30.2 C
Yogyakarta
25 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Merenungi Kondisi Baru Kita

Oleh: Prof. Ir. Edhi Martono, M.Sc., Ph.D.

Alangkah dahsyatnya cara Allah mengingatkan manusia. Hanya dengan kiriman dzat sangat kecil tak kasat mata, tatanan manusia menjadi kelihatan semu, ringkih dan tanpa daya. Semakin terasa bahwa laa haula wa laa quawwata illa billah tidak bisa terbantahkan sampai kapan pun. Berbagai kegiatan keseharian berhenti atau harus dihentikan. Bukan hanya dalam hal yang menyangkut hubungan kita dengan sesama manusia, melainkan bahkan juga hubungan kita dengan Allah, secara ritual perlu redefinisi. Orang harus berpikir kembali tidak hanya dalam mengatur shaf, tetapi juga mengatur kembali Jumatan dan shalat wajib berjamaah di banyak masjid.

Apakah manusia lalu menjadi semakin ingat akan Tuhannya? Insya Allah, bagi ummat Islam peristiwa pageblug  ini menjadi peringatan keras akan masih belum sempurnanya penerapan cara beragama yang benar.  Namun yang menyedihkan, justru di beberapa bagian dunia yang lain banyak orang  malahan semakin kehilangan kepercayaannya terhadap agama, yang berarti hilang kepercayaan kepada Tuhan.  Mudah-mudahan bukan demikian cara kita bersikap. Memang banyak hal terjadi yang menyebabkan orang kehilangan harapan, terputus asanya, merasa tidak jelas tentang apa yang bakalan dialami. Ini memberi beban sangat nyata untuk penyelenggaraan kehidupan saat ini, tidak hanya yang di depan mata, tetapi  juga yang berupa tekanan psikis dan mental. Sungguh luar biasa.

Kantor, sekolah, tempat-tempat berkumpul harus disesuaikan dengan kondisi: dijadwal ulang, dikelola dari rumah, ditunda pengerjaannya dan seterusnya.  Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dengan begitu saja dapat menyesuaikan diri. Dengan berbagai cara orang diminta untuk tidak berkerumun, tetapi dengan berbagai cara dan pembenaran masih dijumpai kelompok-kelompok manusia di sana sini. Memang tidak mudah mengubah kebiasaan, meskipun tahu bahwa kebiasaan demikian saat ini mengundang bahaya.

Bagi yang tinggal di rumah pun, setelah beberapa hari pasti merasa kurang nyaman. Yang biasa bergerak terlebih lagi. Rutinitas rumah menjadi terasa membosankan, karena nyaris tanpa variasi. Sementara sumber berita yang paling banyak didengar saat ini adalah dari telepon genggam masing-masing.  Sebagian besar isinya malahan menambah tekanan batin. Tidak banyak yang memberi kabar positif, bahkan guyonan pun kebanyakan membuat kita tersenyum kecut.

Jadi bagaimana? Sepertinya kita perlu mengkaji ulang diri kita masing-masing. Zona nyaman kita sudah terjungkir balik, maka mengapa tidak diatur ulang dengan sesuatu yang baru? Karena cara lama, model kehidupan yang lalu banyak yang tidak mungkin dilakukan lagi. Berarti kita isi hidup saat ini dengan sesuatu yang mungkin kemarin jarang, tidak ingat untuk atau bahkan belum pernah dilakukan.

Tinggal di rumah setelah mengerjakan beberapa tugas kantor atau sekolah at home tentunya menyisakan waktu yang menjadi lebih banyak dibanding jika kita harus ke tempat kerja atau ke sekolah. Paling tidak waktu untuk berangkat dan pulang tidak dibutuhkan lagi. Demikian pula sebagian tugas dapat dikerjakan pada waktu yang bisa kita pilih sendiri. Akan ada waktu yang kemudian dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang selama ini agak dilupakan atau selalu kita hindari dengan alasan “tidak sempat”. Bisa kita lihat bersama bahwa waktu luang yang membosankan ini dapat berubah menjadi waktu yang produktif, baik lahir mapun batin.

