Menyegerakan versus Tergesa-Gesa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Jadi istilah "menyegerakan" memang perlu untuk digarisbawahi karena mengandung konten-konten positif. Lain halnya dengan "tergesa-gesa", karena memang jauh dari itu semua.

Di sela-sela “PR” saya yang belum terselesaikan (dan tetap menjadi misteri), saya coba berbagi ide yang tiba-tiba muncul, agar tidak keburu hilang ditelan waktu.

Bagaimana tidak jadi misteri? Kejadiannya di penghujung liburan semester gasal kemarin, tepatnya dalam perjalanan dan pada saat kami (saya, istri dan si princess) berada di Saloka. Di tengah lajunya kendaraan kami melintas jalan raya Jatinom-Boyolali, sekilas nampak di sisi kiri kami sosok pria berusia sekitar 40-an tahun sedang berdiri di pinggir jalan, kelihatan sedang menunggu sesuatu.

Reflek, kami menoleh pada pria tersebut (karena memang tidak ada orang lain selain dirinya), dengan ciri-ciri postur kurus, tidak terlalu tinggi, dan wajah yang seperti tidak asing bagi kami. Namun, saya tetap melanjutkan laju kendaraan. Sontak, tanpa di skenario dan tanpa dikomando, kami berucap hampir bersamaan, “Aku kayak kenal orang itu, tapi siapa dan di mana ya….” Nah, lho.

Mulailah perbincangan kami membahas orang itu (sambil sesekali mengecek si princess yang sejak tadi sudah tertidur). Sebuah pembahasan yang lebih tepatnya adalah mencoba melakukan analisis ilmiah untuk mengetahui siapa dan di mana kami pernah bertemu orang itu.

Berulang kali kami coba me-recall file yang tersimpan di dalam memori masing-masing. Ternyata susah. Kami coba sweeping satu-satu. Dari filter tempat-tempat yang pernah kami singgahi sampai filter waktu yang memungkinkan kami bertemu orang tersebut. Tapi hasilnya “nihil”. Yang membuat kami kaget, ternyata pria tersebut juga rekreasi di Saloka bersama keluarganya, yang ternyata kami memang tidak mengenal mereka. Jika kenal, teka-teki ini mungkin bisa terjawab.

Agak geli memang, karena destinasi wisata pun sama. Saya saling pandang dengan istri saya, dengan ekspresi keheranan dan tentu saja masih curious. Saya foto orang tersebut (mode candid camera) saat berada di antrian panjang salah satu wahana, karena barangkali nanti setelah pulang bisa saya tunjukkan fotonya dan tanyakan pada teman-teman. Walaupun ternyata sampai sekarang hasilnya masih tetap “nihil”, hingga jadi misteri. Akhirnya kami menyerah. Terutama saya. Let it be. Karena ada hal lain yang lebih urgent.

Sebuah inspirasi (yang tiba-tiba muncul) yang mendorong saya menyusun coretan ini adalah quote dari Ustadz Fauzil Adzim dalam bukunya “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”, sebuah buku best seller pada akhir abad XX (sekitar tahun 1996). Kesan yang mendalam pada beliau, juga pada bukunya (hingga membuat saya memilih “menyegerakan” untuk menikah dan bukan karena “tergesa-gesa”. Jika dihitung waktunya hanya tiga minggu saja dari ta’aruf sampai mitsaaqon gholidzo itu terucap. Terlebih saat saya sempat satu frame dengan beliau, karena saya dapat amanah jadi moderator pada Seminar Parenting yang diadakan SDIT Muhammadiyah Sinar Fajar beberapa tahun silam.

Beberapa hikmah yang bisa saya petik dari tulisan-tulisannya antara lain bahwa menyegerakan untuk menikah akan mendatangkan sakinah atau ketentraman jiwa. Sedangkan tergesa-gesa justru menjadikan pernikahan tidak barokah, penuh kekecewaan dan kehampaan. Karena pada sikap tergesa-gesa ada campur tangan syaiton. Keduanya mirip tapi berbeda sekali akibatnya. Jadi perlu kejernihan pikiran untuk membedakan gerak-gerik hati, untuk membedakan antara menyegerakan atau tergesa-gesa.

Menyegerakan mengandung konten positif. Karena akan mempertimbangkan masalah-masalah penting ketika meminang, mempertimbangkan pinangan, menata hati selama proses menuju pernikahan berlangsung sampai soal undangannya.

Ada yang penting untuk disimak. Seindah-indah pernikahan adalah yang barokah. Untuk itu perlu hati-hati. Yang menyebabkan berkurangnya barokah perlu dijauhi. Apalagi yang menghilangkan barokah sama sekali. Ini yang perlu kita periksa sejak mahar sampai niat.

Jadi istilah “menyegerakan” memang perlu untuk digarisbawahi karena mengandung konten-konten positif tersebut. Lain halnya dengan “tergesa-gesa”, karena memang jauh dari itu semua. Bahkan Nabi kita memerintahkan agar tetap berjalan dengan tenang mendatangi sholat jama’ah walaupun iqamah sudah dikumandangkan.

Tergesa-gesa juga bisa mengandung makna tidak hati-hati. Berangkat ke sekolah dengan tergesa-gesa, karena khawatir terlambat juga kurang bagus, karena keselamatan jiwa jadi taruhannya. Solusinya adalah berangkat lebih awal. Dengan lalu lintas yang tidak begitu padat insyaa Allah akan mengurangi resiko kecelakaan. Melaju dengan kecepatan tinggi tentu saja lebih beresiko.

Saya tidak melarang jadi pembalap, akan tetapi masing-masing memiliki dimensi waktu dan tempat yang berbeda. Oleh karena itu jika istilah “menyegerakan” kita terapkan dalam berkendara mungkin bisa diartikan berkendara dengan batas kecepatan yang disarankan dan berkendara dengan hati-hati. Berkendara dengan kecepatan 100 km/jam di jalan tol masih diperbolehkan dan ini menjadi batas kecepatan maksimal. Namun lain halnya jika diterapkan di jalan kampung. Dzolim namanya.

Menyegerakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diamanahkan juga bagus. Don’t wait until tomorrow what you can do today. Jangan tunda sampai besok apa yang bisa diselesaikan hari ini. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan tugas-tugas karena sudah dikejar deadline akan membuahkan hasil yang kurang optimal.

Akhir kata dalam sharing singkat ini, bahwa “menyegerakan” juga menjadi perintah Allah dalam Al Qur’an.

Allah berfirman,

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
(Q.S.Ali Imran: 133)

Hari Setiyawan

Hari Setiyawan

Guru SDIT Muhammadiyah Sinar Fajar, Klaten.

Terbaru

Ikuti