Ditulis oleh 3:10 pm KABAR

Motivasi Cara Menjemput Rezeki

Banyak manusia mengeluh dan menderita karena merasa tak punya rezeki. Itu sebenarnya salah persepsi dan salah cara mencari rezeki.

Pembelajaran Dari Sarang Laba-laba di Kolong RANJANG

Lepas tengah malam pikiranku terusik oleh suara dengung serangga yang meronta-ronta. Kuambil lampu senter dan kucari sumber suara. Tampaklah di kolong ranjang, seekor lalat yang terjebak di sarang laba-laba.

Lalat meronta, tetapi gagal melepaskan diri. Laba-laba kecil tak membiarkan mangsanya terlepas. Lalat yang sedang bernasib naas digulung dengan belenggu benang yang menjadikannya tak berkutik.

Aku merenung. Pembelajaran kehidupan luar biasa. Bukti nyata bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki kepada setiap makhluk ciptaannya.

Berikut hikmah sebagai bahan renungan

Jika dinalar dengan akal, mestinya laba-laba pesimis memasang jaringnya di tempat tersembunyi di kolong ranjang. Tempat itu sepi “lalu lintas” serangga bersayap yang akan lewat.
Pokoknya si laba-laba pasti stres deh, jika sadar tempatnya memasang jaring tidak strategis.

Tapi Allah Maha Penjamin Rezeki. Malam mestinya waktu istirahat bagi lalat. Eh…., kenapa keluyuran, bahkan blusukan di kolong ranjang?

Oo, ternyata si lalat digerakkan oleh Allah agar tersesat ke kolong dan menabrak jaring perangkap.

Nah, ini yang lebih penting. Pelajaran berharga yang dapat kita petik dalam mencari rezeki.

Laba-laba dijamin rezekinya oleh Allah karena dia mampu bersikap Sasyuik. Dia sabar, yakni menahan diri untuk tidak tergesa-gesa ingin segera makan. Ia harus bersabar jaring yang dipasang tidak langsung menangkap mangsa. Ia tetap bersyukur bahwa ikhtiar telah dilakukan. Ia juga ikhlas, legawa, tidak keburu nafsu.

Berkat sabar syukur ikhlas (sasyuik) menanti, akhirnya tiba saatnya pembagian rezeki. Akhirnya lalat yang dikenal sebagai penerbang cepat di udara, ditakdirkan menjadi rezeki laba-laba.

Subhanallah. Pembelajaran kehidupan yang luar biasa. Jika laba-laba yang di kolong ranjang saja dicukupkan rezekinya oleh Allah, apalagi manusia yang dibekali akal. Pastilah rezekinya dicukupkan oleh Allah.

Tapi faktanya, banyak manusia mengeluh dan menderita karena merasa tak punya rezeki. Itu sebenarnya salah persepsi dan salah cara mencari rezeki.

Sikap PUSING PAM (Putus asa, Ingkar nikmat, Pamrih/Nafsu) menjadi penyebab utama seseorang menderita gara-gara tidak Sasyuik menanti tiba waktunya pembagian rezeki.

Menderita karena kesempitan rezeki disebabkan belum bisa membedakan antara KEINGINAN dengan KEBUTUHAN.

Allah menjamin mencukupi KEBUTUHAN hamba-Nya, tetapi belum tentu mengabulkan KEINGINAN manusia.

Kebutuhan adalah sesuatu yang wajib tersedia untuk kelangsungan kehidupan. Sedangkan keinginan adalah dorongan hawa nafsu manusia. Jika Allah belum mengabulkan doa hamba-Nya, bisa jadi yang diminta itu masih sebatas keinginan dan belum menjadi kebutuhan.

Faktanya, manusia menderita bukan karena tidak tercukupi KEBUTUHANNYA, melainkan tidak mampu melepaskan diri dari belenggu nafsu yang bernama KEINGINAN.

Lagian yang perlu diluruskan adalah kesalahan anggapan umum bahwa yang dianggap rezeki adalah uang, harta dan benda.

Padahal bukan begitu. Rezeki adalah semua nikmat Allah dan bermanfaat dalam kehidupan pada hakikatnya adalah rezeki. Nikmat iman dan takwa adalah rezeki bernilai tertinggi. Kesehatan juga termasuk rezeki tak ternilai. Mendapatkan ilmu dan teman baik juga rezeki.

Makanya apabila berdoa memohon diberikan rezeki harta, tapi yang datang adalah ilmu agama agar lebih bertakwa, itulah rezeki yang dibutuhkan saat itu, agar dengan rezeki tersebut bermanfaat untuk keselamatan dunia akhirat.

Selamat menjemput rezeki ibadah puasa.

Salam Sasyuik

(Visited 653 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 11 Mei 2020
Close