Ditulis oleh 11:03 am KALAM

Meraih Ketenangan Hidup di Bulan Kesabaran

Pandemi Covid-19 yang membersamai melaksanakan Puasa Ramadhan sekarang ini, merupakan peluang untuk menunjukkan jati dirinya sebagai umat yang senantiasa meningkatkan kesabaran pada seluruh aspek kehidupannya.

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si.

Ramadhan adalah bulan kesabaran. Sabar dimaknai dengan  kemampuan seseorang untuk melakukan disposisi secara positif terhadap segala sesuatu kejadian yang dialaminya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ia selalu memandang kejadian yang menimpanya dengan cara  dipikir, dilihat, didengar, atau dirasakannya bukanlah sebagai ancaman atau hukuman bagi dirinya, tetapi justru memandangnya sebagai tantangan, bahkan peluang untuk terus mengkaji diri secara mendalam dan memahami makna yang tersurat maupun tersirat dari pengalaman spiritualnya itu. Pandemi Covid-19 yang membersamai umat Islam ketika sedang melaksanakan Rukun Islam yang ketiga (Puasa Ramadhan) sekarang ini, merupakan peluang bagi umat Islam untuk  menunjukkan jati dirinya sebagai umat yang senantiasa meningkatkan kesabaran pada seluruh aspek kehidupannya.

Orang yang berpuasa akan menjadi orang yang sabar, penampilannya selalu tenang, sejuk, mengesankan dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan suatu aktifitas. Ia selalu berpikir secara sistematis dan mencoba memahami manfaat serta  akibat dari apa yang dilakukannya. Dengan kata lain, orang yang sabar itu berarti ia telah mampu melakukan pengaturan diri (self-regulation) terhadap empat aspek dalam pribadinya secara baik, yaitu: 1) kendali diri (self control),   kemampuan mengelola emosi dan desakan (impuls) hati yang merusak, 2) sifat dapat dipercaya (thrustworthiness),  3) kehati-hatian (conscientiousness) atau peka terhadap kata hati nurani, dan  4) ivovasi (innovation),  mudah menerima dan terbuka gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru. Tidak apriori terhadap berbagai informasi yang sampai kepada mereka.

Demikianlah, rahasia yang  sebenarnya, mengapa Allah SWT sangat menghargai orang-orang  yang sabar. Bahkan secara tegas Allah akan menyertai orang-orang yang sabar:  “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal, 8 : 46). Ini berarti bahwa Allah akan memberikan karunianya yang luar biasa kepada orang-orang  yang sabar. Karunia itu dapat  berupa keselamatan, kebahagiaan, ketentraman, kesejahteraan, kemuliaan, kesuksesan dan sebagainya yang kesemuanya itu menunjukkan ketinggian derajat seseorang di antara sesamanya dan di hadapan Allah SWT. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW: 

“…Barang siapa yang bersabar, maka Allah akan menganugerahkannya kesabaran. Seseorang itu tidak dikurniakan sesuatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain daripada sabar” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Dalam konteks inilah  maka fungsi puasa Ramadhan yang langsung dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari adalah melatih kesabaran. Menahan diri dari makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkan selama kira-kira 12 jam, yaitu sejak dari waktu terbit fajar  sampai terbenam matahari dan dilakukan selama sebulan   penuh adalah tindakan yang sangat efektif untuk melatih kesabaran.  Lisan, penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan dan tindakan  perlu diatur/dimenej sedemikian rupa, sehingga dapat berfungsi secara efektif, efisien dan proporsional .    

Demikianlah, kesabaran itu dapat menjadi  ukuran yang paling jelas bagi tingkat kepribadian seseorang. Orang yang masih sering emosional ketika memecahkan persoalan, selalu tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan  dan marah ketika keinginannya belum terpenuhi, berarti pribadinya belum matang.  Sebaliknya, orang yang sabar dalam kondisi apa pun; ketika menerima nikmat, mendapat ujian atau cobaan, bahkan ketika menerima musibah sekalipun, berarti  orang tersebut kepribadiannya telah matang. Yaitu pribadi yang mampu tampil secara meyakinkan, penuh percaya diri, mengedepankan pertimbangan nalar dan kreatif-inovatif.

Karena itu, bukanlah sesuatu yang mengada-ada jika Allah memberikan jaminan kesuksesan hidup bagi siapapun hamba-Nya yang dapat sabar, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik”. (QS. Ar-Ra’ad, 13 : 22). “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” (QS. Muhammad, 47 :  31). Puasa yang kita laksanakan sekarang ini semoga dapat benar-benar membakar semua sikap, sifat dan perlilaku  negatif yang ada pada diri kita dan dapat tumbuh sifat sabar yang akan membuka pintu kebaikan, kemuliaan dan keselamatan hidup dunia-akhirat. Aamiin. 

Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan

(Visited 86 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 26 April 2020
Close