Agar produktif secara lahir, salah satu keluarga misalnya melanjutkan proyek kandang ayam dan kebunnya yang selama ini tidak tersentuh karena “tidak ada waktu”. Persiapan untuk kegiatan seperti berkebun, dilakukan bersama anak-anaknya yang masih 5 dan 4 tahun. Seperti misalnya menyiapkan benih, menanam bijian dan menunggu tumbuhnya. Atau menyiapkan pasangan ayam yang nanti akan jadi penghuni kandang. Diajarkan untuk mencermati bagian mana saja yang masih dapat diperbaiki dan disempurnakan untuk memberi mereka kegiatan dan mengurangi kejenuhan. Kemudian diajaklah anak-anak itu untuk membuat pembersih tangan (hand sanitizer) dengan bahan rempah dan daun obat seperti sirih. Hal yang sama seperti itu, tentulah dapat dilakukan oleh anak muda maupun orang dewasa. Kegiatan yang selama ini tidak tertangani, tidak pernah ditengok, ditinggal karena sudah capai bekerja rutin, dapat dilihat kembali untuk dikerjakan saat ini.

Sementara itu, untuk produktif secara batinnya, maka oleh ibunya acapkali anak-anak itu diajak menunggu benih tumbuh dengan berdzikir atau belajar hafalan Qur’an. Tumbuhan pun makhluk Allah, sehingga jika dibacakan ayat-ayat Allah, pastilah mereka akan tumbuh dengan barokah. Anak-anak juga diajak mengagungkan Allah, dan melihat hubungan antara doa dengan ijabah, karena melihat sendiri bahwa benih tanaman tumbuh dengan baik. Di sisi lain, anak-anak diajar menghargai kehidupan. Betapa tanaman yang muncul dari biji kecil kemudian akan dapat memberi manfaat bagi makhluk-makhluk lain dengan memberikan daunnya, bunganya, buahnya, bijinya, umbinya…

Nah, selanjutnya bagi yang remaja dan dewasa, secara batiniah, bisa kita kejar ketinggalan keberagamaan yang selama ini kebanyakan hanya kita batasi pada yang wajib-wajib saja. Kita bisa menambah waktu tadarus misalnya. Biasanya baca lima ayat, sekarang sepuluh atau duapuluh. Biasanya sehari setengah juz, sekarang satu atau satu setengah. Kemudian mengejar hapalan. Semula umumnya yang dihapal adalah surat-surat pendek. Kita tambah dengan hapalan surat sedang, syukur-syukur surat panjang. Atau bagian tertentu dari suatu surat yang penting diingat dan dihapalkan. Demikian juga dizikir. Dulu barangkali dzikir beberapa puluh kali terasa menyita waktu dan merepotkan. Sebetulnya tidak juga, hanya karena kita tidak segera memulai maka rasanya berat. Bahkan beberapa kegiatan jasmaniah, seperti misalnya gerak senam, bisa saja dilakukan tidak dengan menghitung satu dua tiga, tetapi dengan “SubhanalLah, walhamdulilLah, wa laillaha illalLah, walLahu akbar”, atau “AstaghfirulLahu wa atuubu ilaihi”.

Dengan demikian, ketika kita pada akhirnya merenungi tentang corona yang diutus Allah untuk membersihkan bumi ini, maka kita pun kemudian perlu membersihkan diri, mengubah kebiasaan lama, meneguhkan kebiasaan baru, yang insya Allah dapat membuat kita semakin taqorub kepada Yang Maha Esa Tanpa Tandingan. Mudah-mudahan kebiasaan itu tetap bertahan meski nanti corona sudah dipanggil kembali oleh Allah azza wa jall.

Penulis: Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UGM,

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA