Ditulis oleh 9:16 am KALAM

Mobilisasi Intellektuil Nasional untuk Mengadakan Wajib Belajar

Barang siapa cakap membaca dan menulis, wajib mengajarkan membaca dan menulis pada siapapun juga, baik anak-anak maupun orang tua, laki-laki maupun perempuan. Tiap-tiap rumah harus menjadi perguruan; demikianlah semboyan kita.

Pengantar – Tentu suatu keberuntungan bertemu dengan karya tulis Ki Hadjar Dewantara, terlebih karya lama, yang ditulis pada tahun 1936, suatu masa dimana waktu persis proklamasi kemerdekaan belum lagi terbayang. Tulisan yang dimaksud berjudul:  Mobilisasi Intellektuil Nasional Untuk Mengadakan Wajib Belajar, dengan semboyan: Tiap-tiap Orang jadi Guru; Tiap-tiap Rumah jadi Perguruan! Redaksi ingin membagi rasa beruntung tersebut dengan menampilkan karya tulis Ki Hadjar Dewantara tersebut. Adapun sumber naskah adalah Buku Ki Hajar Dewantara, Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, (1961), yang diterbitkan oleh Penerbit Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST-Press) dan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. 

Tentu ada harapan dengan memuat kembali tulisan tersebut, yakni menjadikan tema yang diangkat Ki Hadjar Dewantara sebagai tantangan bersama dewasa ini. Tulisan Ki Hadjar Dewantara merupakan undangan bagi kaum cerdik pandai untuk menyumbangkan ilmu yang dimilikinya, untuk menjadi bagian dalam pembangunan bangsa, khususnya untuk mengahdirkan apa yang disebut dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga pikiran Ki Hadjar Dewantara menggugah kesadaran bersama, sedemikian sehingga mampu “mengundang sekalian kaum terpelajar untuk turut melenyapkan buta-huruf, agar tiap-tiap orang kelak akan dapat pengajaran karena tiap-tiap rumah menjadi perguruan dan tiap-tiap orang pandai menjadi pengajar“. Demikian.

Mobilisasi Intellektuil Nasional untuk Mengadakan Wajib Belajar
Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan

Semboyan: Tiap-tiap Orang Jadi Guru
Tiap-tiap Rumah Jadi Perguruan!

I. Pendahuluan

Saya pernah menganjurkan akan adanya “mobilisasi intellektuil nasional”, dengan mengundang segenap kaum terpelajar, untuk memberi tenaganya guna mengadakan “wajib belajar” sendiri. Maksudnya yaitu: jangan sampai kita melihat saudara kita sebangsa disekeliling kita masih buta-huruf. Barang siapa cakap membaca dan menulis, wajib mengajarkan membaca dan menulis pada siapapun juga, baik anak-anak maupun orang tua, laki-laki maupun perempuan. Tiap-tiap rumah harus menjadi perguruan; demikianlah semboyan kita.

Anjuran itu sekarang akan kita langsungkan dengan memakai majalah kita “Keluarga” serta “Keluarga Putera”nya. Yaitu didalam majalah kita “Keluarga” ini, akan kita muatkan “cara-caranya mengajar, sedangkan didalam “Keluarga Putera” akan termuatlah pelajaran-pelajaran yang perlu-perlu sebagai contoh. Semua ini “K.P” yang tercetak dengan huruf besar dan tebal, itulah yang kita pakai sebagai pelajaran (latihan membaca). Dibawah ini sekadar keterangan tentang azas-azas dan dasar-dasarnya menthode kita, juga tentang caranya mengajar membaca permulaan.

II. Azas Kulturil dan Sosial

  1. “Metode-Keluarga” yaitu laku pengajaran, yang karena praktisnya, mudah dilakukan oleh tiap-tiap orang yang sudah pandai membaca, untuk dipakai bagi tiap-tiap orang didalam keluarga. Maksud methode ini ialah mengundang sekalian kaum terpelajar untuk turut melenyapkan buta-huruf, agar tiap-tiap orang kelak akan dapat pengajaran karena tiap-tiap rumah menjadi perguruan dan tiap-tiap orang pandai menjadi pengajar. (Mobilisasi intellektuil nasional dalam melaksanakan wajib belajar bagi rakyat, untuk memberantas butu huruf dengan semboyan : tiap rumah menjadi perguruan, tiap intellektuil jadi guru).
  2. “Methode-Keluarga” itu adalah methode nasional, karena pada zaman dahulu laku pengajaran itulah yang terpakai umum dan ternyata dapat mencepatkan pengajaran membaca dan menulis, hingga didaerah kerajaan Jawa (Yogyakarta dan Surakarta) mulai dahulu hingga sekarang tidak begitu banyaklah adanya “an-alfabeten” (buta huruf) dibanding dengan daerah-daerah lainnya, terbawa dari masih berlakunya pengajaran membaca permulaan menurut “methode nasional” itu.
  3. Dimana hingga sekarang belum diseluruh tempat ada perguruan atau sekolahan, maka perlulah “methode-keluarga” itu dilakukan untuk tambahan; dalam mengadakan wajib belajar bagi rakyat itu wajiblah tiap-tiap orang pandai, teristimewa segenap pemuda (yang masih bersemangat sosial dengan berkobar-kobar) turut membantu sekuat-kuatnya, baik dengan harta maupun dengan tenaga; sedangkan tiap-tiap perguruan berdiri selaku pusat-pekerjaan sosial itu.

III. Dasar-dasar Methode

  1. Laku-pengajaran atau “methode” tersebut ialah methode yang berdasarkan pada sifat dan tabiat jiwa manusia, yang menurut ilmu cara barat dinamakan “Globaliteits-methode” oleh karena didasarkan pada “Globaliteits-psychologie” (globaliteit atau totaliteit berarti: keadaan yang utuh, bulat, tidak terpecah-belah).
  2. Globaliteitspsychologie mengajarkan, bahwa jiwa manusia itu adalah keadaan yang bersifat bulat, dalam mana bagian-bagian jiwa (angan-angan, rasa, kemauan dan lain-lain tidak berdiri sendiri-sendiri dan berpisah-pisah, akan tetapi menjadi satu bulatan yang sempurna; jadi berlainan dengan pemandangan secara dahulu, yang selalu atau teristimewa memang jiwa itu sebagai jumlahnya bagian-bagiannya (analytis).
  3. Dasar yang pertama dari “globaliteitspsychologie” yaitu mengajarkan, bahwa jumlahnya semua bagian itu belum dapat menyamai utuhnya benda.
  4. Dasar ke-2 mengajarkan, bahwa kebulatan jiwa itu menyebabkan manusia itu (teristimewa kanak-kanak yang belum mempunyai kecerdasan) selalu memandang dan menghendaki pemandangan serta memasukkan segala keadaan kedalam jiwanya itu, bukanlah bagian-bagiannya, akan tetapi utuhnya barang atau keadaan.
  5. Sesudah keutuhannya itu masuk kedalam jiwa, baharulah jiwa meminta pandangan dari bagian-bagiannya (analisa); dalam pandangan kanak-kanak, bagian yang menarik perhatian itu, dengan sendiri akan menariknya, dalam hal mana jiwa kanak-kanak akan memilih sendiri.
  6. Dengan jalan begitulah terjadi sendiri susunan alam, yang lambat laun menjadi luas dan masing-masingnya alam bersifat sempurna (konsentris); hubungan-hubungan antara alam-alam itu selalu bersifat terusan (kontinu, tidak terputus-putus) dan konvergen (menuju kearah satu, induktif, yakni garis-garis kecil selalu menuju kegaris yang umum) ; yang jadi permulaan dan pusat ialah alamnya sendiri (Heimat).
  7. Tabiat “global” yang murni itu terdapat dalam jiwa kanak-kanak dalam windu ke-1: windu ke-2 mulai selektif (menggerombolkan daerah-daerah yang sejenis, symbiotis); baru akhirnya windu ke-2 itulah datangnya waktu jiwa memilih analytis (memisah-misahkan).

“Keluarga” Desember 1936 – Th. 1 no. 2

Sumber Tulisan dan Foto: Buku Ki Hajar Dewantara, Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, (1961). Penerbit Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST-Press) dan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, yang merupakan kenang-kenangan dari Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Bapak Drs. Pardimin, M.Pd., Ph.D untuk Yayasan AR. Baswedan.

(Visited 108 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 1 Mei 2020
Close