Ditulis oleh 9:36 am KABAR

Mensyukuri 75 Tahun Kemerdekaan

Marilah kita maknai kemerdekaan yang telah 75 tahun ini dengan mengisi kemerdekaan sesuai dengan tugas dan fungsi kita masing-masing.

Kemerdekaan suatu bangsa memiliki beragam makna dan penafsiran. Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Repbublik Indonesia 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Ir. Soekarno didampingi Moh. Hatta tidak secara eksplisit menerangkan apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

Ketika Soekarno menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia, tentu yang dimaksudkan adalah kemerdekaan dari penjajahan Jepang. Tetapi apa makna kemerdekaan itu bagi rakyat Indonesia merupakan tugas para generasi penerus merumuskan dan merealisasikanya.

Karena itu, Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita kebangsaan dan ke-Indonesiaan yang sejati. Kemerdekaan itu diraih di samping karena perjuangan para pendahulu kita, yang jauh lebih besar peranannya dari hal di atas adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagai Sang Pemilik alam seisinya ini. Setelah kemerdekaan itu diraih, lantas bagaimana cara bangsa Indonrsia memaknai dan mensyukurinya?

Di dalam Surah Al-Haj ayat 41, Allah SWT secara secara gamblang menjelaskan tentang bagaimana cara mensyukuri kemerdekaan; “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka menegakkan shalat, membayar zakat, menyuruh pada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. Prioritas utama dalam mengisi kemerdekaan ternyata dengan menegakkan ibadah shalat yang fungsional.

Ketika Rasulullah Muhammad SAW menyebutkan bahwa shalat adalah tiang agama, secara tersirat menjelaskan juga bahwa untuk tegak dan majunya suatu bangsa, maka ketekunan menegakkan ibadah shalat bagi penduduknya yang beragama Islam merupakan kunci keberkahan yang utama bagi keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia ini.

Shalat yang berfungsi mencegah perbuatan keji dan munkar juga bermakna shalat yang dikerjakan secara ajeg (konsisten). Ini merupakan perisai dari berbagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kejuangan dan kebangsaan yang harus senantaiasa dijunjung tinggi oleh semua komponan bangsa Indonesia.

Kedua, dengan menunaikan zakat. Zakat adalah simbol dari penegakan sistem ekonomi yang bersih dan adil, sebagai realisasi dari sila ke lima Panacasila. Zakat sejatinya adalah perlawanan pada sistem ekonomi ribawi yang menjadi jantung bagi semua kerusakan di muka bumi ini. Zakat adalah simbol kebijakan yang menjadikan lapisan terlemah sebagai bahan pertimbangan utamanya. Zakat adalah indikator solidaritas dan soliditas sosial segenap komponen bangsa. Menunaikan zakat dalam perspektif mensyukuri kemerdekaan adalah dengan membangun sistem ekonomi dan sosial yang berkeadilan.

Adalah suatu realitas sosial bahwa dalam kehidupan suatu bangsa, ada si kaya dan si miskin yang satu dengan yang lain saling tergantung dan saling membutuhkan. Fungsi pemerintahan adalah menghilangkan atau setidaknya mengurangi adanya kesenjangan yang semakin menganga (widening gap) antara orang-orang yang diuntungkan oleh sistem dengan masyarakat kebanyakan yang hidupnya kurang berkecukupan.

Ketiga, amar ma’ruf dan nahi munkar. Menyuruh pada kebajikan dan mencegah dari kekejian yang dapat menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Amar ma’ruf dan nahi munkar akan efektif jika yang melakukannya adalah orang atau kelompok yang kepadanya diserahkan otoritas kekuasaan. Jika tugas ini diambil alih oleh kelompok yang bermodalkan kepedulian semata, tanpa bekal otoritas, terkadang kemudharatan yang diterima lebih besar dari maslahat yang didapat.

Rasulullah Muhammad SAW mengajari kita manakala menemukan kemunkaran dalam masyarakat maka ubahlah dengan tangan (yadi). Kalau tidak mampu, ubahlah dengan lisan (termasuk juga tulisan). Dan kalau lisan juga tidak mampu maka ubahlah kemunkaran itu dengan hati (qalbu), meskipun itu dikategorikan sebagai selemah-lemah iman. Mencegah kemungkaran dengan hati maksudnya kita tetap melihat kemungkaran tetap sebagai sesuatu yang salah, meskipun banyak yang melakukannya, dan menghindarkan diri untuk melakukan hal itu.

Keempat, berserah diri (tawakkal) kepada keputusan Alah SWT. Setelah bangsa Indonesia merdeka selama 75 tahun, berbagai prestasi telah banyak yang diraih. Tetapi juga harus jujur diakui masih bangsa capaian-capaian yang dirumuskan belum terwujud dengan baik.

Di sinilah perlunya segenap komponen bangsa menyadari bahwa berjuang secara maksimal adalah sebagai kewajiban segenap bangsa, tetapi tentang hasil diserahkan kepada Sang Maha Pemberi Rizki Allah SWT. Marilah kita maknai Kemerdekaan yang telah 75 tahun ini dengan mengisi kemerdekaan sesuai dengan tugas dan fungsi kita masing-masing, serta banyak berserah diri kepada-Nya. Semoga!

Baca juga: Hidup Bersama Masyarakat

(Visited 126 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 31 Agustus 2020
Close