Ditulis oleh 12:38 pm KALAM

Merawat Kemajemukan Nusantara

Umat beragama dapat membuat agenda nasional bersama masalah pembangunan, keadilan, kemiskinan, keterbelakangan, maupun agenda global tantangan modernitas, dan nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya. Toleransi diganti kerjasama atau kooperasi. (Koentowijoyo).

Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag.
  • Kita tidak bisa hidup sendirian. Ribuan serat-serat menghubungkan kita dengan sesama. (Herman Melville)
  • Sebagai warga dunia, kita perlu kesadaran baru bahwa kita hidup bersama dengan orang lain yang memiliki latar belakang kewarganegaraan, agama, sosial, dan budaya yang berbeda. (M. Amin Abdullah)
  • Dengan sarana kebebasan, toleransi, dan pendidikan, orang-orang hebat serta bijak telah membuka jalan untuk menyelamatkan seluruh dunia. (Helen Keller)
  • Kehidupan beragama, membutuhkan toleransi sebagai prasyarat kerukunan, dialog dan kerjasama. Toleransi beragama tidak berarti mengakui kebenaran semua agama. (Ahmad Azhar Basyir).
  • Cinta kepada Tuhan terbukti dari cinta manusia kepada sesama. (Theresa)
  • Harga suatu umat beragama adalah selama mereka memegang teguh agama mereka; harga suatu bangsa terletak pada kemampuan mereka memegang identitas. (Abdul Haris Nasution)

Kesombongan adalah menolak kebenaran dan memandang rendah sesama manusia.

Nabi Muhammad SAW
  • Tidak ada bangsa yang mencapai kebesaran jika tak percaya kepada pandangan hidup yang berdimensi moral guna menopang peradabannya.
  • Perbedaan pandangan, keyakinan, dan agama merupakan fenomena alamiah, sunnatullah. Tuhan membuat keragaman umat beragama dalam pandangan dan praktik.
  • Sebelum bercampur dengan pertimbangan atau kepentingan ideologi, ekonomi, sosial-politik, agama, dan sebagainya, umat manusia menjalani kehidupan pluralistik secara alamiah dan wajar.
  • Di mana pun warga masyarakat berada, ia menghadapi fenomena pluralitas agama: Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan aliran-aliran kepercayaan, juga pluralitas etnik: Jawa, Bugis, Sunda, Batak, Dayak, Madura, dan lain-lain. 
  • Bangsa Indonesia terdiri atas beberapa suku, agama, dan golongan. Sungguhpun berbeda-beda, tetapi satu tujuan, yaitu meraih kebahagiaan hidup di dalam bingkai persaudaraan sesama manusia, sebangsa dan setanah air, dan sesama pemeluk agama.
  • Bangsa Indonesia memiliki landasan konstitusional untuk menciptakan kehidupan beragama yang toleran. UUD RI 1945 pasal 29 menyatakan: (1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan YME; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
  • Pilihan menjadi negara non-agama memberikan dasar kuat bagi bangsa Indonesia untuk bersikap toleran, menghargai kemajemukan, dan menjunjung tinggi perbedaan, sedangkan pilihan tidak menjadi negara sekuler membuktikan rakyat Indonesia masyarakat bertuhan.
  • Pancasila adalah prinsip pemberadaban manusia dan bangsa Indonesia, penghapusan kekerasan, ketidakadilan, dan kesenjangan hidup. 
  • Toleransi adalah sikap dalam pergaulan hidup yang mengandung arti penerimaan, pengertian, kesabaran, pemaafan, tenggang rasa, keterbukaan; tepo seliro, pangerten; menenggang, menghargai, membiarkan, dan membolehkan pandangan dan kepercayaan yang berbeda dengan pendirian sendiri; meng-iya-kan apa yang ada dan menerima hal itu sebagaimana adanya.

Toleransi, kerukunan, dialog, dan kerjasama antar-umat beragama menuntut kejujuran masing-masing pihak

M. Amin Abdullah
  • Islam dan toleransi merupakan suatu kesatuan organik. Di Indonesia terjadi toleransi agama berkat Pancasila dan karena mayoritas bangsa Indonesia Islam. (Nurcholish Madjid).
  • Ada kesejajaran dan kesatuan antara ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an. Nilai-nilai keislaman (Islamic values) dan nilai-nilai keindonesiaan (Indonesian values) tidak bisa dipisahkan.
  • Manusia beriman mempunyai dua dimensi hubungan: vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama.
  • Manusia mempunyai enam dimensi persaudaraan: (1) sesama manusia; (2) pertalian darah; (3) perkawinan; (4) suku bangsa; (5) sesama pemeluk agama; (6) seiman.
  • Persaudaraan iman dan kebangsaan adalah sekaligus; melaksanakan ajaran agama sekaligus mendukung nilai-nilai bangsa. Keimanan dan keyakinan setiap agama tidak membenarkan tindakan kekerasan apa pun terhadap pemeluk agama yang sama atau berbeda.
  • Wahai manusia, Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal. (QS 49:13).  
  • Untuk kamu masing-masing Kami tentukan suatu undang-undang dan jalan yang terang. (QS 5:48).
  • Tidak ada pemaksaan dalam soal agama. (QS Al-Baqarah/2:256).
  • Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya semua manusia di bumi beriman seluruhnya. (QS Yunus/10:99-100).  
  • Prinsip belas kasih di dalam jantung seluruh agama mengimbau kita untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan.
  • Pluralitas bangsa-bangsa, suku, dan agama niscaya menginspiprasi, dan mendorong saling berkompetisi melakukan kebaikan, menciptakan prestasi, dan memberi tuntunan menggapai kemajuan.
  • Indonesia memerlukan konsep baru hubungan antar-umat beragama yang bersifat keluar, melihat ke depan dengan bersama-sama menghadapi masa depan kemanusiaan dan dinamis yang merujuk pada kerja.

