14.8 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Merespon Perubahan: Tetap Optimis dan Berprasangka Baik

Tidak ada yang menyangka bahwa pandemic COVID-19 ternyata mampu merubah dunia dan manusia. Perubahan begitu cepat dan terus berlangsung, melebihi cara berubah sebagaimana yang terjadi di era revolusi industri 4.0. Dunia seakan di-restart dan perubahan terjadi begitu sangat mendasar dan luas. Tidak ada kesempatan untuk melakukan penyesuian, sosialisasi atau apapun namanya, faktanya manusia dipaksa berbenah agar tetap bertahan dalam peradaban yang tengah diuji. Arnold Toynbee seorang ahli sejarah dalam bukunya Challenge and Respons, mengungkapkan bahwa manusia akan bisa bertahan dalam peradabannya ketika ia mampu menjawab dan merespon tantangan yang dihadapi. Disaat kondisi dan situasi yang penuh ketidakpastian ini, manusia menghadapi tantangan dan ujian cukup berat, yaitu bagaimana supaya bisa bertahan hidup dan melakukan berbagai aktifitas produktif. Sungguh tidak mudah untuk menemukan jawaban dari pertanyaan ini.

Manusia akan bisa bertahan dalam peradabannya ketika ia mampu menjawab dan merespon tantangan yang dihadapi.

Sebagian manusia merasa bingung, bahkan ada yang psimis dalam menghadapi persoalan hidup yang kian sulit dan membelit. Sikap dan pemikiran psimis sangat dekat dengan kesedihan. Pikiran menjadi gelap dan kemudian timbul rasa takut, cemas, serta gelisah. Cara pandang yang dibentuk juga sangat terbatas, hanya dalam satu perspektif. Apa yang dirasakan seolah menjadi suatu peristiwa yang hanya dialami oleh dirinya sendiri dan sangat berat, padahal masih banyak orang yang mengalami kesedihan bahkan penderitaan yang berkepanjangan.

Dibalik kesulitan tentu ada kemudahan, selalu ada secercah harapan yang menyemangati kita bersama. Kehidupan ini memang pasang surut, selalu berputar dan setiap putarannya menempatkan manusia pada posisi yang belum tentu nyaman. Dinamika kehidupan memang seperti itu, siap atau tidak kita pasti merasakan. Perubahan memang sedang terjadi, apakah kita menjadi subyek atau objek dalam perubahan, sangat tergantung bagaimana kita menyikapi dan menyambut semua yang terjadi.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa orang yang optimis ternyata lebih fit, sehat, dan mampu berpikir jernih bila dibandingkan dengan mereka yang psimis. Tentu sikap optimis tidak begitu saja berdiri sendiri, namun perlu kesabaran yang harus ditanamkan dalam sikap batin seseorang. Sabar dapat diibaratkan sebagai daya pegas yang memiliki kelenturan dalam menghadapi berbagai situasi. Seseorang tidak mudah “patah”, karena kekakuan yang melekat pada pribadinya. Fleksibilitas yang dimiliki merupakan kemampuan yang dibutuhkan dalam menghadapi perubahan. Daya lentur itulah yang membuat kita menjadi lebih mampu bertahan sekalipun berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik untuk alam dan seisinya. Segala penciptaanNya di dunia selalu ada manfaat dan senantiasa dalam konsep keseimbangan. Ujian dan cobaan yang kita hadapi merupakan cara Tuhan untuk menguji keimanan kita, bahkan pada batas tertentu akan menaikkan level manusia pada tingkatan yang lebih tinggi.

Tetaplah berprasangka baik pada takdir atau ketetapan Tuhan, karena sesungguhnya hanya sikap dan prasangka baik yang akan menolong kita dari kesedihan dan keluar dari kegelapan.

Perubahan tidak akan bisa kita hentikan, karena semua itu berjalan atas kehendakNya. Semoga kita diberi kekuatan lahir dan batin dalam menghadapi berbagai perubahan dan dampaknya. Seraya memohon kepada Allah agar selalu ada jalan dan kebaikkan untuk kita lalui bersama…Aamiin YRA….
Nasrun Minallah Wa Fathun Qarib

*Tulisan ini sebagai ungkapan reflektif dan kontemplatif penulis, sebagai nasehat untuk diri sendiri dan semoga bermanfaat bagi para Pembaca.

Sidoarum, 10 Mei 2020.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA