17 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Milenial Tani di Masa Pandemi

Pada tahun 2020 ini diprediksi merupakan tahun dimulainya bonus demografi di Indonesia. Generasi milenial yang menurut beberapa ahli merupakan mereka yang lahir di antara tahun 1980 hingga 2000, pada tahun ini sudah berada pada rentang usia 20 hingga 40 tahun. Usia tersebut merupakan usia produktif, yang akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pada saat bonus demografi ini terjadi, generasi milenial yang merupakan penduduk terbesar usia produktif memegang peranan penting dan menjadi modal utama dalam fenomena bonus demografi ini.

Potensi generasi milenial yang dapat dimaksimalkan tentu akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Selain itu, peran generasi milenial yang merata tanpa adanya kesenjangan gender juga akan mengoptimalkan manfaat dan potensi yang ada. Untuk memaksimalkan potensi generasi milenial tersebut perlu untuk memahami karakteristik yang dimiliki para milineal ini.

Dibandingkan generasi sebelumnya, generasi milenial memiliki karakter yang unik berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonominya. Salah satu ciri utama generasi milenial ialah ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Dengan adanya teknologi ini generasi milenial memiliki peluang dan kesempatan untuk berinovasi yang sangat luas.

bahwa penggunaan teknologilah yang membedakan antar generasi.

Banyak studi yang telah dilakukan mengenai hubungan antara generasi milenial dan teknologi. Di antaranya adalah sebuah studi yang dilakukan oleh Deal dkk (2010), yang menyebutkan bahwa penggunaan teknologilah yang membedakan antar generasi. Misalnya antara generasi milenial (generasi Y) dengan generasi X dan generasi baby boom. Deal dkk (2010) juga menyebutkan bahwa generasi milenial lebih banyak menggunakan teknologi disebabkan oleh usia terpapar dengan teknologi baru lebih muda usianya dibandingkan dengan generasi lain.

Dalam peran meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan merupakan tiga lapangan usaha yang menjadi konsentrasi penyerapan angkatan kerja Indonesia, baik generasi milenial, generasi X, maupun generasi baby boom dan veteran. Dari ketiga sektor tersebut, sektor pertanian menjadi lapangan usaha utama yang banyak menyerap tenaga kerja, namun dengan proporsi yang berbeda antara ketiga angkatan tersebut.

Dalam buku Statistik Gender Tematik: Profil Generasi Milenial Indonesia dituliskan bahwa pada 2017 generasi baby boom dan veteran masih menduduki posisi paling tinggi yang bekerja pada lapangan usaha pertanian dengan presentase 52,17%. Disusul generasi X sebesar 30,80% dan generasi milenial sebesar 21,95%.

Dari presentase di atas, tampak begitu jelas adanya penurunan minat generasi milenial terhadap bidang pertanian. Hal tersebut disebabkan generasi milineal lebih tertarik terhadap bidang perdagangan dan industri. Selain itu, rendahnya minat milenial dalam menggeluti bidang pertanian juga tidak lepas dari pandangan masyarakat bahwa tingkat keuntungan di bidang pertanian tergolong rendah.

Padahal, saat ini Indonesia memerlukan peran aktif generasi milenial yang aktif, kreatif, inovatif, dan menguasai teknologi pertanian. Guna menjadi agen perubahan di bidang pembangunan. Termasuk bidang pertanian, yang diharapkan mampu memetik bonus demografi yang lebih besar melalui penguatan bidang pertanian. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, dimana kondisi negara dapat dikatakan sedang tidak stabil. Peran generasi milenial dalam mengintegrasikan beberapa bidang (termasuk pertanian) dengan memanfaatkan teknologi tentu sangat diperlukan.

Hadirnya marketplace tersebut tentu akan sangat membantu petani dalam memasarkan hasil panennya.

Sejak adanya pandemi Covid-19 ini, telah terjadi perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat Indonesia yang hampir pada semua kegiatannya telah beralih ke sistem daring. Berkaca dari hal tersebut, para milenial dapat menyelaraskan minat mereka pada bidang perdagangan dan industri dengan bidang pertanian. Salah satunya dengan membuka marketplace yang menjual hasil pertanian. Hadirnya marketplace tersebut tentu akan sangat membantu petani dalam memasarkan hasil panennya dan membantu konsumen untuk lebih mudah berbelanja dari rumah.

Seperti dilansir dari detikcom (08/04/2020), dampak pandemi ini menyebabkan negara-negara pengekspor hasil pertanian banyak menahan hasil pertanian negaranya untuk diekspor. Di tengah kondisi ketidakpastian akibat pandemi seperti sekarang tentu menyebabkan masing-masing negara memilih menggunakan komoditasnya di dalam negeri mereka sendiri. Apabila tidak sigap, kondisi ini tentu akan menjadi ancaman bagi pemenuhan pangan untuk negara pengimpor hasil pertanian seperti Indonesia. Untuk itu pemenuhan suplai yang selama ini bergantung dari impor, pada masa ini harus dipenuhi dari hasil pertanian dalam negeri sendiri.

Kondisi pandemi Covid-19 ini dapat menjadi momentum besar bagi generasi milenial untuk terjun di bidang pertanian sebagai Mitani (milineal tani) dengan memanfaatkan teknologi digital. Kebutuhan pemenuhan suplai bahan pangan nasional dari dalam negeri dapat menjadi peluang besar bagi Mitani untuk masuk ke dalam budidaya pertanian. Mitani dapat memproduksi bahan pangan yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Selain itu, mereka juga bisa mendapatkan pangsa pasar yang besar, terlebih pada komoditas yang selama ini dipenuhi secara besar-besaran dari impor. Dengan begitu, melalui kemandirian milenial tani ini diharapkan nantinya akan mampu menstabilkan kembali kondisi negara setelah pandemi ini berakhir.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA