Ditulis oleh 4:53 pm COVID-19

Mentalitas Berkelimpahan Hadapi Krisis

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses pengembangan segenap potensi; bisa berupa bakat atau minat sehingga dapat menjadi hobi atau bahkan profesi yang dapat menjadi nilai keunggulan diri.

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang unik dan memiliki potensi luar biasa. Pada mulanya, ia lahir sebagai bayi yang tanpa daya, belum memiliki kemampuan (ability);  baik kemampuan bersikap (attitude), pengetahuan (knowledge) maupun keterampilan (skill).   Seorang bayi atau kanak-kanak memiliki  pengetahuan yang sangat terbatas dalam segala hal, baik menyangkut dirinya, orang lain, alam semesta, dan apalagi tentang Tuhannya. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau “nrimo” terhadap hampir semua hal yang terjadi di sekitarnya. Dalam hal keterampilan, kanak-kanak juga masih sangat terbatas, entah itu yang bersifat pertukangan (memukul, memanjat, memutar, membuka dan sebagainya) maupun kemampuan non teknis-kemanusiaan, seperti komunikasi, kepemimpinan, manajemen dan “human skill” lainnya.

Tetapi mengapa setelah beranjak remaja dan dewasa mereka dapat melakukan apa saja?  Dapat bersikap, merasakan, berpikir dan melakukan sesuatu yang diinginkannya.  Dalam konteks inilah, maka  proses pembelajaran dan pembiasaan menunjukkan maknanya, yaitu menjadikan seorang manusia menjadi semakin mampu, berdaya dan semakin merdeka dari segala hal di luar dirinya. Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses pengembangan segenap potensi; bisa berupa bakat atau minat sehingga dapat menjadi hobi atau bahkan profesi yang dapat menjadi nilai keunggulan diri.  Dengan demikian, manusia  dapat keluar dari jeratan ketidakmampuan  diri (sikap), pengetahuan dan keterampilan.

Pada akhirnya, orang yang demikian dapat mencukupi kebutuhan hidupnya (intelektual, material dan spiritual) secara melimpah.  Praktisnya, ia dapat menghadirkan diri menjadi pribadi yang kaya; kaya hati, pengetahuan, harta, kedudukan dan sebagaianya. Inilah yang disebut mentalitas berkelimpahan. Yaitu, pribadi yang dapat mendayagunakan dan memberdayakan dirinya menjadi semakin bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Gagasan-gagasan cerdasnya, perilakunya dan kemampuan praktisnya  dapat bermanfaat bagi orang lain atau “dijual” kepada orang lain.  Pribadi berkelimpahan seperti ini sangat dibutuhkan konstribusinya, teristimewa ketika kehidupan bangsa sedang menghadapi ujian berupa Covid-19 sekarang ini.

Bagaimana mengaktualisasikan diri menjadi  pribadi yang berkelimpahan?  Ada empat pertanyaan  yang dapat membantu; Pertama, bidang kegiatan apa yang sangat memikat  hati; Kedua, bidang kegiatan apa yang memberikan kepuasan batin dengan sangat mendalam; Ketiga bidang kegiatan apa yang terasa sangat mudah  dipalajari; dan Keempat,   bidang kegiatan apa yang membuat  seakan-akan dapat menyatu dengannya atau dapat mempribadi.

Empat pertanyaan ini  harus dipandu oleh misi hidup. Karena, misi hidup inilah yang akan memberikan arah hidup seseorang.  Akan berprofesi apa kita nantinya?   Dan akhirnya, sejauh mana kesuksesan hidup  yang dapat kita capai?   Inilah yang oleh Stephen R. Covey disebut sebagai “kompas batin” yang hanya bisa dikembangkan  melalui proses dan waktu yang panjang dan tidak bisa terbentuk secara instan. Menurut Covey, ada tiga pertanyaan yang dapat memandu untuk mengembangkan “kompas batin” ini, yaitu: 1) apakah yang ingin dimiliki  2) bila telah memilikinya, apa yang ingin dilakukan (dalam hidup in)  3) akan menjadi manusia macam apakah kita kelak (to be) ? Dengan demikian, orang yang mampu secara spiritual,  intelektual dan material, perlu proses pembelajaran  secara sungguh-sungguh, reguler, berkelanjutan dan sinergis. Tidak ada kesuksesan hidup yang dicapai secara instan.

Buah  yang bisa dipetik dari ujian hidup  yang kita rasakan saat ini  adalah pembentukan kesabaran, ketekunan dan ketaatan dalam mekakukan proses pembelajaran dan pembiasaan itu. Dan upaya  untuk melakukan proses pembalajaran itu adalah bagian dari wujud syukur atas nikmat Allah SWT, bahwa kita diiciptakan menjadi pribadi yang kerkelimpahan. Menjadi manusia yang cerdas, kreatif dan memiliki martabat tinggi di antara semua makhluk Allah lainnya. Semoga kita semakin arif dan bijak dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.  Dalam bahasa spiritualitas, orang semacam itu disebut, “sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, lan menang kang datan ngasorake “.  Insya Allah.

Penulis: Dosen Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan

(Visited 93 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 April 2020
Close