Ditulis oleh 7:50 am KALAM

Menyempurnakan Ramadhan 1441 H

Dengan niat yang baik serta keikhlasan, giat dan bersungguh-sungguh kita akhiri Ramadhan dengan harapan dapat menyempurnakannya.

Tidak terasa kita sudah memasuki hari ke 22 Ramadan 1441 H. Sebelum Ramadhan kita menanti-nanti bisa bertemu, dan bisa beribadah optimal, meraih rahmat dan maghfirah-Nya. Tunaikan ibadah wajib dan sunah. Akibat Covid-19 belum reda, kita tidak bisa menunaikan sholat jamaah sholat wajib dan Taraweh di masjid. Bahkan tidak bisa i’tikaf di masjid. Padahal kita ingin sekali menyempurnakan ibadah Ramadhan 1441 H dengan penuh harapan bisa termasuk golongan orang-orang yang menang.

Kita telah lalui 10 hari pertama Ramadhan dengan bekerja dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Melakukan adaptasi dari tidak puasa menjadi puasa. Dari tidak ada sholat Taraweh menjadi harus melakukan shalat Taraweh. Dari tidak biasa tadarus menjadi tadarus. Dari suatu ibadah yang biasanya mendapatkan pahala satu kebaikan, berubah menjadi berlipat kebaikan dan sebagainya. Dengan pengorbanan dan perjuangan itu kita dianugerahi rahmat-Nya.

Selanjutnya 10 hari kedua Ramadhan
Artinya, “Siapa yang menghidupkan bulan Ramadhan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap pahala dari Allah Swt. maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan siapa yang menghidupkan (beribadah) malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saatnya untuk perbanyak istighfar dan taubat kepada Allah swt. Walaupun istighfar dan taubat juga bisa dilakukan pada sebelumnya, bahkan juga setelahnya. Selain itu perbanyak dzikir lainnya, karena dengan banyak berdzikir akan mendatangkan banyak kebaikan. Dengan berdzikir akan membikin jiwa tenang dan damai. Dengan kondisi yang demikian, semua tugas dan pekerjaan dapat dilakukan dengan fokus dan konsentrasi penuh, sehingga peluang keberhasilan tinggi. Aamiin.

Bagaimana dengan 10 hari terakhir Ramadhan? Sepuluh hari yang ketiga adalah itqun minan nar (terbebas dari api neraka). Hal ini seiring dengan doa kita sehari-hari, “Rabbanaa aatina fiddun-ya hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar yang berarti : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Setelah kita mendapatkan rahmat dan maghfirah, kita mohon syurga tanpa harus melewati menghuni di neraka. Untuk itu kita perlu terus semakin tingkatkan komitmen untuk perbanyak ibadah.

Sebagaiamana Hadis Rasulullah saw, yaitu : “Rasulullah saw sangat giat beribadah di bulan Ramadhan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya”. (HR. Muslim). Di kesempatan yang lain, bahwa Rasulullah saw, di akhir Ramadhan sebagaimana penjelasan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kebiasaan Rasulullah Saw jika telah datang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan adalah beliau menghidupkan waktu malam (dengan ibadah), membangunkan keluarga (istri-istrinya), bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengencangkan sarungnya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Lebih spesifik lagi bahwa Rasulullah saw, memberikan penegasan dalam hadis, “Carilah malam lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)

Mengingat 10 hari terakhir Ramadhan merupakan waktu yang terbaik di antara sebulan Ramadhan, mari kita manfaatkan untuk menyempurnakan ibadah Shiyam Ramadhan 1441 H ini, dengan semakin khusyuk shalat wajib berjamaah, Shalat tarawih dan shalatul lail lainnya, membaca dan menghatamkan Al Qur-an, I’tikaf secara sungguh-sungguh dengan banyak dzikir, baca al Qur-an, dan sholat sunnat, membayar Zakat Fitrah, membayar Zakat Mal dan Shadaqah lainnya, berusaha meraih Lailatul Qadar, dan banyak takbir di malam Idul Fitri. Idealnya memang bisa i’tikaf di Haramain (Masjidil Haram atau Masjid Nabawi) atau di Masjid yang dekat dengan rumah. Tapi sayang hampir banyak masjid untuk sementara dikosongkan jamaah. Mestinya sekarang kesempatan untuk ‘itikaf daripada kosong dengan ikuti Protokol Kesehatan. Semoga dengan ibadah yang sungguh-sungguh pada akhirnya kita bisa meraih hasil yang terbaik. Kembali ke suci (‘iedul fithri), masuk golongan orang-orang yang menang (minal faaiziin), dan diterima semua amal ibadah (al maqbuuliin)

Walaupun dengan adanya hambatan yang berarti Pandemi Covid-19, yang hanya terjadi sekali dalam seabad, melanda semua rakyat sedunia, terutama di wilayah Indonesia pada hari Kamis, 14 tercatat ada 16.006 kasus positif virus Corona, 3.518 orang sembuh dan 1.043 orang wafat. Di samping kita prihatin atas musibah itu, kita alhamdulillah masih bisa tunaikan puasa Ramadhan dengan baik. Tentu ada sejumlah kekurangan, walau tidak berarti. Karena itu dengan kesempatan yang ada, kita fastabiqul khairat dengan optimalkan ibadah kita selama sisa waktu ini. Termasuk juga upaya tingkatkan silaturahmi. Bisa dilakukan dengan online maupun offline. Yang penting kita terus waspada terhadap penyebaran. Bahkan tanda-tanda penurunan kasus secara berarti belum ada, kita kemungkinan besar melaksanakan ibadah Idul Fitri dengan melakukan penyesuaian diri untuk keselamatan.

Akhirnya, semoga dengan niat yang baik dan ikhlas kita bisa akhiri Ramadhan dengan amal ibadah sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan harapan dapat menyempurnakan Ramadan. Ingat bahwa Allah swt tidak membebani kita melebihi dari kemampuan kita, “laa yukallifulloohu nafsan Illaa wus’ahaa”. Semoga Allah swt selalu meridloi setiap ikhtiar kita. Aamiin. (Yogyakarta, 15 Mei 2020 / 22 Ramadan 1441, Jum’at, pk. 05.18).

(Visited 43 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 16 Mei 2020
Close