang dihimbau untuk meminimalkan, menonton, membaca, atau mendengarkan berita tentang Covid-19. Kegiatan-kegiatan tersebut jika dilakukan bisa menyebabkan seseorang mengalami rasa cemas atau tertekan. Dalam pada itu, seseorang sudah semestinya menyaring informasi. Informasi yang diperoleh pun sebaiknya hanya dari sumber tepercaya  yang berdasarkan fakta. Penyaringan informasi ini dapat meminimalkan rasa takut. Selain itu, intensitas pencarian informasi pun harus diperhatikan. Semakin tidak intens seseorang mencari informasi, semakin baik pula untuk kesehatan jiwanya.

Tidak hanya masyarakat umum, gangguan mental berupa kecemasan juga berpotensi melanda para tenaga medis yang sedang bertugas. Kecemasan tersebut bisa menaik derajatnya pada level stress. Bagi pekerja, Covid-19 ini juga telah menimbulkan stress. Hal ini dikarenakan mereka mengalami PHK yang secara langsung berimbas pada kehidupan ekonomi mereka. Mereka yang terdampak ekonomi ini adalah pada golongan menengah ke bawah. Artinya, gangguan mental bisa berdampak luas pada segenap lapisan masyarakat. Keadaan ini dapat memicu keadaan yang tidak diharapkan, misalnya terjadi keputusasaan dan persoalan sosial.

Seseorang yang bisa merawat jiwanya, paling tidak dapat melakuan dua hal secara sadar. Pertama, seseorang dapat melakukan perbuatan sebagai bentuk laku menahan diri. Perbuatan itu adalah berupa tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri dan orang lain. Contohnya adalah ketika seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, ia dapat  menghubungi pihak-pihak berwenang untuk mendapatkan solusi atas masalah yang dialaminya. Persoalan ekonomi adalah persoalan banyak orang. Dan pemerintah tentu menyadari tanggung jawab untuk mengatasi keadaan ini. Buktinya, pemerintah telah memberikan bantuan sosial kepada mereka yang terdampak Covid-19.

Kedua, untuk menyehatkan jiwa, seseorang juga bisa secara aktif melakukan berbuatan bajik, misalnya berbagi rezeki pada orang lain yang mengalami kesulitan ekonomi. Hal ini sudah dilakukan oleh banyak pihak, baik itu secara personal maupun kelembagaan. Perbuatan bajik berupa memberi bantuan tidak hanya berupa kebutuhan pokok dan uang, melainkan dapat pula berupa alat kesehatan yang diperlukan oleh para tenaga medis. Kegiatan berbagi ini pada dasarnya adalah upaya untuk mengecilkan ‘keakuan’ yang mampu mereduksi sifat keserakahan. Dengan itu, tereduksi pula kekotoran batin yang kemudian berdampak pada ketenangan jiwa.

Di bulan Ramadhan ini, Covid-19 mengingatkan kembali esensi dari ibadah puasa, yaitu menahan diri dan berbagi. Bagi orang yang bisa mengambil esensi ini di tengan wabah pandemik sesungguhnya telah belajar secara doubel dari dua sumber yang berbeda. Kebijaksanaan dan kearifan diperlukan agar seseorang terhindar dari perbuatan yang buruk dan memilih melakukan hal-hal yang baik.

Kebijaksanaan dan kearifan diperlukan agar seseorang terhindar dari perbuatan yang buruk dan memilih melakukan hal-hal yang baik.

Dengan situasi yang belum menentu saat ini, penting sekali seseorang untuk terus merawat jiwanya. Semakin seseorang sehat jiwanya maka imunitasnya juga semakin baik. Untuk itulah berbagai upaya perlu dilakukan oleh setiap orang dalam rangka merawat jiwa agar tetap sehat.

(Visited 260 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 4 Mei 2020
Close