Umat beragama dapat membuat agenda nasional bersama masalah pembangunan, keadilan, kemiskinan, keterbelakangan, maupun agenda global tantangan modernitas, dan nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya. Toleransi diganti kerjasama atau kooperasi.

Koentowijoyo
  • Untuk menuju toleransi antar-umat beragama, lebih dahulu dibangun toleransi intern umat beragama. Di lingkungan umat Islam harus terjadi relativisme internal. Umat Islam tidak boleh memandang satu sama lain absolutistik. Selanjutnya memperluas sikap bahwa agama-agama lain itu berhak hidup dan dilindungi.
  • Dalam membangun toleransi antar-umat beragama, umat Islam tidak boleh mengorbankan keyakinan akan kebenaran agamanya sedikit pun (S.H. Nashr).     
  • Melalui dialog antar-umat beragama terwujud kerjasama antar-umat beragama di Indonesia pada program-program yang lebih amaliah, menggantikan sikap saling curiga dan konfrontasi.
  • Dalam sejarah Islam periode Madinah awal, Nabi Muhammad SAW mengikat komunitas-komunitas pluralistik di sana dalam kerangka “kesatuan umat” melalui Piagam Madinah. Kabilah-kabilah tetap menjadi unsur umat yang beragam dan diakui keberadaannya.
  • Piagam Madinah mengingatkan pada Piagam Jakarta yang ditandatangani Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945 yang mencerminkan aliran-aliran Islam, Nasionalis, dan Kristen serta mencerminkan hasrat bangsa Indonesia untuk memerdekakan tanah airnya.
  • Jiwa Piagam Jakarta terungkap dalam Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia; menggambarkan persatuan bangsa Indonesia yang pluralistik dalam satu cita-cita kemerdekaan dan perjuangan bersama mengusir penjajah, tanpa membedakan suku bangsa, ras dan agama.
  • Piagam Jakarta ditandatangani Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Mr. Achmad Subardjo, Wachid Hasjim dan Mr. Muhammad Yamin. Piagam Jakarta lahir pada 22 Juni 1945 tatkala Indonesia masih dalam cengkeraman imperialisme Jepang. Piagam inilah yang menjadi landasan Pembukaan UUD 1945.
  • Perjuangan yang sama dilakukan kaum tertindas di Western Cape, Afrika Selatan pada dasawarsa 1980-an demi keharusan politis dan legitimasi teologis solideritas antar-iman. Kaum Muslim bersatu bersama kaum Kristen dan Yahudi mengupayakan masyarakat yang adil. (Farid Esack).
  • “Kita saling bertemu. Berbeda dalam agama namun bersejawat dalam perjuangan. Sembilan belas orang kecil menanti dalam penjara yang dingin… Di sini kita mengalami dialog antar-agama pada tataran tertinggi. Hanya dalam delapan jam, kecurigaan dan ketakpercayaan bertahun-tahun pun luluh.”
  • Hassan Solomon, salah seorang dari 19 orang yang ditahan, berkata, “Semua Nabi Allah membentuk persaudaraan yang satu. Wahyu-wahyu yang mereka terima pun pada dasarnya satu, demikian pula agama yang mereka bawa … Marilah beranjak ke masa depan sebagai saudara dalam perjuangan. Semoga Allah meneguhkan semua umat yang beriman kepada-Nya … sampai kemerdekaan dan keadilan terlihat nyata bagi seluruh kaum tertindas negeri kita.”
  • Kata kunci persaudaraan dan kebahagiaan hidup adalah kerukunan sesama warga tanpa memandang perbedaan latar belakang suku, agama, dan golongan, karena hal itu adalah sunnantullah.
  • Kebinekaan agama meniscayakan sikap mengakui dan menghormati agama-agama selain agamanya. Muslim niscaya menghargai pemeluk agama-agama bukan Islam. Mengakui keanekaragaman agama dan keberagamaan orang lain itu bukan menyamakan dan membenarkan semua agama.

Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

(Visited 217 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 27 April 2020
Close