Ditulis oleh 2:45 pm COVID-19

Menunda Mudik

Dialog keluarga yang memasukkan upaya bersama mengendalikan penyebaran wabah, akan menjadi energi baru bangsa untuk keluar dari kesulitan.

Dalam tulisan mudik yang lalu, dikatakan bahwa:

Mudik dalam suasana sekarang, dikhawatirkan menjadi bagian dari perluasan penyebaran wabah. Oleh sebab itulah ada himbauan agar tidak mudik. Himbauan tersebut pasti bukan dimaksudkan untuk membatalkan tujuan, menghapus kerinduan pada kampung halaman, akan tetapi untuk memberi makna baru pada mudik, sehingga mudik dapat dilakukan dengan cara lain. Suatu cara yang belum dikenal sebelumnya.

Ada dua hal pokok yang dapat digali dari pernyataan tersebut: Pertama, himbauan atau ajakan untuk tidak mudik atau menunda mudik atau memberi makna baru pada mudik. Bagi yang bukan golongan pemudik tentu mudah mengatakan jangan mudik. Namun bagi yang hanya punya kesempatan satu tahun sekali, pasti tidak mudik bukan perkara yang sederhana.

Meskipun dikatakan menunda dan akan mendapatkan kompensasi libur di waktu yang lain, tetap saja, tidak mudah. Mengapa? Karena mudik telah menjadi peristiwa kebudayaan. Mudik lebaran, sebenarnya sudah bukan lagi merupakan peristiwa eksklusif, tetapi telah menjadi peristiwa inklusif. Semua elemen masyarakat akan menggunakan sebaik mungkin momen mudik. Suatu momen yang telah dinantikan kedatangannya.

Oleh sebab itulah, ajakan untuk tidak mudik atau menunda mudik, tidak mungkin diperlakukan sebagai tindakan legal formal. Ajakan untuk tidak mudik harus pula menjadi peristiwa kebudayaan, atau peristiwa kemanusiaan. Suatu tindakan yang didasarkan pada kesadaran, bahwa sesuatu sedang terjadi, sehingga apa yang semula dikerjakan harus ditunda atau ditiadakan. Karena penundaan merupakan tindakan yang mendengar apa yang menjadi harapan publik. Menunda menjadi tindakan kebudayaan.

Kedua, perlunya upaya bersama, karena tidak mudik bukan lagi persoalan personal atau keluarga, melainkan telah menjadi persoalan publik. Oleh sebab itulah, perlu upaya bersama. Bukan hanya para pemudik yang diajak berdialog, melainkan juga keluarga-keluarga di kampung halaman. Jika keluarga di kampung ikut menjadi bagian atau bahkan menjadi kekuatan garis depan, tentu akan bermakna lain.

Antar saudara sekampung halaman melakukan dialog, saling berbagi rasa, saling menanyakan perkembangan dan saling mencari solusi atas persoalan yang ada. Dialog keluarga yang memasukkan upaya bersama mengendalikan penyebaran wabah dalam agenda keluarga, pasti akan menjadi energi baru bangsa untuk dapat keluar dari kesulitan. Apabila setiap keluarga dapat menyumbangkan pikiran, tenaga dan langkah kebudayaan, yakni ikut menjadi bagian terdepan dalam mengurangi mobilitas publik, antara lain menunda mudik, maka pasti akan membawa pengaruh yang sangat besar.

Barangkali soalnya adalah: (1) jika mereka yang ingin mudik akhirnya tidak mudik, apa yang harus dilakukan? Bagaimana jika keadaan tersebut menimbulkan masalah tersendiri, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, bagi mereka yang tidak mampu?; dan (2) jika terjadi keadaan dimana kedaruratan kesehatan mengalami peningkatan keadaan akibat makin meluasnya penyebaran wabah?

Kedua hal tersebut merupakan masalah yang harus dipikirkan secara bersama dan seksama. Masalah tersebut tidak mungkin hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan kerjasama yang kuat, baik antar warga maupun antar daerah. Di sinilah tantangan yang paling besar dan paling menentukan. Jika kerjasama lintas elemen bangsa dapat dilakukan, maka kita yakin masalah akan dapat diatasi. Dengan format kerjasama lintas elemen masyarakat, kita yakin bahwa tidak mudik atau menunda mudik merupakan jawaban kongkrit untuk memperkuat upaya pengendalian penyebaran wabah. Semoga wabah segera berlalu.

(t.red)

(Visited 48 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 7 April 2020
Close